Senin, 11 November 2013

Hari Pahlawan dan Cita-Cita

Banyak cara memperingati Hari Pahlawan yang jatuh setiap tanggal 10 November. Masih ingat upacara bendera dan agenda mengheningkan cipta untuk mengenang jasa para pahlawan ketika sekolah dulu. Tadinya saya ingin mengikuti Aksi Bersih Jakarta bersama suatu komunitas di beberapa titik, namun seperti hari Minggu sebelumnya saya mengisi agenda pagi ke Rumah Baca Manca di Bekasi. Relawan Manca ini bertugas mengajar adik-adik yang datang ke Rumah Baca. Kami mengemasnya dengan metode fun learning dan tema tertentu setiap bulannya.
Setelah mengajak mereka bermain, saya (T) ngobrol dengan adik-adik yang masih duduk di kelas 4 dan 5 SD. Mereka adalah Anisa (A), Leni (L), Hani (H), dan Nisa (N).
T : "Ada yang tahu ini hari apa?"
A, L, N : "Hari Minggu!" menjawab serempak penuh semangat
T : "Tanggal berapa sekarang?"
H : "Ini Hari Pahlawan Kak, 10 November"
T : "Wah, ada yang ingat. Ayo sebutkan pahlawan Indonesia!"
L : "Soekarno, Hatta"
H : "W. R. Supratman"
A : "Itu, yang judul lagu Kak"
N : "Aku tahu, Ibu Kartini"
A : "Iyaaaa.."
T : "Bisa nyanyi Ibu Kita Kartini?"

Kemudian mereka menyanyi nyaring:
Ibu Kita Kartini
Putri sejati
Putri Indonesia
Harum namanya
Ibu Kita Kartini
Pendekar Bangsa
Pendekar kaumnya
Untuk negara
Wahai Ibu Kita Kartini
Putri yang mulia
Sungguh besar cita-citanya
Bagi Indonesia

T : "Ada yang tahu cerita Ibu Kartini kenapa beliau disebut pahlawan?"
Semuanya menggeleng, terdiam, saling pandang-pandangan berpikir.
L : "Ih, Pak Ridwan sudah pernah cerita di sekolah Kak, tapi lupa.."
T : "Coba tadi lagunya diingat-ingat, sambil kakak cerita. 'Ibu Kita Kartini, Pendekar Kaumnya' yang dimaksud kaumnya di sini para perempuan Indonesia. Zaman dulu, anak perempuan seperti kita tidak bisa sekolah tinggi. Kalimat terakhirnya 'sungguh besar cita-citanya bagi Indonesia' adalah harapan Ibu Kartini supaya perempuan bisa sekolah seperti laki-laki"
L : "Ha?terus kalau nggak sekolah nggak pinter donk Kak?"
T : "Iya, makanya Ibu Kartini mau supaya semua anak-anak Indonesia lelaki dan perempuan bisa sekolah supaya pintar dan jadi orang hebat nanti. Adik-adik pengen jadi apa kalau udah gede?"
L : "Aku mau jadi dokter atau tentara Kak"
T : "Leni jadi dokternya tentara aja kalau gitu?"
L : "Eh, mau jadi dokter aja Kak, biar bisa nyembuhin mamaku"
T : "Mama Leni sakit?"
L : "Iya Kak, sakit paru-paru. Tapi kakak jangan bilang-bilang ya?"
T : "Sip, semoga cepet sembuh ya. Nisa mau jadi apa?"
N : "Dokter juga, eh mau jadi polisi aja Kak"
T : "Ayah kakak juga polisi. Nisa yang rajin minum susu biar tinggi dan sehat nanti"
N : "Iya Kak"
A : "Kakak, aku mau jadi guru SD"
T : "Wah, Anisa mau ngajar apa?"
A : "IPA Kak"
T : "Seru itu Anisa, kalau Hani gimana?"
H : "Mau jadi fotografer Kak"
T : "Hani jago motret donk!"
L : "Iya Kak, dia foto-foto pakai HP-nya. Foto bunga, terus itu rumahnya, bagus deh Kak"
T : "Nanti Kakak minta difotoin ya Hani?"
H : "Boleh Kak, hehehe"
T : "Hani nanti beli kamera yang canggih itu"
H : "Iya Kak, mau nabung dulu"

Pembicaraan ditutup ketika kami mendengar adzan Dzuhur, tandanya mereka harus pulang ke rumah masing-masing untuk makan siang. Adik-adik berpamitan dan kami berjanji akan bertemu lagi minggu depan. Pembicaraan tadi seperti doa, semoga Tuhan memeluk cita-cita mereka dan menjaganya untuk bisa diwujudkan kelak. Terima kasih Pahlawan Indonesia, telah menjadi teladan bagi generasi muda. Tugas kami berikutnya melanjutkan apa yang telah diperjuangkan.

2 komentar:

Terima kasih atas komentarnya