Rabu, 13 Februari 2013

Reuni Akhir Tahun di Slovenia

Ljubljana, 27 Desember 2011
Pesawat membawa saya melintasi bagian selatan Eropa menuju salah satu negara di daratan Balkan. Slovenia, the chicken shape country seringkali orang tertukar dengan Slovakia padahal kedua negara tersebut tidak saling berdekatan. Pesawat mendarat di ibu kota Slovenia bernama Ljubljana, usai mendarat dengan selamat saya harus naik shuttle bus menuju pusat kota. Perjalanan menuju central station memakan waktu sekitar 60 menit, saya duduk berdampingan dengan seorang gadis berambut panjang bergelombang. Dia mengenakan jaket kulit kecoklatan, syal dengan warna senada membalut lehernya, anggun dan modis. Penumpang lainnya adalah ibu-ibu yang juga baru tiba dari Paris, kami semua satu pesawat namun tidak berbicara banyak apalagi saling berkenalan.
Sesuai dengan apa yang teman saya jelaskan via email, akan ada orang yang menjemput di meeting point. Saya berkeliling sebentar di sekitar stasiun, sekedar mengambil peta dan orientasi tempat. Beberapa menit kemudian akhirnya saya bertemu Vito dan Blaz, mahasiswa yang menjemput saya dan mengantarkan ke tempat acara berlangsung. Selama seminggu saya akan berkeliling di beberapa kota di Slovenia untuk mengikuti pertemuan sebuah organisasi internasional bidang pertanian. Sebelum menuju kampus University of Ljubljana, kami menunggu beberapa peserta lainnya, lalu tibalah Neo dan Sean dari USA, juga Cristian dari Chile yang langsung histeris memanggil nama saya. Kami bertemu di Mexico pada musim panas dua tahun sebelumnya.
Hari perlahan menjadi gelap, kami melanjutkan percakapan dalam mobil menuju asrama kampus, tempat pertemuan akan dibuka. Saat menemui panitia di meja registrasi, tiba-tiba semakin banyak wajah yang lama dikenal mulai memanggil nama saya. Ketika saya menengok, di sanalah Anthonio, Lyda, Andrea, dan lebih mengagetkan ketika mata saya bertemu dengan mata seorang gadis berjaket kulit, anggun, modis, yang duduk di samping saya selama perjalanan dari bandara ke pusat kota. Namanya Dorien dari Belgia, seketika kami langsung tertawa menyadari kebodohan kami yang tidak menyapa satu sama lain sejak keluar pesawat. Itulah awal keakraban kami. Malam pertama diisi dengan upacara pembukaan. Hidangan makan malam disiapkan, beberapa lagu dan tarian khas Slovenia digelar, kami saling berkenalan, sebagian besar nama telah saya kenal, ini seperti reuni sekaligus ajang mengenal wajah-wajah baru yang tidak kalah seru. 
Teman sekamar saya selama di Slovenia adalah seorang gadis Swedia berambut pirang mirip boneka Barbie, namanya Sara, dan satu orang lainnya adalah Irena, gadis Kroasia yang juga saya temui di Mexico tahun 2009 lalu. 
Old Town Ljubljana
Keesokan harinya kami berkeliling pusat kota. Tur dimulai dari pengenalan kampus, Klemen sang fotografi menjelaskan banyak tentang gedung parlemen,  makanan khas Slovenia dan menjelaskan setiap aktivitas mahasiswa di sana. Kami juga diajak mendaki sebuah bukit hingga sampai di Ljubljanski Grad, kastil yang berdiri kokoh di atas bukit menghadap old town. Konon, kastil ini dibangun untuk menghadang serangan Ottoman pada abad ke-12. Perubahan sejarah mengubah fungsi kastil menjadi rumah sakit bahkan penjara. Usai turun bukit kami melintasi jembatan yang menjadi landmark Ljubljana, namanya Zmajksi Most atau Dragon Bridge. Patung naga berwarna hijau memenuhi tepi jembatan, menjadi simbol kekuatan dan keberanian. Orang Slovenia berbicara serumpun dengan Bahasa Slavic, hampir mirip dengan Bahasa Rusia, Ceko, Polandia, Kroasia, Serbia, dan negara serumpun lainnya. Bedanya, orang Balkan terlihat lebih ekspresif dibandingkan orang Eropa Timur.

