Senin, 07 Januari 2013

Santiago de Compostela, 17 Desember 2011


“Bienvenida a la Espana Nduk!” sambut Mas Yogha dari ujung telepon. Mas Yogha adalah senior saya dan Agy di IPB yang sedang melanjutkan S2 di University of Santiago de Compostela.
Hari telah berganti malam saat kami tiba di ibu kota provinsi Galicia yang terletak di bagian barat daya Spanyol itu. Saya dan Agy menumpang shuttle bus menuju pusat kota, di sana Mas Yogha akan menjemput kami. Selama lima hari berikutnya kami akan menghabiskan liburan di kota tujuan camino ini. Singkat cerita, camino merupakan ritual ziarah para pilgrim (pengembara) yang konon mengikuti rute salah satu pengikut Jesus. Para pilgrim berjalan dari pegunungan bagian selatan Prancis sampai ke katedral St. James kemudian memperoleh sertifikat pengakuan sebagai de Compostela.
Mas Yogha tinggal di sebuah flat bersama 2 orang mahasiswa asal Protugal, berhubung mereka sedang mudik maka kami berkuasa penuh atas flat tersebut. Santiago de Compostela adalah kota kecil yang kondusif untuk belajar. Penduduknya ramah dan banyak mahasiswa universitas berseliweran di seantero kota mulai dari taman, pusat perbelanjaan sampai bar dan café. Kami sudah mengumpulkan informasi dari internet tempat mana saja yang ingin kami kunjungi, namun sekali lagi karena ini liburan jadi kami bebas membiarkan mood mengatur waktu jalan-jalan.
Apa yang kami lakukan selama di sana? Benar-benar seperti di rumah sendiri, berhubung Mas Yogha sedang ujian maka saya dan Agy harus mengurus diri dan berpetualang tanpa banyak campur tangan tuan rumah. Dapur flat sudah berhasil kami acak-acak dengan uji coba menu yang kami masak. Sesekali kami pergi ke taman menikmati matahari sore di musim dingin yang masih ceria menampakkan diri. Bahkan kami pernah bermalas-malasan hanya di flat seharian menunggu seorang petugas memperbaiki kunci pintu. Lucu juga kalau mengingat saya harus mengira-ngira apa yang dimaksud petugas itu berhubung pengetahuan Bahasa Spanyol saya tidak bisa diandalkan.
Kiri ke kanan: Agy - Titis - Yogha

The City of Art, Galicia
Pada suatu sore yang cerah, akhirnya Mas Yogha sempat mengajak kami mengunjungi museum yang baru dibangun bernama The City of Art, Galicia. Bangunan museum dari kejauhan tampak bergelombang dengan bahan utama dari bebatuan. Museum yang dirancang oleh Peter Sheinman, seorang arsitek Amerika ini belum sepenuhnya selesai. Kelak museum ini akan menampung karya-karya seni khas Galicia. Di dalam museum ada perpustakaan, lukisan yang bersambung vertical menghiasi tiang-tiangnya, dan yang paling saya ingat adalah bola besar yang terbuat dari tumpukan buku yang menjadi simbol “World of Knowledge”.
The night was still young, kami menuju landmark kota yakni katedral St. James untuk mengambil foto kemudian Mas Yogha mengajak makan malam di salah satu café favorit mahasiswa usai jam kuliah. Sesuai dengan apa yang diceritakan beberapa teman kami dari Spanyol di kampus, maka wajib hukumnya menyicipi seafood a la Galicia. Kami memesan pulpo (sejenis gurita), cumi goreng, french fries, dan scrambled egg. Menunya memang biasa, berhubung di Ceko seafood segar jarang ditemukan jadi kali ini terasa begitu spesial. Pada malam berikutnya kami menghabiskan waktu di sebuah bar yang tidak berlalu ramai, sangat nyaman untuk ngobrol dan pelayannya begitu ramah. Untunglah kami sempat menyaksikan pertunjukan spesial yang hanya digelar pada hari-hari tertentu. Awalnya semacam stand up comedy, ada seorang pria ber-monolog selama 15 menit kemudian disambut oleh tawa renyah penonton sementara Mas Yogha sesekali menjelaskan apa maksudnya pada kami. Pertunjukan dilanjutkan dengan parodi dan sesi improvisasi, pemerannnya adalah sang pelayan bar bersama gerombolan teman-temannya. Meski dialog yang dilontarkan dalam Bahasa Spanyol namun sesekali kami menangkap lelucon dari gerakan yang mereka peragakan.
Agenda jalan-jalan di Santiago de Compostela pada hari berikutnya adalah mengunjungi sebuah galeri seni. Ada pameran lukisan dan film dokumenter. Kami menonton sebuah film pendek berjudul Bantar Gebang yang dibuat oleh sutradara berkebangsaan Belanda. Judul film tersebut tertulis Bantar Gebang, Bekasi tanpa menambahkan “Indonesia” di belakangnya. Ada untungnya juga sebab latar film yang menyoroti situasi pagi hari di salah satu sudut tempat pembuangan akhir sampah kota Jakarta itu menurut saya bisa memberi kesan buruk akan Indonesia di mata internasional.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas komentarnya