Rabu, 24 April 2013

Hari Bumi

Jika sang bumi bisa bicara
Ku tahu ia akan bertanya
Sampai kapankah kau hanya terima
Tanpa pernah memberi
Kini saatnya untuk berbuat
Memberi apa yang dia butuhkan
Tanah air udara kan bersuka
Hidup harmoni tetap terjaga
(Katon dan Nugie – Jika Bumi Bisa Bicara)

Ingatan saya kembali pada peringatan Hari Bumi bersama Generasi Muda Pecinta Madiun, melakukan long march sembari mengumpulkan sampah di jalanan utama kota. Saat kuliah di Bogor, saya mengikuti kepanitiaan acara "Save Our Earth" yang menggelar acara serupa dan lomba-lomba bertema lingkungan. Pernah juga saya belajar membuat kompos dengan metode Keranjang Takakura bersama teman-teman IAAS. Serangkaian kenangan mengunjungi tempat-tempat menakjubkan di beberapa belahan bumi ini, gunung, pantai, bukit bersalju, sungai, kanal, padang rumput, gua, tebing, danau, seperti rekaman film pendek yang membuat saya bersyukur betapa Tuhan memberi kesempatan untuk lebih dekat dengan ciptaan-Nya. Rasanya tidak adil kalau hanya sekedar menikmati tanpa ikut menjaga.

Tumbuh di lingkungan pedesaan dengan sekeliling rumah yang dikepung area persawahan membuat saya akrab dengan alam. Kebiasaan-kebiasaan kecil mulai dari mematikan lampu setiap pukul 5 pagi, berkebun, menyimpan tas plastik untuk dipakai kembali saat berbelanja, menggunakan kertas bekas untuk corat-coret rumus dan hitungan Matematika, termasuk naik angkutan umum, sudah Ayah dan Ibu ajarkan sejak dini. Ketika mulai aktif mengikuti Pramuka di SMP 1 Ponorogo, sampai bergabung dalam ekskul GEMPITA (Generasi Muda Pecinta Alam) SMA 3 Madiun kebiasaan-kebiasaan yang telah diajarkan di rumah mulai saya bawa ke tempat-tempat yang saya kunjungi dengan terus menerapkan semboyan:

Jangan meninggalkan apapun selain jejak
Jangan mengambil apapun selain gambar
Jangan memburu apapun selain waktu

Di tengah-tengah maraknya kampanye bertema lingkungan, terkadang saya masih bertanya-tanya seberapa efektif pola hidup ramah lingkungan yang sering digembar-gemborkan seperti:
Di era digital ini, manakah yang lebih efisien dalam penggunaan energi? Menggunakan kertas kemudian mendaur ulangnya atau menggunakan gadget untuk membaca naskah atau menyimpan suatu file?
Menggunakan tisu sekali pakai kemudian diolah menjadi kompos atau sapu tangan yang lebih sering dicuci dan meninggalkan limbah air sabun?

Daur ulang plastik apakah benar-benar mengurangi sampah atau hanya sekedar menunda timbulnya sampah?
Apapun itu aksinya, kembali lagi pada visi untuk menjaga bumi. Tetap butuh konsistensi dan kolaborasi dari berbagai pihak, karena di luar sana masih perlu edukasi yang kontinyu untuk sekedar menyadarkan orang tentang pentingnya membuang sampah di tempatnya. Kalau memang belum bisa berpartisipasi aktif dalam suatu pergerakan khusus untuk melestarikan lingkungan, minimal kita mulai dari diri sendiri melakukan aksi kecil untuk bumi. Barangkali sepele, namun saya percaya sikap keseharian kita secara tidak langsung bisa menjadi teladan yang baik untuk orang-orang sekitar.

Salam Rimba

"Siwi pribumi hamarsudi rahayuning bumi"
(anak alam yang menjaga kelestarian bumi)

Oleh-oleh dari "3rd Climate Change Expo and Forum"


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas komentarnya