Senin, 25 Maret 2013

Pagi


Tirai disingkap, jendela dibuka, terdengar kicauan burung dan ayam berkokok kencang. Selimut ditarik paksa, seketika udara dingin membuat saya menarik kedua lutut mendekap dada, masih belum ingin membuka mata. Tiba-tiba Ayah mengguncang-guncang tubuh sambil terus memanggil saya dengan nada setengah oktaf lebih tinggi dari biasanya.

Ayah : “Mbak, bangun!”
Saya : “Hmmm…”
Ayah : “Ayo Mbak, gunakan masa pagimu sebelum datang masa siang”
Saya : hanya mengucek mata, mengumpulkan energi untuk duduk kemudian terkulai kembali memeluk guling
Ayah : “Mbak! Jangan kalah sama matahari!”

Kaget seketika mendengar teriakan Ayah. Saya langsung duduk, melihat ke jendela, sinar fajar perlahan muncul namun jendela masih tertutup, selimut hanya bergeser ke kaki saya, sedangkan guling sudah jatuh dari kasur. Ah, ternyata adegan tadi hanyalah mimpi.
Sampai hari ini, setelah 3 tahun kepergian Ayah kembali ke sisi-Nya secara rutin Tuhan mempertemukan kami melalui mimpi. Terkadang Ayah datang 2 minggu sekali atau sebulan sekali, mengingatkan saya akan nasehat yang sering beliau sampaikan atau mengajak saya melakukan hal-hal yang sering kami lewati bersama. Tuhan Maha Tahu bagaimana menguatkan hamba-Nya. 

1 komentar:

Terima kasih atas komentarnya