Sabtu, 17 Agustus 2013

Hari Merdeka Tanpa Upacara


Inilah perayaan tahunan yang selalu membuatku rindu dengan kemeriahannya, upacaranya, dekorasinya, semangat nasionalisme yang menggelora, mengingat sejak kelas 1 SD sampai memasuki tingkat 4 di bangku kuliah saya selalu mengikuti upacara bendera memperingati 17 Agustus. Lalu sepulang sekolah, biasanya saya berkumpul dengan keluarga di rumah menyaksikan upacara bendera di Istana Negara, mengagumi suara lantang pemimpin upacara, ikut menahan napas saat Paskibraka memasuki lapangan dengan derap langkah yang seirama, kemudian merinding ketika okestra mengiringi pengibaran Sang Merah Putih dengan Lagu Indonesia Raya.
Saya masih ingat bagaimana latihan baris-berbaris ketika hari memasuki puncak musim kemarau demi mempersiapkan penampilan terbaik mewakili sekolah saat lomba. Saya masih ingat pernah melakukan kesalahan saat menjadi pengerek bendera ketika berseragam putih abu-abu. Saya rindu lomba olahraga dan seni yang digelar antar kelas, juga penampilan berbagai ekstrakurikuler untuk memeriahkan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia. Tidak hanya di sekolah, kemeriahan itu dirasakan di seluruh penjuru negeri. Saya tidak pernah bosan bersorak-sorai melihat panjat pinang dan mengikuti lomba permainan tradisional yang digelar di sekitar lingkungan tempat tinggal.
Kali ini 17 Agustus jatuh pada hari Sabtu, hari libur kantor jadi lagi-lagi tidak ada upacara. Karena semangat nasionalisme itu tidak melulu hanya dibangkitkan dengan upacara, maka saya menerjemahkan semangat itu dengan melakukan hal yang bermanfaat. Pagi ini saya pergi ke Stadion Renang Gelora Bung Karno dan mendapati kolam renang sepi pengunjung, bagai milik pribadi. Ya, memelihara kesehatan adalah langkah awal untuk berkontribusi bagi negeri. Bagaimana bisa kita berbuat sesuatu yang besar sementara jiwa raga tidak dalam kondisi bugar?
Saya pergi ke sana dengan Edo, junior di kampus yang kini sama-sama berstatus sebagai pekerja di Jakarta. Kami ngobrol banyak, tepatnya banyak orang yang kami sebut, tentang kabar mereka dan cerita-cerita hebat semasa masih menjadi mahasiswa. Sesekali kami geleng-geleng sendiri betapa banyak yang telah kami lalui bersama teman-teman tersayang. Kami pun sepakat kalau pengalaman di kampus tidak bisa hanya disimpan begitu saja, harus dilanjutkan untuk jadi modal berkontribusi nyata untuk bangsa. Edo memang baru 2 bulan pindah ke Jakarta dan sedang dalam masa penyesuaian gaya hidup ala metropolitan. Wajar karena masih awal, namun ke depannya tidak mungkin kami hanya memerah tenaga dan berorientasi pada pekerjaan saja, pasti akan melelahkan. Nantinya, kami sepakat harus banyak menyisihkan waktu bukan hanya untuk kesenangan pribadi.
Usai pagi yang sehat di Senayan, saya dan Edo meluncur ke Dharmawangsa bertemu sahabat-sahabat kampus lainnya yang juga satu organisasi. Niat awal adalah halal bihalal karena masih dalam suasana Idul Fitri. Kami saling bertukar kabar, membicarakan banyak topik secara acak mulai dari hal sepele seperti singkatan yang marak digunakan para remaja di dunia maya sampai dengan kisruh yang terjadi di Mesir. Langkah berikutnya setelah menjaga kesehatan yaitu bersosialisasi, memperluas relasi, membina silaturahmi agar bisa berkolaborasi untuk bisa memberikan kontribusi, meski bukan saat ini tapi suatu hari nanti pasti.
Bulan Agustus selalu membawa warna dan cerita berbeda. Hampir bersamaan dengan Dirgahayu Indonesia, usia saya pun bertambah tua, artinya kontrak hidup di dunia ini semakin berkurang. Kalau dua tahun lagi umur saya genap seperempat abad, rasanya ada sesuatu yang besar yang harus dilakukan untuk menyongsongnnya. Bukan hanya semata-mata pencapaian pribadi namun juga apa yang telah diberi untuk negeri. Dalam perjalanan pulang saya menemukan sebuah resolusi untuk lebih banyak memberi bukan hanya sebatas materi namun juga waktu dan tenaga. Rasanya hampir setahun bekerja, saya merasa tidak banyak waktu digunakan untuk kepentingan orang lain. Selama ini hanya untuk misi diri sendiri, belum banyak berkontribusi. Saya mulai memikirkan untuk mengatur waktu sedemikian rupa agar bisa berjejaring lagi juga mengikuti organisasi.
Nah, tahun ini memang saya tidak mengikuti upacara bendera atau pergi ke suatu tempat khusus untuk ikut mengibarkan Sang Merah Putih misalnya seperti naik gunung, menyelami lautan, atau menjelajah goa. Saya mulai hari ini dengan tekad kuat untuk tetap sehat agar mampu melaksanakan misi : Kontribusi untuk Negeri. Hari ini saya merasa merdeka untuk merancang keinginan menjadi ahli sesuai bidang yang ditekuni sebagai sarana untuk berkontribusi. Semoga semangat ini tidak hanya berkibar sekali setahun saja. Dimanapun saya berada, kapanpun itu, tulisan ini akan mengingatkan pada cita-cita besar yang ingin dicapai.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas komentarnya