Kamis, 05 September 2013

Mengapa Harus ke Luar Negeri?

Selama dalam perjalanan dari Jakarta menuju Garut, saya ngobrol-ngobrol dengan senior di kampus, se-organisasi, se-hobi yang saya panggil Kak Daniel. Topik yang kami angkat malam itu cukup acak, namun agak berat ketika membicarakan tentang sebuah fenomena keberangkatan mahasiswa menjadi delegasi sebuah acara internasional di luar negeri. Dilihat dari segi kemampuannya, syarat pertama dari delegasi tentunya mampu berbahasa Inggris apapun tema forumnya. Kemudian disusul oleh kemampuan menulis ilmiah dan pengalaman organisasi misalnya, tergantung tema acara.
Hal yang Kak Daniel soroti kali ini adalah apa yang bisa diberikan oleh para delegasi tersebut setelah kembali ke Tanah Air? Sebetulnya pertanyaan ini juga menyentil saya pribadi karena sudah beberapa kali diberi kesempatan melihat negeri orang namun belum banyak berkontribusi untuk pembangunan bangsa. Kemudian Kak Daniel menceritakan kalau di luar sana -mari kita sebut dengan daerah yang belum tersentuh oleh kemajuan teknologi, red- banyak sekali tokoh pemuda yang telah memimpin komunitasnya untuk membuat perubahan. Para pemuda itu memang tidak pandai Bahasa Inggris sehingga belum mengecap kesempatan ke luar negeri untuk mempublikasikan pergerakannya. Ada yang berperan dalam aksi penghijauan, ada juga yang tanggap dengan pendidikan dan kesehatan di wilayahnya masing-masing. Pemuda ini barangkali tidak tersentuh oleh media massa namun mampu memberikan pengaruh untuk lingkungan sekitarnya sehingga membuat sebuah perubahan nyata.
Apabila dua fenomena tersebut bisa dikolaborasikan, maka motto "Think globally, act locally!" yang sering saya dan Kak Daniel ucapkan sejak aktif berorganisasi dulu bisa benar-benar terwujud. Pembicaraan terus berlanjut mengenai ide untuk membangun wadah bagi tokoh daerah untuk mengembangkan social movement yang telah mereka rintis dengan menggandeng NGO Internasional untuk mencari dukungan dana dan jaringan. Harapannya, tokoh daerah itu mampu memberi inspirasi bagi para pemuda lainnya untuk aktif berpartisipasi dalam kegiatan sosial kemasyarakatan.
Pada kesempatan yang lain, Ria sahabat kampus saya dalam obrolan 'kangen-kangenan' tiba-tiba bertanya tentang rencana saya melanjutkan S2 ke luar negeri. Disusul dengan pertanyaan singkat yang membutuhkan waktu lama untuk menjawabnya yaitu "kenapa?"
Tidak munafik kalau belajar ke luar negeri adalah sarana gratis untuk jalan-jalan. Itukah tujuan pertama saya? Padahal Indonesia tidak kalah indah dari negeri manapun. Setiap orang pasti menginginkan peningkatan dalam hidupnya, baik dalam karir, penghasilan, termasuk pendidikan. Begitu pula saya, ingin belajar di perguruan tinggi yang sudah berusia ratusan tahun dengan prestasi yang mendunia, ingin berjejaring dengan berbagai macam orang dari latar belakang berbeda, ingin bekerja di lembaga internasional, juga masih banyak keinginan lainnya.
Semoga setelah menyelesaikan S2 nanti saya mampu menjawab pertanyaan "setelah dari luar negeri, apa yang bisa diberi?"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas komentarnya