Selasa, 19 November 2013

Nostalgia Kampus

Setahun lebih setelah melewati prosesi wisuda di kampus, akhirnya saya punya kesempatan untuk kembali mengunjungi Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor. Sengaja saya datang membuat janji dengan dua dosen pembimbing akademik, Dekan Fakultas yaitu Pak Luki Abdullah dan ahli fisiologi nutrisi Prof. Dewi Apri Astuti. Pak Luki meminta saya datang ke dekanat setelah jam makan siang. Saya bertemu dengan sekretaris beliau yang sudah hafal dengan wajah saya, namanya Bu Cici. Ketika masih di kampus dulu, Bu Cici yang rajin menemani saya menunggu Bapak sebelum jadwal bimbingan, beliau juga tahu celah saat Bapak bisa diganggu atau tidak sehingga konsultasi berjalan lancar. 
Pak Luki sudah di ruangan ketika saya tiba. Biasanya beliau akan menengok sebentar ke lobi dekanat baru mempersilahkan tamunya masuk. Saya kembali menunggu di ruangan yang sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Ketika beliau menengok keluar, saya langsung diajak masuk dan diberondong banyak pertanyaan.
L : "Sudah lama Tis? Sendiri? Dari mana? Tidak masuk kerja?"
T : "Baru datang Pak, hari ini dapat izin dari Pak Bos setelah saya cerita mau mengurus berkas-berkas pendaftaran S2 ke kampus"
L : "Bosmu tahu?"
T : "Iya Pak, malah saya juga sering konsultasi dengan beliau"
L : "Bagaimana kabarnya? Lama ya tidak bertemu?"
T : "Rasanya baru Idul Fitri kemarin saya ke rumah Bapak. Saya alhamdulillah sehat, Bapak bagaimana? sedang sibuk Pak?"
L : "Ah, enggak, jadwal saya sudah kosong. Sengaja nunggu kamu, ayo duduk!"
Ada yang berubah dengan dekorasi ruangan Pak Luki. Meja kerja beliau dipindah ke ruangan yang dulu digunakan untuk Ruang Diskusi Dekanat. Di bagian depan Ruang Dekan didesain untuk sofa tamu dan meja bundar untuk rapat. Begitu duduk, saya tertegun dengan wadah kaca yang tertata rapi di sana, bukan tempat kudapan untuk tamunya melainkan pellet Indigofera sp. salah satu bahan penelitian kami. Ada juga botol yang berisi tepung daun dan pupuk cair dari tanaman yang sama.
T : "Pak, ini pelletnya?"
L : "Iya, hasil karyamu itu"
T : "Sekarang ada merknya ya Pak, jadi produk IPB punya."
L : "Iya donk, sudah saatnya dinikmati khalayak luas. Mesinnya kita sudah punya, pasarnya mulai berkembang, peternak sudah tahu, jadi Indigofera sekarang terkenal"

IndefeedPB : Pellet Pakan Ternak dari 100% Indigofera sp.

Dua jam yang berarti di ruangan Pak Dekan, saya melanjutkan konsultasi dengan Bu Dewi yang sudah menunggu di rumahnya. Tidak jauh dari topik sebelumnya, kami pun bernostalgia seputar masa penelitian dulu.
D : "Gimana sekarang Tis? Kerja? Mau lanjut kuliah?"
T : "Insya Allah tahun depan Bu, mohon doanya"
D : "Ya, mumpung masih muda. Nanti resign kalau berangkat S2?"
T : "Iya Bu, tapi Pak Bos sudah paham. Sejak awal saya komunikasikan dengan beliau."
D : "Intinya semua hubungan harus tetap baik. Ini pengalaman Ibu, yang membuat kita nyaman itu ternyata teman-teman, relasi, lingkungan dalam arti orang-orang di sekitar kita."
T : "Insya Allah Bu. Ibu masih membimbing banyak mahasiswa? Pasien masih sering antre di depan ruangan ya Bu?hehehe"
D : "Wualah, Ibumu ini sekarang makin banyak tawaran. Primata lah, ayam petelur lah, kambing perah lah, sapi tapi dikit, ya dijalanin aja. Namanya bukan orang struktural. Kalau dari pangkat sebenernya udah mentok, lha mau apa lagi? Tapi insya Allah tiap tahun minimal sekali ke seminar internasional"
T : "Masih tentang kambing perah Bu?"
D : "Iya, ini ada undangan dari Cyprus. Itu Ibu baru aja denger nama negaranya, hehehe"
T : "Masih terus mempopulerkan kambing perah Bu? Tadi Pak Luki juga cerita kalau aplikasi Indigofera juga sedang besar-besarnya untuk kambing perah. Penelitian terbarunya untuk ayam petelur ya Bu?"
D : "Iya Tis, tahun depan ada International Conference of Dairy Goat yang diorganisir FAPET IPB."
T : "Melanjutkan acara pertama di Malaysia dua tahun lalu itu Bu?"
D : "Betul, sekarang sudah ada asosiasinya. Baik peternak lokal maupun jaringan internasionalnya lho.."
T : "Sepertinya perlu lebih kuat lagi strategi pemasarannya Bu"
D : "Nah, sekarang ini coba Titis yang susun. Sebagai orang industri susu, kira-kira bagaimana peluang perkembangan susu kambing ini? Pasar pasti ada, saya yakin"
T : "Susu kambing itu lebih ke arah functional food Bu. Pasarnya khusus, lebih ke arah premium menurut saya. Bukan seperti juice, isotonic, atau minuman ringan lainnya. Main stream di masyarakat adalah minuman kesehatan. Nah, ada anggapan kalau susu kambing itu bau, jadi perlu ada kampanye dan aktivasi besar-besaran untuk mempromosikan manfaat susu kambing."

Pembicaraan masih berlanjut sampai larut. Lagi-lagi saya diberi tugas oleh pembimbing. Topik terakhir yang saya diskusikan dengan Bu Dewi berlanjut dengan ajakan untuk sama-sama mengembangkan potensi susu kambing. Tujuan besarnya tentu meningkatkan taraf hidup peternak kambing perah karena meningkatnya permintaan pasar. Saya masih ingin bekerja untuk mereka, bersama mereka, berbekal ilmu dalam berbagai bidang yang terus didalami.

3 komentar:

  1. Bagus ya pellet Indigoferanya..

    BalasHapus
  2. Mbak, apakah indigofera tinctoria, yang biasa untuk membuat pewarna alami biru indigo, bisa juga dipakai untuk pakan ruminansia?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, bisa juga untuk pakan ternak. Kalau ada yang mau ditanyakan lebih lanjut silahkan email ke tis.apdini@gmail.com barangkali saya bisa bantu. Terima kasih.

      Hapus

Terima kasih atas komentarnya