Jumat, 25 Januari 2013

Semalam di Paris


“Tenang Tis, di Paris nanti kita nginep di tempat temen SMA gue” kata Agy beberapa hari menjelang keberangkatan kami
“Oke Gy, jadi gue nambah kenalan” menyahut dengan riang
Beruntung kami tidak perlu mencari-cari hostel dan bisa menghemat pengeluaran. Sebelum tiba di Paris, Agy mulai mengenalkan teman yang akan menampung kami itu via twitter. Namanya Aussie, dia mahasiswa UGM yang juga sedang mengikuti exchange program dari Erasmus Mundus. Setelah Agy mengenalkan kami via dunia maya, seolah nama itu tidak asing lagi meski terdengar jarang untuk orang Indonesia. Ternyata, Facebook menjawab rasa penasaran saya. Aussie adalah putra Prof. Muladno, dosen saya di Fakultas Peternakan IPB. Setahun yang lalu saya sempat melihat dia bersama Pak Dosen di sebuah pameran peternakan nasional. Lagi-lagi dunia seolah sempit.
Aussie memberikan arahan bagi kami bagaimana menjangkau tempat tinggalnya setelah tiba di bandara Beauvais, Paris. Hari sudah berganti petang saat kami tiba, tidak sulit mencari stasiun metro dan memahami jalur transportasi umum di Paris apalagi petugas di stasiun fasih berbahasa Inggris dan sepertinya telah terbiasa dengan turis. Kami sempat salah menyusuri jalanan ketika mencari alamat apartemen Aussie, namun tidak berapa lama akhirnya kami bertemu. Aussie tinggal dengan keluarga campuran Prancis-Indonesia yang dikenalkan oleh teman Ibunya. Berhubung saya hanya punya waktu kurang dari 24 jam di Paris, maka malam itu juga kami menuju tempat pertama yang menjadi tujuan para turis, menara Eiffel.
Malam, Eiffel dan lampu kota, Paris, perpaduan yang indah. Musim dingin bukan lagi menjadi alasan turis untuk berhenti mengunjungi landmark benua biru ini, setiap sudut kota tetap ramai. Banyak pendatang dari Afrika yang menjual souvenir, sampai kami harus pandai-pandai memilih spot untuk mengambil foto bersama. Kami berjalan menyusuri taman di bawah menara, melihat kokohnya pilar-pilar yang menopang bangunan setinggi lebih dari 300 meter itu. Perlahan kami meyusuri pinggi sungai Seine, berbagi cerita tentang pengalaman belajar masing-masing. Tiba-tiba Aussie bersenandung ”Someone Like You” menirukan Adele seperti di video klipnya.
Banyak tempat menarik di Paris, rasanya tidak lengkap kalau belum berkunjung ke Museu de Louvre yang menyedot lebih dari 8000 pengunjung setiap tahunnya. Aussie sendiri entah sudah berapa kali ke Eiffel dengan turis yang berbeda-beda, dia juga mengaku selama tinggal di Paris belum semua tempat menarik ia jelajahi, jadi sebelum kembali ke Indonesia dia memutuskan untuk tidak ke negara lain namun menamatkan edisi petualangan di tempat yang ia singgahi sekarang. Perjalanan ke Paris kali ini seperti bukan tujuan utama saya, karena memang ini adalah titik keberangkatan saya menuju Ljubljana, Slovenia untuk mengikuti kongres organisasi mahasiswa pertanian internasional.

Titis - Agy - Aussie

Pesawat yang akan membawa saya ke Slovenia berangkat pukul 11 esok harinya, pagi buta setelah menyantap croissant saya segera diantar Agy dan Aussie ke stasiun metro yang akan membawa saya menuju Bandara Charles de Gaule, sementara mereka berdua melanjutkan agenda jalan-jalan di Paris. Untunglah saya turun di terminal yang tepat sehingga tidak sulit untuk menemukan gate tempat saya menuggu waktu boarding. Tanpa bertanya, dengan mata awas sembari mengikuti petunjuk di bandara saya terburu-buru mengejar penerbangan ke Ljubljana. Entah mengapa Bahasa Prancis yang kata orang seksi, ternyata tidak mudah untuk saya cerna. Begitu sibuk bandara terbesar di Paris ini ternyata, untunglah petunjuk yang terpasang di sepanjang koridor mudah dibaca.
Saya tiba di check in counter tepat pada waktunya. Kemudian saya mulai sedikit panik dengan ransel yang menempel di punggung, rasanya sudah pasrah kalaupun disuruh membayar lebih untuk memasukkan barang saya ke kabin. Pada penerbangan sebelumnya ransel merah yang menemani saya Eurotrip itu selalu lolos pemeriksaan, atau saya sudah harus menyediakan beberapa puluh Euro untuk membayar denda. Biasanya saya akan memilih masuk pesawat di barisan terakhir sehingga petugas tidak lagi memiliki banyak waktu untuk memeriksa tas para penumpang. Syukurlah, pemeriksaan tidak berjalan ketat dan saya bisa membawa Si Merah ke dalam pesawat. Saya mendapat tempat duduk di samping jendela, terlihat kabut mulai turun sedangkan pesawat tidak juga tinggal landas. Beberapa menit kemudian saya mulai mengantuk dan sayup-sayup terdengar kapten pesawat mengumumkan bahwa penerbangan ditunda karena alasan cuaca. Sementara semua penumpang sudah berada di pesawat tanpa bisa banyak bergerak. Kurang lebih dua jam kemudian saya terbangun dan mendapati pesawat bersiap tinggal landas, membawa saya ke salah satu negara di daratan Balkan. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas komentarnya