Maribor, 29 Desember 2011
Kota terbesar kedua yang saya kunjungi adalah Maribor, berjarak tiga jam perjalanan dengan bus ke arah utara Slovenia. Cuaca hari itu tidak begitu cerah, perlahan salju tipis turun ketika kami tiba di University of Maribor sesaat sebelum mengikuti kuliah umum bertema Food Diversification. Inilah salju pertama kami, semuanya berteriak riang, ternyata di bagian Eropa lainnya juga belum turun salju sehingga saya tidak terlalu terlihat memalukan saat histeris melihat salju unutk pertama kalinya :-)
Salah seorang pengisi materi kuliah umum adalah seorang Profesor yang menjelaskan tentang rekayasa genetik pada sayur-sayuran untuk mendukung produksi. Kuliah umum terus berlangsung, kami juga mendapat penjelasan mengenai sejarah universitas. Jujur, banyak peserta yang sudah tidak fokus dan terus memandang keluar jendela. Salju semakin lebat, kami tidak ingin hanya berdiam diri. Sayangnya, ketika kami keluar ruangan yang terjadi adalah butiran salju berganti air, gerimis turun. Bagaimanapun cuacanya, tidak pernah menyurutkan semangat kami untuk berkeliling kota. Saya dan Dorien memisahkan diri dari grup menuju The Oldest Grapevine in The World yang telah berdiri selama 400 tahun . Ternyata di sana sudah ada Maxi, Sofia, Giussepe, dan teman-teman dari Italia.

The Oldest Grapevine

Kami berjalan menyusuri sungai Drava sampai petang tiba sebelum kembali ke asrama mengikuti acara selanjutnya yakni Trade Fair, awal dari rangkaian pesta yang akan digelar. Masing-masing perwakilan negara telah mempersiapkan segala makanan dan minuman khas untuk dibagi-bagi pada semua negara lain. Senasib dengan Sylvia dari Polandia yang datang sebagai perwakilan tunggal, maka kami sepakat untuk menyiapkan hidangan sederhana dan membagi satu booth untuk berdua. Sylvia menyajikan vodka dan pretzel, sementara saya membuat mie goreng rasa sate. Lucunya lagi, atribut yang kami bawa pun minimalis. Saya hanya membawa bendera merah putih yang dipinjam dari KBRI Praha, itupun kami bagi berdua dengan sedikit trik mengingat warna bendera Indonesia dan Polandia hanya berbeda letak saja. 

Malam Pergantian Tahun di Oslinica

Kami berpindah ke bagian selatan Slovenia, nama kotanya Oslinica. Acara berikutnya yaitu training, focus group discussion, excursion, juga new year eve party digelar di sana. Panitia menjanjikan sebuah tempat yang tenang dan private party untuk menyambut kedatangan tahun 2012. Sebelum tiba di lokasi, kami diajak mengunjungi gua yang masuk dalam UNESCO's World Heritage yaitu Skocjan Cave. Gua ini berada di bawah pegunungan karst yang mengalir sungai Reka di atasnya. Saya berkeliling gua bersama pacar Blaz yang mengambil kuliah kehutanan di Jerman. Kami berbagi cerita masing-masing tentang petualangan di alam bebas, ternyata dia begitu mencintai gua, dia sangat bersemangat bahkan sebelum kami masuk gua. That place was just into her!
Sayangnya saya berjalan jauh di belakang pemandu yang menjelaskan seperti apa pembentukan stalaktit dan stalakmit, aliran sungai bahkan vegetasi di sekitar gua. Kami tidak boleh memotret di dalam gua, kata flash dari kamera akan merusak batuan. Ini pertama kalinya saya melihat gua di Eropa, ada sungai bawah tanah mengalir deras puluhan meter di bawah jembatan yang saya pijak. Jalan yang sempit, berliku, dan gelap, namun semua itu terbayar indah ketika pintu gua raksasa menyambut kami diiringi dengan kicauan burung dan suara dari air terjun. Tanpa disadari selama menjelajahi gua kami berjalan menanjak sehingga untuk kembali ke pintu masuk kami harus naik funicular. 
Sungai Reka di Skocjan Cave

