Senin, 06 Mei 2013

Bertemu Kembali Galya


Agenda mampir ke Vienna awal tahun 2012 lalu mempertemukan saya dengan Galya. Pertemuan itu berlangsung singkat, rasanya kami masih belum puas bercerita. Lalu setelah semua ujian semester selesai, Galya berjanji akan mengunjungi saya di Praha. Tibalah hari itu, ketika saya menjemput Galya di terminal bus Praha dan mengajaknya ke asrama sebelum bersiap-siap berkeliling kota. Hari itu saya sudah memasak sup dengan cita rasa khas Indonesia. Katanya, masakan saya mampu membawa kenangan-kenangan yang dia punya ketika berkunjung ke Indonesia tahun 2010 lalu.
Tujuan pertama sore itu adalah Old Town. Kami keluar trem di stasiun Muzeum dan berjalan menuju Nove Mesto. Galya mengabadikan gambar di Vaclavske Namesti, kemudian kami melihat-lihat toko souvenir sambil berjalan ke Astronomical Clock. Setelah jalanan mulai gelap, perlahan tubuh kami menggigil sehingga kami memutuskan untuk berbelanja bahan-bahan makanan dan memasak makan malam. Kini, giliran Galya yang memasak omelet sayur yang menurut dia adalah masakan untuk orang malas. Tidak ketinggalan kami menyeduh secangkir teh, minuman favorit gadis Rusia ini. Hari berikutnya kami sepakat untuk pergi ke Karlovy Vary.
Bus melaju ke bagian barat bumi Bohemia dan berhenti di Karlovy Vary. Tiga hal yang paling terkenal dari kota ini adalah: spa, spring water, dan liquor. Galya mendengar tentang Karlovy Vary dari temannya di asrama yang telah berkunjung lebih dahulu ke sini. Teman Galya itu kemudian membawa oleh-oleh spring wafer yang terbuat dari sumber mata air panas yang kaya mineral. Biskuit yang renyah itu tersedia dalam berbagai varian rasa seperti coklat, almond, dan vanilla. Meski terletak di dekat perbatasan Ceko-Jerman, pernduduk di kota ini justru lebih banyak yang bisa berbicara Bahasa Rusia. Untung ada Galya, jadi kami tidak kesulitan bertanya jalan termasuk menawar harga.
Banyak gedung yang menjadi pusat Medical and Health Spa. Jalanannya kecil dan berbukit-bukit, cukup mudah dilalui hanya bermodal peta yang diambil dari terminal. Sebelum berjalan-jalan kami sudah menandai beberapa tempat tujuan. Ada satu tempat menarik yang kami cari hingga tengah hari, kami sudah membayangkan akan menemui taman luas yang mengelilingi kastil atau bangunan tua semacamnya. Setelah penuh perjuangan melewati jalan yang mendaki menuju tempat tersebut, ternyata yang kami temukan adalah sebuah hotel berbintang di Karlovy Vary. Kami sempat bengong beberapa detik lalu menertawakan kebodohan diri sendiri kenapa tidak bertanya tempat apa yang ingin kami tuju itu. Tidak ada yang bisa kami lihat di sana selain halaman hotel yang tertutup salju tebal, sehingga kami memutuskan untuk bermain ayunan sebentar sambil melepas lelah.
Usai makan siang kami berniat mengunjungi pinggiran kota, melihat hutan cemara dan singgah di danau. Jalanan yang sepi, hanya dua kali kami berpapasan dengan penduduk sekitar. Rasanya danau yang kami cari tidak juga ditemukan sampai kami akhirnya duduk pasrah melihat dua gadis bermain-main di pinggir hutan, seharusnya kami sudah melihat danau itu tepat di sini. Tiba-tiba saya tersadar kalau kami sedang berdiri di atas lapisan es yang lebih cekung dari sekitarnya, ya itulah danau yang kami cari telah membeku tepat di bawah kedua kaki ini. Lagi-lagi kami tertawa lepas menyadari kebodohan kami kedua kalinya.
Hari ketiga sekaligus hari terakhir kunjungan Galya di Praha. Kami memutuskan untuk menjelajahi Praha kembali. Mulai dari jalanan Muztek, lalu berjalan di pinggir Vltva River, Charles Bridge, melihat Dancing Building, sampai melihat Petrin Tower. Tak tertinggal ke Prague Castle dan kami sempat mampir Toys Museum yang sedang memamerkan koleksi Barbie terlengkap. Makan siang kami habiskan di sebuah restoran yang menjual menu khas Eropa Timur, goulash. Sore itu Galya berpamitan untuk kembali ke Vienna, saya mengantarnya sampai di depan bus. Galya mengucapkan sampai jumpa diiringi pelukan hangat seorang sahabat.  

Setahun kemudian, beberapa hari lalu, saya menerima pesan dari Galya:

“Titis, how are you? I am in Prague now. I don’t know how these things happened, it brought me here. I am living in Kolej G room 321, was it same building as yours?”

“Dear Galya, I am fine here, thanks. What a surprise! Are you going to finish your Master Degree there? Yep, I was living in room 316. Yeah, that place would be so lovely for you. Cheers!”

“Hi Titis, Vienna improved myself to speak Germany. But here is so Russian, we understand each other. You know what I mean. What are you up to now? Working? When are you coming to Europe again?”

“Galya, it will be easier for you to make good friendship with Czech people indeed. Yes, I am working in dairy company and preparing to chase the chance in order to continue my study in Europe. Wish me luck!”

“Cross my finger for you Titis,we’ll meet again. I can feel it!”





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas komentarnya