Jumat, 25 Januari 2013

Barcelona, 23 Desember 2011


Perjalanan berlanjut di bagian lain Spanyol yang disebut dengan daerah Catalunya. Provinsi yang terletak di bagian timur laut negeri matador ini menggunakan bahasa daerah yang berbeda dengan bahasa Spanyol yakni Catalan. Sejumlah tempat telah kami diskusikan saat masih berada di flat Mas Yogha di Santiago de Compostela. Selain saya, Agy, dan Mas Yogha, ada dua teman yang menambah ramai perjalanan kami yaitu Zeki dan Vina yang sedang menyelesaikan studi di Paris.
Hari pertama kami berkunjung ke markas Barcelona Football Club yakni Camp Nou. Beruntung kami masih tergolong sebagai pelajar sehingga harga tiket masuk yang harus dibayar hanya 16 Euro saja. Pintu pertama mengelilingi camp Nou adalah museum yang menyimpan sejarah klub, berbagai piala dan prestasi, riwayat pelatih, serta tentunya pemain yang dibesarkan di sini. Saya juga baru tahu kalau Barcelona bukan hanya memiliki Football Club namun juga ada Klub Basket, sesuai dengan slogannya “Mes que un club” atau More than a club. Kami puas mengambil gambar dan memandang kagum gambar-gambar pemain sebakbola serta potongan masa kejayaan tim, saya pribadi yang kurang mengikuti dunia sepak bola tidak berhenti berkata “Oo” atau hanya berkomentar “Wah!” saking kagumnya atas usaha manajemen klub mengabadikan sejarah olahraga sebagai pelajaran berharga bagi generasi di masa yang akan datang.
Usai berkeliling museum, seluruh pengunjung Camp Nou bisa merasakan langsung duduk di tribun penonton mulai dari VIP sampai tempat duduk pemain tepat di pinggir lapangan hijau. Sepak bola seolah menjadi “agama” baru bagi orang Spanyol, mereka memuja kehebatan para pemian dan tergila-gila dalam setiap pertandingan. Itulah mengapa dunia olahraga bukan sebatas kompetisi saja di dunia barat namun sudah menjadi lapangan bisnis yang menjanjikan karena sektor ini bukan hanya memberikan kepuasan fisik bagi banyak orang seperti bisnis makanan, properti, atau jasa. Lebih dari itu, bisnis ini memberi kebanggaan akan suatu bangsa. Berkaca pada kondisi bisnis olahraga di dunia barat, tiba-tiba saya menghela nafas saat teringat kondisi sepak bola di tanah air.
Perjalanan di Barcelona berlanjut menuju dataran tertinggi di kota ini bernama Ti Bi Da Bo. Kami naik funicular untuk mencapai titik tertinggi bukit tersebut, di sana berdiri sebuah katedral yang sedang dipersiapkan untuk perayaan Natal keesokan harinya. Saat berada di funicular, kami duduk berhadapan dengan seorang Bapak yang membawa dua orang anak kecil yang salah satunya berdarah campuran Indonesia-Spanyol. Namanya Santi dan dia bisa berbahasa Indonesia. Kami sempat berfoto bersama saat tiba di Ti Bi Da Bo sebelum akhirnya berpencar masing-masing menikmati sarana yang disuguhkan untuk para wisatawan.
Matahari sore menemani perjalanan kami kembali ke pusat kota Barcelona, rasanya tidak percaya kalau saat itu kami berada di akhir Desember yang seharusnya sedang mencapai puncak musim dingin. Kami menyusuri La Rambla, jalanan yang penuh dengan pedagang souvenir dan musisi jalanan. Pemilik hostel sempat mengingatkan kami untuk berhati-hati dengan pencopet dan beberapa permainan yang menipu. Banyak wisatawan telah menjadi korban, sehari sebelumnya bahkan Vina memergoki orang yang akan membuka tasnya. Malam itu, kami berbelanja bahan-bahan makanan untuk dimasak sendiri di hostel dalam rangka penghematan anggaran jalan-jalan.
"Camp Nou"
Ki-Ka: Yogha - Titis - Ervina - Zeki - Agy

