Kamis, 11 April 2013

Berkeliling Belgia


Tergoda oleh tiket pesawat promo Praha – Eindhoven dari maskapai lokal Hungaria hanya seharga 20 Euro, berangkatlah saya melancong ke Belanda dan Belgia ketika mahasiswa lain masih sibuk dengan ujian masing-masing. Bersama rombongan PPI (Perhimpunan Pelajar Indonesia) Ceko, kami berangkat menuju Eindhoven, kota di bagian selatan negeri Kincir Angin. Berhubung kota ini terletak di perbatasan antara Belanda dan Belgia, maka kami memutuskan untuk menginap di Antwerp dengan alasan harga dan supaya kami puas menjelajah Belgia. Tiba di Antwerp, kami sudah mempunyai agenda masing-masing untuk menghabiskan akhir pekan di sana. Saya akan pergi ke Leuven dan Gent bertemu sahabat lama, sedangkan teman-teman lainnya ada yang ke Brussel mengunjungi museum Tin-Tin dan Bruges, sebuah kota kecil penuh dengan kastil bersejarah.

Antwerp : Menengok Flat Mbak Rany dan Bu Utami
Sebelum tiba di Antwerp saya sudah menghubungi rekan sesama penerima beasiswa Erasmus Mundus yang sedang belajar di Gent University, namanya Mbak Rany. Kebetulan Mbak Rany sedang berada di Antwerp jadi kami bisa bertemu di sana. Pagi itu kami berjanji untuk kopi darat di sebuah sudut kota yang sibuk yaitu Stasiun Antwerp. Salah satu hal yang mempermudah turis di sini adalah kemampuan orang Belgia yang multi-bahasa. Semua orang berbicara Bahasa Inggris dan saling mengerti Bahasa Belanda, Perancis, juga Jerman (sesuai dengan bahasa Ibu masing-masing). Selain itu, saat akhir pekan harga tiket kereta api diskon 50% dan pembelian untuk 10x perjalanan antar kota bisa lebih murah. 
Saya memang tidak bisa lama-lama bertemu Mbak Rany pagi itu karena dia sedang mengejar kereta ke Leuven, meski memiliki tujuan yang sama namun Mbak Rany pamit berangkat duluan berhubung ada jadwal pengajian. Sementara saya dan Andreas masih menikmati arsitektur stasiun sambil berfoto-foto. Beberapa menit sebelum kereta berangkat kami mengintip gerbong sambil mencari tempat, tidak disangka ternyata Mbak Rany juga masih duduk di salah satu gerbong kereta menuju Leuven. Tadinya dia ingin mengambil kereta jurusan Brussel supaya tiba di Leuven lebih awal, namun semua perjalanan ke ibu kota Belgia pagi itu dibatalkan. Saat kami bergabung, Mbak Rany mengenalkan kami pada temannya yaitu Bu Utami yang ternyata dosen IPB. Beliau sedang mengambil PhD jurusan statistik di Antwerp University.
Esok malamnya kami diundang makan bersama di flat Bu Utami. Beliau menyiapkan menu khas Indonesia: sambal pecel, tempe, dan ikan goreng. Sederhana namun begitu melengkapi kerinduan kami akan nusantara. Kami ngobrol sampai larut tentang kabar kampus dan atmosfer belajar di Belgia. Menurut pendapat Mbak Rany dan Bu Utami, pada masa-masa ujian seperti ini situasi di sekitar kampus menjadi tegang. Mahasiswa hanya boleh mengambil ujian sekali, tidak ada kesempatan kedua, jangan harap bisa mengulang. Sisi lain yang dipelajari Bu Utami sebagai murid sekaligus dosen adalah sifat melayani dari Professor yang mengajarnya di setiap kelas. Bagaimana guru bisa benar-benar mengerti potensi dan kebutuhan muridnya.
Centraal Antwerpen
Ki-Ka : Andreas, Mbak Rany, Bu Utami, Titis
Leuven : Bertemu Dorien
Dorien adalah sahabat baru yang saya temui di Slovenia sebulan sebelumnya. Dia sangat gembira ketika saya mengirim pesan akan mengunjungi Belgia. Meskipun masih ada beberapa mata kuliah yang harus dia selesaikan namun dengan baik hati Dorien menemani saya dan Andreas berkeliling Leuven seharian. Kami bertemu di stasiun kereta Leuven.
