Selasa, 22 Oktober 2013

Pertemuan Acak

Pada waktu yang tidak terduga, tempat yang tidak terencana, orang yang tidak terkira, tiba-tiba pertemuan yang selama ini bahkan belum pernah kita bayangkan bisa saja terjadi. Begitu nyata dan tiba-tiba, seperti beberapa cerita yang saya alami berikut:

Juli, 2008
Stasiun Pasar Senen, Jakarta
Libur akhir tahun ajaran telah dimulai. Saya berencana mudik dengan budget super murah bersama Nizar dan Rendra, teman sekampung halaman. Kami naik kereta ekonomi yang pada waktu itu tiketnya seharga Rp 37.000,- dari Jakarta ke Madiun. Sayangnya kami bertiga sama-sama tidak kebagian tempat duduk. Kereta yang penuh sesak karena musim liburan tiba membuat kami harus duduk lesehan di jalanan gerbong. Pilihan lainnya dalah duduk di sambungan gerbong, tapi karena dekat WC kami memilih alternatif pertama. Saking banyaknya yang tidak dapat kursi, akhrinya jalanan di tengah gerbong yang biasanya dilewati pedangang asongan penuh penumpang yang duduk lesehan.
Nizar terlihat berbincang dengan gerombolan penumpang yang duduk tidak jauh dengan kami. Saya pikir hanya kenalan biasa, sampai saat Nizar menengok saya dan mengenalkan rekan barunya itu. Usut punya usut, cowok itu langsung mengenali saya sebagai kakak kelasnya di SMP. Barulah saya dan Nizar sadar kalau dia ternyata adik kelas kami yang sama-sama dari Ponorogo. Namanya Yusuf, yang juga aktif sebagai pengurus OSIS ketika kami sama-sama masih di SMP 1 Ponorogo. Kami tidak lagi mendengar kabarnya, ternyata belum banyak yang tahu kalau Yusuf melanjutkan ke Universitas Indonesia setelah tamat SMA.

Juli, 2010
Bandara Ngurah Rai, Denpasar, Bali
Bersama teman-teman delegasi untuk Pekan Ilmiah Nasional (PIMNAS), saya menunggu pesawat yang akan membawa kami kembali ke Jakarta. Ketika memasuki ruang tunggu, ada 2 orang bule dengan backpack besar dan papan seluncur yang duduk beberapa deret di depan bangku saya. Setelah diamat-amati, sepertinya saya kenal 2 pemuda itu. Mereka bukan selebritis, melainkan anggota organisasi internasional yang saya ikuti. Namanya Miguel, kami bertemu di Mexico setahun sebelumnya.
Langsung saja saya menyapa Miguel yang juga mengenali saya namun lupa nama. Teman Miguel bernama Anthonio sama-sama berasal dari Portugal, kami belum pernah bertemu sebelumnya. Mereka berdua sedang menunggu pesawat ke Bandung untuk mengikuti kongres tahunan yang juga akan diselenggarakan di universitas saya setelah itu. Kami bertemu lagi di Bogor dua minggu kemudian dan menyambung cerita liburan mereka ke Lombok dan Bali.

Oktober, 2010
Balai Kartini, Jakarta
Ada pameran perguruan tinggi dari Eropa terbesar yang diselenggarakan tahunan saat itu. Bersama teman-teman sekampus saya pergi ke Jakarta untuk mencari-cari peluang sekolah di luar negeri. Setelah berputar-putar di pameran, saya menangkap sesosok yang dikenal meski tidak yakin. Sampai ketika kami benar-benar berhadapan dan saling memanggil nama orang yang ada di depan masing-masing. Saya berteriak "Kancil!" begitulah dia akrab disapa meski nama aslinya Wachid. Dia teman saya satu SMP yang kuliah di Universitas Indonesia.
Setelah lulus SMP saya hanya sesekali bertemu Kancil karena kami berbeda SMA. Berhubung Kancil menjabat Ketua OSIS SMA-nya dan ada beberapa acara gabungan, saya masih sering bertemu dia. Lucunya, selama masuk kuliah, meski kampus kami berdekatan kami justru tidak pernah bertemu. Antara kaget bercampur senang bisa bertemu dengan teman lama dan saling bertukar kabar.

