Rabu, 05 Juni 2013

Puisi dan Sahabat

Tak ada yang lebih tabah 
dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

Tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

Tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon berbunga itu

(Damono, 1989)

Umur puisi itu sendiri bahkan lebih tua dari saya. Berawal dari sebuah pesan dari seorang sahabat pada bulan Februari 2010 lalu, kemudian saya baru mencermati kembali kumpulan puisi sastrawan besar Indonesia, Sapardi Djoko Damono. Entah mengapa sahabat saya itu tiba-tiba mengirimkan puisi tersebut, bukan pada bulan Juni pula. Saya yang tidak banyak membaca karya sastra dengan polos langsung bertanya pada Ibu yang lebih tahu, namun Ibu tidak membaca karya beliau karena lebih suka tulisan Pramoedya Ananta Toer.
Masih penasaran, saya bertanya pada teman di kampus yang bergabung dalam komunitas pecinta sastra. Begitu saya baca satu kalimat dari puisi itu, tiba-tiba dia langsung bersemangat melanjutkannya. Kemudian saya tanya apa artinya, meski kata-katanya lugas namun saya tidak pandai dalam mengartikan syair. Teman saya itu hanya menjawab singkat kalau makna sebuah puisi hanya dimengerti oleh penulisnya saja, setiap orang juga boleh memiliki makna masing-masing tentang sebuah puisi. Tak puas dengan jawaban singkat dan filosofis tersebut, saya pun berangkat mencari buku "Hujan Bulan Juni" di Kwitang dan Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Seperti salah satu adegan dalam film "Ada Apa dengan Cinta?" hehehe..
Buku tersebut pertama kali dicetak pada tahun 1994 kemudian ada versi cetakan terbarunya namun sudah tergolong langka. Melalui kenalan teman, saya sempat menghubungi kolektor buku namun hasilnya nihil. Akhirnya tanpa sengaja saya mendapat buku itu dari seorang teman yang mengunjungi Festival Budaya di sebuah perguruan tinggi swasta di ibukota.
Ternyata tulisan Sapardi Djoko Damono sangat kontemporer, dengan rima teratur dan kata-kata yang sederhana, seringkali digunakan dalam percakapan sehari-hari. Khasnya adalah penggunaan majas personifikasi serta pemberian sifat pada objek puisi tersebut. Setelah puas membaca buku kumpulan puisi tersebut akhirnya saya memberikan buku tersebut pada sahabat saya, sebagai hadiah atas pengetahuan baru yang ia bagi. 


Jakarta, hujan pertama di bulan Juni 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas komentarnya