“Everything is near in Belgium, we can go by foot” Dorien memandu saya melihat kota tempat universitas tertua di Belgia yakni Katholieke Universiteit Leuven berdiri. Inilah kampus yang gedungnya tersebar di seantero kota, rektoratnya berada di jantung kota. Perpustakaan pusat berada di dekat lapangan utama kota Leuven, sedangkan gedung-gedung fakultas eksak seperti teknik dan bioteknologi terletak di pinggir kota dengan bangunan mirip kastil kuno yang mistis. Dorien sedang menyelesaikan S2 jurusan bioteknologi, dia sedang merancang percobaan tentang fotosintesis dan energi alternatif.
Tempat nongkrong favorit mahasiswa di sini adalah bar yang berjajar rapi di pusat kota. Konon deretan bar ini merupakan yang terpanjang di dunia, setiap malam musik bersahutan dari tiap café. Kami berjalan melewati bangunan yang telah dinobatkan sebagai UNESCO World Heritage bernama beguinage seluas ratusan hektar terdiri dari rumah-rumah yang dulunya dihuni oleh perawan pengikut gereja. Kini beguinage dialihfungsikan menjadi asrama mahasiswa KU Leuven. Dorien sendiri tidak mau tinggal di sana karena bangunannya yang sudah tua dan beraura magis, nyatanya tempat ini memang antik, cukup tenang untuk belajar.
Salah satu tujuan saya mengunjungi Leuven adalah melihat langsung seperti apa Headquarter of IAAS World, organisasi yang telah saya ikuti selama 4 tahun di kampus. Dorien menjabat sebagai Local Committee Director IAAS KU Leuven saat itu sehingga dia punya akses penuh ke sekretariat.  Ternyata ruangan yang penuh sejarah itu tidak seluas yang saya bayangkan, penuh dengan poster dan souvenir berlambang pohon gandum serta bola dunia. Berbagai artikel dan poster kegiatan tingkat dunia tertempel di dinding. Ada meja persegi panjang tempat pengurus rapat dan mendiskusikan banyak hal untuk kelangsungan organisasi. Berbagai foto dari kepengurusan sebelumnya juga ada satu meja kecil yang penuh dengan teko, cangkir, kopi, gula, teh, juga chesnut, camilan sehat sambil ngobrol santai.
Usai menyantap makan siang, Dorien mengajak saya melihat-lihat gedung pemerintahan kota. Ketika melewati pusat pertokoan di Leuven para pejalan kaki bergerak lambat karena sedang ada galian besar di tengah persimpangan jalan. Saya pikir mereka akan membangun sebuah menara besar sebagai landmark kota, atau gorong-gorong saluran air bawah tanah, ternyata dugaan saya salah, yang akan dibangun adalah tempat parkir sepeda. Sejenak saya melongo, di Jakarta biasanya parkir bawah tanah di mall-mall akan digunakan untuk parkir mobil sedangkan di sini semua penduduk memiliki sepeda dan pemerintah dengan baik hati menyediakan fasilitas untuk pengendaranya.
Lagi-lagi waktu terasa begitu cepat berlalu, kami harus berpisah, sedangkan Dorien harus kembali pada rutinitasnya untuk mempersiapkan ujian minggu depan. Sebuah adegan perpisahan yang klise berlatar kereta api menuju Antwerp. Tiba-tiba saya teringat kejadian batalnya seluruh kereta ke Brussel pagi tadi, saat saya menceritakannya pada Dorien dan menanyakan penyebabnya dia hanya menjawab santai:
“Maybe somebody stole the cable, it has copper inside so they could sell it. By the way, it’s normal here”
Ternyata pencurian kabel juga eksis di Eropa, tidak jauh berbeda dengan fenomena yang marak terjadi di Indonesia.
KL University and The Longest Bar
Beguinage of Leuven
Ki-Ka : Dorien, Andreas, Titis