Desember, 2011
Charles de Gaule Airport, Paris
Pesawat yang membawa saya ke Ljubljana, Slovenia untuk mengikuti acara Director Meeting terpaksa ditunda keberangkatannya karena badai salju. Selama berjam-jam saya mati gaya menunggu pesawat take off. Setelah berhasil mendarat ke bandara, saya sudah ketinggalan shuttle bus untuk menuju pusat kota. Kemudian ada mini bus yang menawarkan diri untuk mengantar kami ke central station dengan mematok harga sedikit lebih mahal dari ongkos bus. Saya duduk di samping gadis berambut cokelat keriting sepanjang punggung. Dia memakai jaket kulit dan membawa koper kecil, melangkah dengan blue skinny jeans dan boot senada dengan warna jaketnya. Saya ingat gadis itu naik pesawat yang sama dengan saya dari Paris. Dia antre tepat di depan saya ketika menunjukkan boarding pass sebelum masuk pesawat.
Begitu tiba di meeting point, kami sama-sama terkejut karena ternyata acara yang akan diikuti sama. Kami sama-sama anggota IAAS, organisasi yang saya ikuti selama di bangku kuliah. Namanya Dorien, ketua IAAS Belgium. Sejak pertemuan itu kami berteman akrab selama acara berlangsung bahkan masih bertukar kabar sampai sekarang. Saya juga sempat mengunjungi Dorien di kotanya beberapa bulan setelah itu.

Januari, 2012
Antwerp Central Station, Belgia
Saya dan Andreas, teman sekampus yang juga mengikuti program pertukaran pelajar dari Erasmus Mundus sedang jalan-jalan ke Belanda dan Belgia. Kami sudah berjanji akan bertemu Mbak Rany yang juga menerima beasiswa dari institusi yang sama di Ghent University. Berhubung Mbak Rany sedang menghabiskan akhir pekan di Antwerp jadi kami janjian bertemu di sana. Sayangnya pertemuan kami berlangsung singkat karena Mbak Rany ada acara pengajian dan harus mengejar kereta menuju Leuven. Meski tujuan kami sama, namun saya dan Andreas memilih berangkat lebih siang karena ingin jalan-jalan dulu di sekitar stasiun Antwerp.
Beberapa menit sebelum kereta berangkat, kami menuju gerbong kereta yang sudah menunggu. Ternyata Mbak Rany tidak jadi naik kereta yang berangkat duluan, akhirnya kami berangkat ke Leuven bersama. Mbak Rany pergi bersama rekannya yang setelah dikenalkan ternyata Dosen di universitas saya. Namanya Bu Utami, siapa yang sangka bisa bertemu senior se-almamater setelah berjalan sejauh ini. Sepulang dari Leuven kami sepakat untuk bertemu lagi di flat Bu Utami dan dijamu masakan ala Indonesia yang dirindukan selama tinggal di Eropa.

Oktober, 2013
Menteng, Jakarta
Sore yang mendung di Ibu Kota, saya masih berkeliling di sekitar kedutaan negara-negara ASEAN di wilayah Menteng untuk menyelesaikan beberapa urusan kantor. Berhubung area parkir di kedutaan terbatas untuk tamu, akhirnya mobil kantor parkir di depan gedung KPU. Setengah tidak percaya ketika melihat seorang pemuda yang saya kenal karena berasal dari kota yang tidak jauh dari tempat lahir saya dan mengambil kuliah di kampus yang sama. Awalnya saya ragu untuk menyapa, barangkali dia sudah lupa karena kami tidak terlalu akrab.
Karena sudah saling lihat, akhirnya saya panggil juga namanya "Galvan!"
Kemudian dia menjawab "Hei, arek Ponorogo! Kamu ngapain di sini Tis?"
Galvan tahu kalau saya bekerja mobile antara Bogor dan Jakarta. Lalu saya jelaskan secara singkat apa tujuan saya ke sana. Galvan pun menjawab pertanyaan yang sama dari saya, ternyata sekarang dia berprofesi sebagai wartawan di sebuah majalah nasional yang saya tahu seleksinya tidak mudah. Kami berbincang sejenak sebelum dia kembali ke dalam gedung KPU untuk melanjutkan tugas.

Ya, cerita tadi hanya beberapa. Banyak sekali cerita kebetulan yang saya alami. Bukankah ini bukti kalau di balik semua kejadian ada Sang Maha Besar yang telah mengatur setiap peristiwa dalam kehidupan kita? Kejutan dari Tuhan memang indah.

2 komentar:

  1. tiiiisss cerita kita ketemu di busway nggak dimasukin??? wkwkwkwk

    BalasHapus

Terima kasih atas komentarnya