Jumat, 30 Agustus 2013

Mendadak Mendaki


Halaman akun Facebook saya penuh dengan foto pemandangan dan kebersamaan teman-teman yang mendaki Gunung Guntur, Garut akhir pekan lalu. Euforia pendakian masih terasa sampai hari ini, kami ber-13 merupakan gabungan dari teman jalan, teman kantor, temannya teman semasa di kampus, teman se-daerah asal. Di antara kami ada yang masih pemula, 3 cewek dan 1 cowok yang belum pernah mendaki sampai puncak. Gunung Guntur sendiri sebetulnya bukan untuk pemula melihat medan yang curam dan berpasir, apabila tidak didukung peralatan yang baik seperti sepatu berbahan sol tebal, bisa membahayakan pendaki. Meski tidak terlalu tinggi, hanya 2249 meter di atas permukaan laut, namun kondisi vegetasi yang kering dan cuaca panas bulan Agustus bisa membuat pendaki cepat kelelahan. 
Teman baru saya bernama Rizqan yang asli Garut bercerita tentang pendakian terakhir yang dia lakukan di Gunung Semeru sebelum Ramadhan. Dia bercerita betapa film "5 CM" yang diangkat dari novel dengan judul sama membawa efek luar biasa terhadap Semeru. Kepopuleran pemainnya, pemandangan indah, serta cerita yang heroik menjadi daya tarik para penonton untuk mengunjungi setiap sudut gunung yang menjadi latar film tersebut. Sayangnya, mereka yang terkena efek tersebut sepertinya sekedar latah dan tidak benar-benar mengerti tentang esensi mendaki gunung.
Saya mulai mendaki gunung sejak masih di bangku SMP, kemudian semakin aktif sejak bergabung dalam organisasi Pecinta Alam SMA. Meski sempat vacuum selama di bangku kuliah, saya kembali mendaki gunung setelah lulus dan sangat bersyukur dijodohkan dengan teman-teman kantor yang berminat sama. Sebagai warga asli Jawa Timur, saya malah belum pernah ke puncak tertinggi di Pulau Jawa itu. Selalu saja ada halangannya, mulai dari jadwal yang tidak cocok sampai dengan kecelakaan yang menghentikan keinginan saya pergi mendaki. Perlahan saya memahami kalau mendaki bukan hanya ajang kepuasan diri, sarana pembuktian apalagi memecahkan rekor. Barangkali setelah "5 CM" melejit ada alasan baru untuk mendaki yaitu aktualisasi diri.
Kembali pada cerita Rizqan yang menemui serombongan pendaki yang bahkan tidak bisa memasang tenda. Semeru menjadi ramai, orang yang biasanya mencari ketenangan ke gunung malah hanya mendapatkan kegaduhan. Memang jalur pendakian Semeru sudah ramai dibandingkan sebelumnya, namun bukan berarti bisa disamakan dengan tempat wisata yang bisa dikunjungi dengan peralatan seadanya. Mendaki gunung tetap harus mementingkan konsep aman dan nyaman, butuh persiapan fisik dan mental, agar kita bias berngkat dengan gembira dan pulang dengan selamat. Selain itu yang paling penting adalah etika pada alam, karena pendaki adalah tamu sekaligus penikmat alam sudah sepantasnya kita mampu menjaga kebersihannya. Saya tidak habis pikir mereka yang mengaku telah mendaki gunung ini itu tapi urusan buang sampah masih asal saja.
Film "5 CM" memang menyuguhkan cerita yang berbeda, kisah persahabatan, cinta, perjuangan, dan pencapaian cita-cita. Hanya saja tidak banyak teladan tentang nilai-nilai tentang lingkungan. Mengutip kalimat Gie, tokoh pemuda yang meninggal di Semeru : "Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung"
Bagi yang belum pernah naik gunung dan ingin merasakan sensasinya, sebaiknya mempersiapkan fisik dengan baik. Pertama agar tidak merepotkan anggota rombongan lain, selain itu tujuan naik gunung sendiri adalah melepas penat jadi jangan sampai pulang dari gunung malah sakit dan tidak bisa melanjutkan aktivitas. 

Salam Rimba,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas komentarnya