Jumat, 29 November 2013

Salam dari Eyang

Siang tadi, ketika jam istirahat berlangsung ada sebuah pesan masuk ke HP dari adik kelas di kampus yang sama-sama berasal dari Ponorogo, namanya Rahma.

R : "Mbaaaaak..Mbak Titis, dapet salam dari Eyang yang rumahanya Jalan Palem, suaminya dosen senior, rektor UNTIRTA. Namanya Bu Abdul kalau nggak salah. Kenal kan Mbak?"

Saya terdiam, tidak langsung membalas. Eyang yang mana? Jalan Palem di mana ya? berhubung saya sering main ke sana-sini, barangkali ini Neneknya teman yang sering saya kunjungi. Saya coba ingat-ingat nama Ibu Kost sejak zaman SMA dulu, tapi sepertinya tidak ada yang istrinya rektor. Nah, akhirnya saya tahu yang dimaksud Rahma adalah Ibu Kost teman saya Wulan dan Nur di perumahan dosen IPB. Kemudian percakapan berlanjut:


T : "Iya kenal Ma, ketemu di mana?"
R : "Tadi di tempat cetak foto. Dia cerita Mbak, temen-temen Mbak sampai matanya berkaca-kaca. Kangen katanya Mbak.."
T : "Ya ampun, aku terakhir kali ketemu pas wisuda. Belum pernah ke sana lagi."

R : "Eyang sendiri ya Mbak, suaminya udah meninggal?"
T : "Udah lama meninggalnya Ma, anaknya udah berumah tangga semua jadi nyebar. Ada anak kost yang nemenin, tapi sekarang nggak tahu siapa. Eh bentar, kamu baru ketemu Eyang, terus langsung ngobrol banyak gitu?"
R : "Iya Mbak, hehe.. Lagi sama-sama nunggu cetak foto terus Eyang ngajak ngobrol"
T : "Ya ampun, Eyang sendiri itu Ma? Beliau kesepian ya, sampai ngajak ngobrol orang gitu"
R : "Iya lho Mbak, terus tadi nitip salam ke Mbak disuruh main. Aku juga disuruh dateng..hehehe"
T : "Insya Allah ya Ma, nanti kalau ke Darmaga lagi"

Rumah Eyang terletak di dalam kampus, dengan halaman hijau penuh rumput berpagar tanaman. Temboknya dari bebatuan berlantai ubin khas rumah yang konon bergaya arsitektur Belanda. Sejak suaminya meninggal, Eyang tinggal sendiri di rumah bersama seorang pembantu kepercayaan yang datang sejak pagi lalu pulang sore harinya. Anak-anak Eyang sudah menjadi orang besar, kebanyakan mengikuti jejak ayahnya sebagai Dosen. Mereka tinggal menyebar di Bogor dan Jakarta. Sesekali mereka datang berkunjung, namun lebih sering Eyang keliling ke rumah anak-anaknya melihat cucunya yang sudah tumbuh dewasa, sepantaran dengan saya.
Awalnya saya iseng main ke rumah Eyang karena Wulan dan Nur kost di sana. Rumah Eyang yang asri dan tenang selalu membuat saya betah. Teman-teman sering berkumpul di sana. Semua teman-teman anak kost di sana kenal baik dengan Eyang. Apalagi mahasiswa Kedokteran Hewan yang sering mengerjakan tugas bersama Wulan. Dulu kalau ada tugas ke kandang saya sering istirahat ke tempat Eyang bahkan menginap di kamar Nur. Biasanya kami akan masak bersama, uji coba resep masakan yang kemudian jadi aneh rasanya namun tetap habis disantap. Saya ingat pernah menghabiskan liburan Idhul Adha dan Malam Akhir Tahun di rumah Eyang.
Seringkali duduk santai ngobrol dengan Eyang tentang problematika remaja. Eyang sering memberi petuah melalui cerita-ceritanya ketika masih belia. Rasanya seperti mengobati rasa kangen ngobrol dengan Si Mbah yang meninggal. Mbah saya suka cerita soal wayang dan kondisi ketika zaman perang, sementara Eyang berbagi pengalamannya ketika jalan-jalan keliling dunia bersama suaminya dulu. Si Mbah membekali saya dengan sejarah, sedangkan Eyang memberi saya motivasi untuk melihat dunia.

Semoga dalam hari-harinya Eyang tidak pernah merasa sepi lagi, maaf Eyang belum bisa datang menyambung silaturahmi.

Salam Hangat




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas komentarnya