Senin, 21 Oktober 2013

Kondangan dan Jalan-jalan ke Cirebon

Perjalanan kali ini lain dari biasanya, bukan sekedar meliburkan diri dari penatnya Ibu Kota, namun juga ingin merasakan atmosfer kebahagian teman sejurusan yang mengikat janji suci pernikahan. Pasangan yang keduanya adalah teman sekelas saya itu bernama Yasir dan Dewi. Akad nikah dan resepsi berlangsung di Gedung Seba Guna PG Rajawali, Karangsembung, Cirebon. Beberapa minggu sebelumnya saya mengumpulkan pasukan untuk berangkat menuju kota yang terletak di wilayah pantai utara Pulau Jawa itu. Akhirnya rombongan yang berangkat kali ini adalah Awi, Faris, Fatmi, Lani dan, Intan. Ayah Fatmi yang baik mempercayakan mobilnya untuk kami bawa, sehingga ongkos sewa kendaraan pun semakin irit. Rencana awal menginap semalam di Cirebon harus diubah karena memikirkan efisiensi waktu.
Sementara itu, Sawar, sahabat kami yang kebetulan ditempatkan di Cirebon telah mengatur tempat singgah bagi kami untuk melepas penat sejenak sebelum menghadiri resepsi. Kami tiba tepat saat adzan Subuh berkumandang. Tempat pertama yang kami tuju adalah Masjid Raya At-Taqwa di pusat kota Cirebon. Tidak hanya menunaikan sholat, kami juga membersihkan diri serta melakukan peregangan. Kost Sarwar terletak di Mundu, masih belasan kilometer dari pusat kota. Sesampainya di sana, kami tidak menyangka Ibu Kost yang kami tumpangi telah menyiapkan sarapan.
Subuh di Masjid At-Taqwa, Cirebon

Resepsi Pernikahan Yasir & Dewi
Misi pertama untuk menyerahkan "Piala Bergilir ANTRAK 44" telah dilaksanakan. Plakat sederhana berbentuk rumah dengan tulisan "Cerita Cinta Sepanjang Masa" dan ditujukan untuk mereka yang mengakhiri masa lajang akhirnya muncul setelah melalui perundingan melalui grup kelas. Yasir dan Dewi memang sudah dekat sejak masih kuliah dulu. Secara karakter memang keduanya berbeda jauh, bagi yang pernah bekerja dengan Yasir sepakat kalau Sang Pengantin Pria ini bersifat keras. Lain halnya dengan Dewi yang pendiam dan sabar. Namanya pasangan, pastinya Tuhan menciptakan mereka agar bersatu untuk saling melengkapi. Sekali lagi selamat Yasir dan Dewi, kekal abadi dunia akhirat ya! Juga terima kasih untuk sajian yang membuat kami kenyang, termasuk empal gentong khas Cirebon..hihihi
Sang Pengantin bersama Teman Se-Perjuangan
Jalan-Jalan ke Keraton Cirebon
Salah satu situs sejarah yang ingin saya kunjungi sejak merencanakan perjalanan ini adalah Keraton Cirebon yang konon merupakan peninggalan Sunan Gunung Jati. Berhubung Sarwar yang telah dua bulan tinggal di kota itu juga merekomendasikan tempat yang sama, berangkatlah kami menuju pusat kota. Kami berkeliling di Keraton Kasepuhan, Cirebon. Konon ceritanya Sang Pewaris Tahta sedang mengembara, sedangkan pemerintahan dilanjutkan oleh adik Putra Mahkota. Ketika Sultan itu kembali, dia mendirikan Keraton Kanoman untuk adiknya. 
Bagian depan Keraton yang berhadapan langsung dengan Aloon-aloon adalah tempat para pejabat menyaksikan upacara. Di belakangnya ada pendopo untuk menerima tamu yang ingin menemui Sang Raja. Pelataran Keraton tidak begitu lebar, bangunannya pun tidak begitu tinggi sesuai dengan badan pribumi saat itu. Di rumah Sultan yang sampai sekarang dihuni oleh generasi ke-19 dari Sunan Gunung Jati bisa ditemukan ornamen unik berupa keramik dari Belanda yang menghiasi dindingnya. Selain bangunan utama, ada juga Museum Singa Barong yaitu nama kereta yang dikendarai raja. Berlawanan arah dengan bangunan tersebut, ada Museum Gamelan yang berisi alat musik tradisional, perkakas dan kerajinan koleksi Raja pada masanya.
Bak Bacem : Gerbang Menuju Kaputren, Keraton Kasepuhan, Cirebon
Patung Macan Putih Simbol Hewan Peliharaan Sultan

Menyicipi Kuliner Khas Cirebon
Seperti yang telah saya singgung sebelumnya, jalan-jalan juga berarti makan-makan. Saat resepsi saya menyicipi Empal Gentong yang disajikan dengan lontong. Menu lain yang kami coba untuk makan malam adalah Nasi Jamblang. Uniknya, alas dari tempat makan nasi dan lauk puknya ini adalah daun jati yang memberi aroma khas. Sedangkan lauk pauknya bermacam-macam mulai dari daging sapi bumbu merah, pepes, ayam goreng, cumi-cumi, perkedel jagung, tahu, tempe, telor balado, dan masih banyak lagi. Sarwar merekomendasikan Warung Nasi Jamblang Bu Nur yang terletak di tengah kota. Tempat makannya tidak begitu besar namun selalu ramai pengunjung. Pulang ke Jakarta tanpa oleh-oleh rasanya ada yang kurang. Saya membawa pulang seember tape ketan yang lagi-lagi dibungkus daun jati. Jajanan ini bisa tahan selama sebulan setelah tanggal kematangan. 

Nasi Jamblang
source : http://assets.kompas.com/data/photo/2011/05/13/1648263620X310.jpg

3 komentar:

  1. can't wait for lampung! Yeaaaay

    BalasHapus
  2. di lampung mau ngapain? aku mau ikut dong :D

    BalasHapus
  3. Yup, ada agenda kondangan dan jalan-jalan bersama awal Desember nanti :)

    BalasHapus

Terima kasih atas komentarnya