Senin, 15 Juli 2013

Rezeki Tidak Akan Ke Mana

Hari Minggu pertama di bulan Ramadan, saya bersama teman sekantor yaitu Arfi dan Dimas buka bersama. Meski hanya bertiga, agenda kali ini spesial karena kami berbuka bersama keluarga Dimas yang ramai di rumahnya. Setelah menunaikan sholat Isya, kami bersiap-siap menuju terminal Bogor untuk mengambil bus yang akan membawa kami kembali ke Jakarta.
(Saya = T; Dimas = D; Mamanya Dimas = MD; Arfi = A)
D : "Mam, mau bawa bekal donk..buat sahur"
MD : "Iya, ini dibungkusin"
D : "Tis, nitip yak? Tas gue penuh"
T : "Wah yakin? Bisa lupa kagak gue kasih ke elu malahan Dim.."
D : "Ya udah gampanglah.."
Bekal tersebut terbungkus plastik dengan rapi lalu disimpan di ransel saya yang masih melompong. Kami diantar Mamanya Dimas ke terminal dan tiba tepat saat bus Agra Mas tujuan Lebak Bulus akan melaju. Perjalanannya lancar, dalam waktu satu jam kami sudah tiba di terminal tujuan, lanjut dengan busway tanpa menunggu lama. 
D : "Gue laper ni, makan yuk!"
T : "Elu kan bawa makanan tadi dari rumah"
D : "Emm...nggak ah, beli aja"
A : "Gue tahu, pasti elu pengen sahur pakai masakan rumah kan? Biar lebih kerasa"
D : "Hahaha..iya betul"
Jadilah kami bertiga mampir ke rumah makan meski hanya Dimas yang memesan seporsi Soto Betawi sedangkan saya dan Arfi hanya membeli minuman. The night was still young, kami ngobrol sampai tidak terasa sudah lewat jam sepuluh malam. Kami naik 1 taxi bertiga, seperti biasa Arfi diantar paling awal, kemudian ke kost saya, dan terakhir Dimas. Setiba di depan kost, tanpa basa-basi saya turun dan langsung menuju lantai dua. Sampai ketika saya membuka ransel untuk mengambil kunci kamar dan melihat sebungkus bekal yang Mamanya Dimas bungkus masih rapi di sana. Segera saya telepon Dimas sebelum taxi membawanya terlalu jauh.
D : "Halo.."
T : "Diiiiimmm, makanan lo masih di tas gue..gimana?"
D : "Yaudahlah lo makan aja Tis"
T : "Terus lo sahur pakai apa?"
D : "Ya gampanglah.."
T : "Yaaaahhh Dim..."
D : "Halah, lo seneng juga..haha"
T : "Such a guilty pleasure Dim..hehehe. Thank you anyway"
D : "Hahaha, iye..tahu gue"
Makanan untuk sahur sudah ada, kebetulan teman se-kost sedang "libur" puasa jadi tidak perlu keluar pagi buta membeli makan di warteg. Kemudian apa yang terjadi keesokan paginya? Yak, saya bangun setengah kaget saat melihat jam sudah menunjukkan pukul 5 pagi. Lewat sudah masa sahur, bekal dari Dimas utuh dan saya berikan pada teman kost. Saya bangun dengan lemas sambil mengambil air wudhu, setelah sholat Subuh saya pun benar-benar mengerti makna "rezeki tidak akan ke mana". Sedekat apapun, meski telah berada di genggaman, kalau memang bukan haknya, tidak akan pernah menjadi milik kita.  

1 komentar:

Terima kasih atas komentarnya