Selasa, 16 April 2013

Mainstream


Pembicaraan antara dua pendaki di antara jalan menanjak yang sempit dan bercabang :
Dimas : "Coba lewat sini, biar nggak terlalu mainstream"
Saya mengekor di belakangnya dan ternyata jalan setapak yang dia pilih lebih mudah dilalui daripada cabang yang lainnya. Kemudian usai turun gunung, pembicaraan berlanjut saat kami di bus menuju pusat kota.
Saya : "Inget dulu pas kecil di rumah, tiap Maghrib TV harus mati. Gue dan adik gue harus belajar"
Dimas : "Bagus itu Tis, sinetron itu pengaruhnya buruk. Nih ya, jadi mikir lagi gimana gue dulu kelas 6 SD udah pacaran"
Saya : "Wah, itu gue masih main layangan Dim.."
Dimas : "Kalau sekarang nyesel juga Tis, kenapa harus pacaran lama-lama. Mendingan langsung nikah"
Saya bingung mau menanggapi apa, menunggu kalimat berikutnya
Dimas : "Gue dulu bisa gonta-ganti pacar ya awalnya gara-gara nonton sinetron, seolah-olah kedekatan cowok dan cewek itu cuma bisa lewat pacaran. Padahal belum tentu benar, terlalu mainstream"
Saya : "Lha terus kalau udah pacaran lama kayak kasus lo gimana?"
Dimas : "Ya harus dipikirin tahap selanjutnya yaitu nikah. Mau gimana lagi? Ah, bener juga kata lagu talk about the future like we have a clue begitulah orang pacaran, sok ngomongin masa depan padahal belum tentu jadi juga"
Saya : "Itu lagu kembaran gue Dim, The One That Got Away..hahahaha"
***
Di salah satu cafe bandara ditemani secangkir kopi dan cappuccino panas, saya menemani Mukti menunggu penerbangannya menuju Surabaya setelah seharian dia di Jakarta mengikuti tes wawancara kerja
Saya : "So,  Dek Bro how does life treat you?"
Mukti : "Aku cuma kerja 10 hari Mbak Sist, ada perlakuan rekan kantor yang nggak bisa diterima. Tapi aku dibayar lho, lumayan banyak untuk ukuran kerja secepat itu."
Saya : "Setelah resign sibuk apa kamu?"
Mukti : "Aku belajar jadi translator di perpustakaan Bung Karno. Pastinya travelling, aku lewat kotamu, makan sate ayam Ponorogo bareng temen lalu ke Madiun sampai Pacitan"
Saya : "Wow, keliling-keliling mumpung masih muda"
Mukti : "Waktu ngadep Bos mau resign, beliau pesen Just follow your passion! True, I wanna live a life Mbak Sist"
Saya : "Yeah, just go on no matter what people say"
Mukti : "Sempat juga perang dingin sama orang tua di rumah karena aku nggak coba cari kerja tetap. Padahal aku mau belajar banyak dengan waktuku yang masih bebas"
Saya : "Biasa orang tua, pasti menginginkan yang terbaik buat anaknya"
Mukti : "Iya Mbak, maunya kan anaknya ini dapat kerja tetap, hidup damai aman tenteram padahal jiwaku masih ingin melakukan banyak hal. Ah, terlalu mainstream"

We may have our main goal, not only follow the stream 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas komentarnya