Kamis, 26 September 2013

Angan-angan Energi Masa Depan

Acara jalan-jalan awal tahun 2013 dibuka dengan perjalanan ke Gunung Anak Krakatau. Bersama 30 wisatawan lainnya kami menumpang kapal menuju Pulau Sebesi dari Darmaga Canti. Liburan ternyata tidak mengurangi ketergantungan manusia dengan gadget, bisa jadi semakin bertambah demi eksistensi di dunia maya dan delegasi pekerjaan yang ditinggalkan. Sebaiknya sebelum ke sini seluruh baterai gadget terisi penuh karena listrik hanya tersedia sejak pukul 6 sore sampai 12 malam. Saya tidak bisa membayangkan betapa terbatas akses informasi yang penduduk dapatkan. Bagaimana pula mereka bisa mengikuti pertandingan bola yang kebanyakan disiarkan langsung pada dini hari? Jawabannya adalah dengan generator pembangkit listrik.
Betapa mahal sumber energi di pulau ini. Sebelum kenaikan BBM pada bulan Juni, harga seliter bensin mencapai Rp 8000,-, harga elpiji tabung 3kg adalah Rp 20000,-. Pantas kalau harga gorengan saja mencapai Rp 1000,- per potong. Setidaknya kita akan semakin bersyukur bisa hidup di kota besar dengan segala aksesibilitas mudah dan murah. Saya semakin sadar arti slogan "hemat energi" yang sering dikoar-koarkan pemerintah.
Saya punya teman baru yang bekerja di perusahaan pembangkit listrik tanah air, namanya Harry. Kali ini topik yang kami bicarakan adalah tentang sumber energi untuk penduduk pulau. Rasanya terlalu mahal kalau mereka harus terus bergantung dengan generator pembangkit listrik yang dipasang di dekat SD, apalagi harga bahan bakar akan terus mengalami kenaikan. Awalnya saya melihat ada sumur air tawar di setiap rumah untuk memenuhi kebutuhan mandi dan memasak, bukan air payau seperti di pulau lain. Ternyata ada danau di atas bukit yang berada di bagian utara pulau.
Iseng saya bertanya pada Harry kira-kira apa yang bisa dijadikan sumber energi pembangkit listrik di sana. Pada dasarnya sumber energi pembangkit harus dilihat ketersediannya apakah bisa terus ada sepanjang musim. Bagaimana dengan kincir angin? Harry menjawab pesimis sepertinya Indonesia belum mampu dari segi teknologinya lagipula kecepatan angin di daerah tropis cenderung kurang stabil begitu juga dengan sumber energi arus laut. Kalau sumber pembangkit energi lainnya seperti nuklir tentu Indonesia masih jauh dari segi riset, sedangkan energi dari tenaga surya dan panas bumi membutuhkan teknologi yang mahal. Saya pernah mengikuti seminar tentang microhydro yang mudah diaplikasikan, namun tetap perlu dikaji apakah danau sumber air tawar tersebut bisa dialirkan dan berapa daya yang dihasilkan.
Seketika itu saya teringat ketika melihat kincir angin raksasa yang menggerakkan sektor pertanian negara-negara Eropa. Kemudian ingatan saya juga loncat pada perlengkapan canggih yang dibawa relawan SAR ke daerah bencana yaitu lempeng solar panel. Saya juga pernah berdiskusi dengan ahli geothermal yang sedang mengkaji potensi energi panas bumi di beberapa wilayah sekitar gunung-gunung berapi Indonesia. Ketiga sumber energi yang saya sebutkan tadi masing-masing memiliki kendala untuk dikembangkan mulai dari segi dana untuk investasi riset dan teknologi sampai dengan perundang-undangan.
Sumber energi alternatif non-fosil juga semakin marak diteliti, seperti dari mikrobiologi, tanaman, dan biogas. Kenaikan jumlah populasi penduduk dunia tentu membuat kebutuhan pangan dan energi terus meningkat, sementara itu sumber daya yang tersedia terbatas. Dikhawatirkan pada beberapa tahun mendatang persaingan antara food, feed, and fuel tidak dapat lagi dihindari. Oleh karena itu akan lebih bijak rasanya jika sumber energi yang digunakan tidak diambil dari bahan pangan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas komentarnya