Kamis, 16 Mei 2013

Berkunjung ke Pulau Tidung

Gerbang Pulau Tidung

Ini kali kedua saya menyeberang dari Muara Angke menuju salah satu pulau di gugusan Kepulaan Seribu. Berbeda dengan kunjungan pertama, kali ini saya hanya berlima dengan Kak Dita, Kak, Win, Kak Devi, dan Kak Heri, senior-senior IAAS. Kalau dulu saya bertugas sebagai pemandu teman-teman bule berjumlah 27 orang dan mengatur trip pribadi di Pulau Pramuka maka kali ini saya menjadi anggota salah satu rombongan turis domestik. Meski kami hanya berlima, tapi setiba di Pulau Tidung kami justru bergabung dengan sejumlah rombongan lainnya sejumlah 84 orang.
Jauh dari apa yang dibayangkan, ini seperti kunjungan ke Taman Ria. Di mana-mana ada orang, berjubel, hampir tidak ada tempat sepi. Kami menyewa sebuah kamar dengan fasilitas yang nyaman untuk 5 orang, hanya untuk menginap semalam di Pulau Tidung. Agenda liburan kali ini adalah snorkeling, bersepeda, melihat sunrise, serta barbeque party tentunya.
Siang itu ada dua titik snorkeling yang kami coba yaitu Pulau Tidung dan Pulau Payung. Berbeda dengan tempat snorkeling yang pernah saya coba di sekitar Pulau Pramuka, habitat terumbu karang di Pulau ini rusak parah. Banyak karang yang mati dan sudah tidak terlihat warna-warni. Saya berharap bisa bertemu dengan sekawanan Nemo atau clown fish yang berwarna oranye menyembul di antara karang namun apa daya tampaknya ikan pun mulai enggan tinggal di daerah ini. Harapan saya untuk bisa berenang di bawah ombak bersama ikan yang lucu berubah menjadi perasaan prihatin dan sedih.
Saya sempat berbicara santai dengan awak kapal yang membawa kami ke spot snorkeling. Bapak yang saya lupa namanya itu menceritakan bagaimana karang ini mulai rusak. Penyebab utamanya tidak lain adalah ulah manusia itu sendiri. Bisa dibayangkan kalau setiap akhir pekan ada ratusan wisatawan baik domestik maupun mancanegara yang mengunjungi Pulau Tidung untuk menikmati keindahan alamnya. Komersialisasi dan aktivitas pariwisata memang membantu perekonomian masyarakat setempat, namun kurangnya kesadaran masyarakat dan kontrol terhadap aktivitas pariwisata dari pemerintah bisa jadi perlahan-lahan justru merusak keindahan alam.
Pembicaraaan saya lanjutkan dengan Abu, pemuda yang baru tamat SMK. Abu bercerita kalau sebagian besar penduduk Pulau Tidung bekerja sebagai nelayan untuk perusahaan Cina dan berlayar di laut lepas selama berbulan-bulan. Mereka rata-rata menangkap ikan di perairan sekitar Pulau Kalimantan dan Sulawesi. Sedangkan sisanya, pemuda yang masih bersekolah serta istri para nelayan mencari rezeki dari sektor pariwisata. Saya sempat iseng bertanya pada Abu tentang pengelolaan sampah di Pulau Tidung setelah melihat betapa banyak wisatawan yang datang tiap akhir pekan dan kondisi pemukiman di sana. Pulau Tidung sendiri sebetulnya sudah tidak mampu menampung sampah yang dihasilkan penduduk, untuk mengatasinya tumpukan sampah tersebut kemudian dikeruk dengan pasir sampai menggunung dan membentuk daratan baru kemudian di atasnya didirikan sebuah bangunan.
Abu juga bercerita kalau dia ingin melanjutkan kulaih di IPB mengambil jurusan Ilmu dan Teknologi Kelautan. Pemuda ini tanggap dan supel, barangkali karena memang sudah terbiasa bertemu dengan berbagai wisatawan yang berkunjung ke Pulau. Dia juga bercerita betapa banyak penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa IPB di Pulau Tidung, namun sayangnya penelitian tersebut hanya bersifat sementara sehingga manfaatnya kurang dirasakan penduduk lokal. Semoga di masa yang akan datang, Abu bisa menuntut ilmu dengan baik dan memberi sumbangsih terhadap sektor kelautan nusantara.

Bermain Pasir
Bersepeda Keliling Pulau
Terumbu Karang yang Pucat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas komentarnya