Jumat, 22 Maret 2013

Empati


11.01 p.m            1 missed call – open – Uul

Uul adalah sahabat saya sekampus yang berasal dari kota yang sama. Saya tidak berinisiatif untuk sekedar menanyakan “ada apa?”. Biasanya dia menelepon untuk mengabari kalau dia sedang ad adi gunung A atau telaga B atau kawah C, barangkali malam ini Uul sedang menemukan sinyal saat berada di belantara hutan Kalimantan sana.

Esok pagi
05.00 a.m   3 missed call – open – Uul
                  1 new message – read – From: Uul “Tis, kamu kerja di Garuda?Aku butuh tiket pesawat”
                                                         Reply – “Bukan Ul, aku kerja di perusahaan susu”

07.00 p.m   1 new message – read – From: Jarkom* “Innalillahi wainnaillaihi roji’un, teman-teman Ayah Uul meninggal kemarin. Mari kita doakan dan semangatin Uul”

Kaget bercampur sedih dan rasa bersalah, saya segera menelepon Uul.

Uul    : “ Halo, Asslamualaikum..”
Saya : “Waalaikumsalam Uul, Bapakmu meninggal kemarin? Innalillahi Uul maaf, aku nggak angkat teleponmu, nggak tanya kenapa nyari tiket pesawat, bahkan nggak tanya ada apa?”
Uul    : “Hehehe..nggak apa-apa Tis, aku panik, bingung mau cerita”
Tes..tes..tes..pipi saya basah, sementara Uul di seberang sana terdengar cengar-cengir tanpa beban.
Saya  : “Gimana di rumah? Ibu dan Adikmu sehat semua kan?”
Uul    : “Alhamdulillah, kamu gimana? Sehat juga kan?”
Saya  : “Iya, maaf belum bisa takziyah”
Uul    : “Doanya yang penting Tis”
Saya  : “Insya Allah selalu Ul, kamu yang kuat ya..”

Tiga tahun lalu ketika saya mengalami musibah yang sama, Uul adalah orang yang ikut sibuk menawarkan tiket pulang. Dia bertanya pada saya mau dicarikan tiket bus, kereta, atau pesawat, namun kali ini saya merasa tidak bisa berbuat banyak. Semoga Bapaknya Uul khusnul khatimah dan diampuni dosa-dosanya, serta seluruh keluarganya dikuatkan. Amiiin…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas komentarnya