Gent: Reuni bersama Tine dan Valerie

Hari kedua di Belgia saya menghabiskannya di Gent. Di sana Tine sudah siap menjemput dan kami akan berkeliling serta bertemu Valerie. Siapa yang menyangka saya bisa mengunjungi kota asal mereka ini? Tine juga menghabiskan akhir tahun di Slovenia bersama saya, Dorien, dan teman-teman IAAS sedangkan pertemuan saya dengan Valerie kali ini akan lebih heboh setelah liburan musim panas 2010 lalu kami pergi ke Pulau Seribu bersama.
Tine menjemput saya di stasiun utama Gent, begitu tiba saya tidak kebingungan. Kami berkeliling kota, melihat Kasteel Gravensteen, jembatan dan deretan bangunan sejajar aliran sungai. Tine menjelaskan keunikan arsitektur bangunan khas negerinya yakni di bagian atap berbentuk segitiga yang berderet rapi di pinggir jalan. Kalau diperhatikan aksen segitiga bersusun ataupun kubah (sebagai modifikasi segitiga) di bagian atap bangunan akan memberikan kesan mewah karena sebetulnya bentuk atap di belakangnya tetaplah kotak dan rata.
Kami menyisir pinggir sungai Leie meski tidak sebesar Sheine, Reine, ataupun Vltva River, aliran air ini menambah cantik kota, memberikan kesan tenang. Kami melewati lantai dasar sebuah bangunan yang sebetulnya tertutup untuk umum karena dalam masa perbaikan. Tine ingin menunjukkan spot favoritnya, lalu dia meminta izin pada pekerja bangunan untuk lewat. Izin diterima, ternyata tembok sepanjang lorong tersebut sedang dicat. Pekerja artistik itu membuat desain grafis di tembok berlatar bayangan manusia dengan campuran warna biru, pink, kuning, dan hijau. Sebuah tontonan menarik lainnya, kami melihat betapa detail karya yang ingin mereka ciptakan.
Tine berseru “Moooiiii…!” (cantik, red)
Kemudian lelaki itu menyahut “Dankt U!” (terima kasih, red)
Sembari berjalan Tine mengajari saya beberapa ungkapan dalam Bahasa Belanda, namun ingatan saya ini hanya merekam apa yang sudah familiar digunakan di Indonesia seperti “Tante”, “kantor”, dan “Bank”. Kami menuju kebun kecil yang tidak banyak turis, di sana rerumputan masih hijau. Perjalanan berlanjut ke jembatan St. Michael yang paling tinggi dan lebar di pusat kota Ghent, Tine menjelaskan kalau jembatan ini adalah lokasi favorit para turis karena dari titik ini kita bisa melihat aliran sungai Leie yang melintasi kota juga tiga bangunan bersejarah yang menjadi landmark Gent yaitu St. Michael Church, Saint Bavo Cathedral, dan Belfry of Ghent. Iseng saya bertanya patung apa yang bertengger di atas menara lonceng itu. Biasanya ada patung ayam yang duduk di atas anak panah penunjuk arah namun sepertinya yang ini berbeda. Ternyata patung itu adalah naga. Konon naga adalah makhluk pelindung kota sehingga penduduk mengabadikannya di atas menara.
Berbicara soal kuliner di Belgia rasanya tidak lengkap tanpa fritas atau kentang goreng, coklat, dan waffle. Lagi-lagi Tine meluruskan anggapan saya yang awalnya mengira kalau makanan pokok orang Belgia setiap harinya adalah kentang goreng. Semua bisa terkena obesitas kalau mengonsumsi fritas setiap hari. Benar saja, ketika memesan fritas di sebuah café untuk makan siang porsi ukuran small saja sudah membuat perut saya mengirimkan sinyal “kenyang”. Pesanan kami baru saja tiba bersamaan dengan kemunculan Valerie yang tampil santai dengan syal biru tua senada dengan celana jeans dan jaket kulit berwarna cokelat, tidak banyak berubah tetap dengan rambut bob pendeknya. Valerie kini bekerja sebagai Product Specialist di salah satu perusahaan coklat Belgia.
Kami bertiga kini melihat kehidupan mahasiswa Gent University. Tine dan Valerie menunjukkan fakultas mereka dulu, keduanya kini telah menjadi alumni. Perpustakaan utama Gent University terletak di sebuah gedung tua berlantai 5. Saking tuanya kini mahasiswa yang meminjam buku harus memesan terlebih dahulu pada petugas perpustakaan lalu mereka akan mengambilkan pesanan para mahasiswa karena tidak boleh terlalu banyak orang yang naik ke atas gedung tersebut. Perpustakaan utama kampus akan segera dipindahkan, itu kata Tine dan Valerie. Mereka juga menunjukkan gedung olahraga dan conference hall tempat berbagai kegiatan mahasiswa diadakan. Apa daya waktu juga yang akhirnya menutup pertemuan kami. Matahari mulai turun di barat, Tine dan Valerie mengantar saya ke stasiun. Kembali adegan perpisahan diputar.
“It was a great brighter day, seems like you brought warmness in Belgium”
“Yeah, everyday is cloudy and rainy here but today is totally different. Just come again someday!”
Perpisahan yang manis dengan kalimat yang akan membawa kami pada pertemuan selanjutnya suatu hari nanti ^_^
Sungai Leie (Foto dari Jembatan St. Michael)

Ki-Ka: Tine, Titis, Valerie
Saint Bavo Cathedral dan Belfry of Gent

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas komentarnya