Ti Bi Da Bo

Bersepeda di Barcelona 

Hari kedua, kami bersiap-siap lebih dini. Rencana hari ini lain dari sekedar jalan-jalan karena kami akan menyewa sepeda dan berkeliling Barcelona. Tujuan hari ini adalah Museu Nacional D’Art de Catalunia dan Montjuic Castle. Seharian kami menghabiskan waktu di Montjuic Castle, mengunjungi Estadi Olimpic de Montjuic, semacam gelanggang olahraga tempo dulu, kemudian naik kereta gantung menuju benteng pertahanan yang langsung berhadapan dengan lautan. Dunia mengenal Colombus sebagai penemu benua Amerika yang awalnya ingin menemukan daratan India. Benteng ini menjadi saksi lahirnya pelaut-pelaut ulung dari Spanyol yang menguasai dunia. Saya meilhat betapa sejarah mencatat Barcelona sebagai pintu gerbang dan pusat perdagangan di pesisir laut Mediteran.
Zeki dan Vina sudah memisahkan diri dan kembali ke hostel lebih awal, sementara saya, Agy, dan Mas Yogha masih bersemangat mengayuh sepeda berbekal peta Barcelona menuju Sagrada Familia. Gereja ini dibangun oleh arsitek terkenal bernama Gaudi, sayangnya beliau telah meninggal sebelum bangunan tersebut 100% jadi. Bangunan hasil rancangan Gaudi unik, terinspirasi dari motif natural seperti kuncup bunga hingga gelombang lautan. Dua bangunan hasil karya Gaudi lainnya yang sempat kami lihat adalah Casa Mila dan Casa Batllo di La Rambla. Sayangnya kami tidak sempat melihat bagian dalamnya karena alasan klise yaitu tidak ingin membayar tiket masuk J
Seharian penuh bersepeda keliling kota dan berjalan-jalan di Montjuic membuat kami memutuskan untuk tinggal di hostel saja malam harinya. Kami menghabiskan waktu dengan memasak, makan malam dan ngobrol bersama wisatawan yang menginap di hostel. Ada mahasiswa India yang sedang melanjutkan studi, ada 2 orang gadis dari Kanada yang kemudian berbincang dengan Zeki menggunakan Bahasa Perancis, ada 2 mahasiswa asal Korea Selatan yang sedang mengambil studi di Austria, dan tentunya kami banyak bertanya pada pemilik hostel, seorang pria berkebangsaan Israel. Ini bagian yang menjadi seni dari sebuah perjalanan, mengenal orang lain. Sesekali kami menyeduh teh sambil terus ngobrol bahkan sambil tebak-tebakan nama ibu kota suatu negara.
Hari ketiga di Barcelona, saya dan Agy mempersiapkan diri menempuh perjalanan ke tujuan berikutnya yaitu Paris. Seolah tidak ingin kehilangan kesempatan, kami bangun pagi buta dan memanfaatkan sisa waktu sebelum habis masa sewa sepeda untuk pergi melihat matahari terbit di pantai. Pagi yang cerah, angin laut berhembus pelan, dingin, namun tubuh telah menghasilkan panas bersamaan dengan energi yang dibakar saat mengayuh sepeda. Di pinggir pantai ada sebuah tugu yang melambangkan beberapa aktivitas olahraga seperti renang, basket, dan atletik.
Kegiatan bersepeda masih berlanjut menuju Park of the Ciutadella, sebuah taman yang berada di pintu gerbang Barcelona Zoo sayangnya kami belum bisa mengunjungi kebun binatang yang masih tutup itu. Sepeda kami parkir di dekat pintu masuk kebun binatang dan kami berjalan menuju Arc de Triomf versi lain dari Art de Triomphe di Paris. Monumen serupa juga bisa ditemukan di London (UK), dan Bucharest (Romania). Puas menikmati udara pagi di taman kemudian kami menuju Barcelona Cathedral atau dalam Bahasa Spanyol dikenal dengan Catedral de la Santa Cruz y Santa Eulalia. Katedral ini bergaya gotik dengan atap prisma berwarna kehitaman, berbeda dengan gaya modern rancangan Gaudi. Waktu terus berlalu, hari beranjak siang, saya dan Agy bergegas mempersiapkan diri menuju kota yang selalu dimpikan orang saat berkunjung ke Eropa, pusat sejarah, ilmu pengetahuan, dan mode, Paris. Sementara mas Yogha, Zeki, dan Vina masih di Barcelona sampai dua hari berikutnya.

1 komentar:

Terima kasih atas komentarnya