Bus terus melaju ke selatan, perbukitan di kanan-kiri jalan sudah memutih, dari jendela bus saya bisa melihat salju turun semakin lebat. Perlahan mata ini mulai sayup dan tertidur, belum pulas saya memejamkan mata tiba-tiba Sebastian teman saya dari Swiss heboh membangunkan saya
"Titis, snow is falling, come on! It must be the first time for you.."
"Hey I am sleepy.."
"Look, I am over excited and this is not my first moment though"
Tawa teman-teman pecah, ada seorang gadis tropis yang sedang diledek. Terpaksa saya bangun dan tersenyum malu. Kemudian mulai memandang kagum ke arah jendela, ada benarnya juga Sebastian, saya tidak boleh rugi. Tine, sahabat saya dari Belgia memberi komentar singkat ketika melihat saya termenung menatap salju:
"I know how you feel, same like what I felt when I saw tropical beach in your country last year"
Saya tidak bisa lagi menemukan kata-kata yang tepat untuk mengungkapkan kekaguman sekaligus kebahagian pengalaman pertama melihat salju, sementara teman-teman di Praha belum mengalami kejadian serupa. Kami diberi waktu untuk mampir berbelanja ke supermarket. Waktu yang tadinya hanya diberikan sebanyak 40 menit mendadak molor karena teman-teman mulai bermain bola salju di lapangan parkir. Arahan panitia untuk segera masuk ke bus sedikit diabaikan, kami tidak peduli, terus berteriak, membentuk bola salju dan saling melempar.
Agenda workshop, seminar, focus group discussion masih berlangsung. Kami bermalam di penginapan yang indah di bawah gunung bersalju. Pada malam pergantian tahun, kami mengucapkan "Happy New Year!" sejak enam jam sebelumnya sesuai waktu tengah malam di Indonesia, sampai keesokan paginya ketika USA baru erganti kalendar. Puncaknya adalah perayaan bersama kembang api dan bersamaan membuka champagne kemudian saling mengucapkan selamat serta harapan untuk setahun ke depan. 

Penginapan di Oslinica

Big family of IAAS

Tujuh hari sudah kami berkumpul di Slovenia, pertemuan sudah usai, ada yang memperpanjang agenda jalan-jalan ke negara sekitar seperti Korasia dan Serbia, ada juga yang harus kembali ke negara masing-masing. Pertemuan selalu berujung pada perpisahan, kami berjanji untuk bertemu lagi di belahan dunia lainnya suatu hari nanti. Saya akan menempuh perjalanan kembali ke Praha dengan kereta melewati Vienna dan akan singgah selama sehari di sana. Saya kembali ke pusat kota Ljubljana bersama Ricardo, Elisa, Tomas, Pedro, Dinis, Andrea, dan teman-teman dari Portugal. Saya masih punya beberapa jam sebelum kereta ke Vienna berangkat pada pukul 4 sore. Kami berkeliling city center, mencari hostel karena Elisa dan kawan-kawan akan kembali ke Portugal esok harinya. 
Dinis sibuk mencari oleh-oleh untuk pacarnya yang mengidolakan Alpen, sedangkan Elisa sibuk menangkap setiap sudut yang unik di kamera DSLRnya. Tomas terus saja bertanya bagaimana caranya ke Indonesia, karena dia sangat ingin berselancar di pantai tropis. Mereka mengantar saya ke stasiun, persis sampai di pintu kereta, suatu hari kami akan bertemu lagi :-)


2 komentar:

  1. Oh my GOD, It's YOU TITIS!!! IAAS.... Buset berburu cerita perjalanan ke Slovenia, yang muncul kisahmu, hahahahah.... yaudah deh, I contact you by FB.... need more detail about it. Thanks

    BalasHapus

Terima kasih atas komentarnya