Senin, 24 Desember 2012

Milan, 17 Desember 2011

Apa yang Anda pikirkan jika mendengar kata Milan? Versace, fashion, klub sepak bola, bahkan juga macet. Begitu saya dan Agy naik shuttle bus menuju pusat kota seketika terbesit di mana saat ini kami berada? Terasa familiar, seperti kemacetan di Jakarta.  Tidak seperti di kota sebelumnya, peta dan jalur transportasi umum di Milan jauh lebih mudah dipelajari. Kami cukup menumpang bus dari bandara ke pusat kota lalu naik bus menuju halte di dekat hostel. Setiba di halte tersebut kami bertemu dengan biarawati yang sedang membawa pot pohon natal di halte. Aura hangat yang dia pancarkan membuat kami yakin bahwa dia adalah orang yang bisa kami tanya. Ternyata benar, biarawati tersebut dapat berbahasa Inggris dan kami ditunjukkan arah menuju hostel yang akan kami tinggali. Agy membantu biarawati itu membawa pot yang berisi pohon cemara ke sekolah tempat dia mengajar. Atas kebaikan hati Sang Biarawati, kami mendapatkan peta kota Milan dalam ukuran besar yang lengkap. Rosalia, nama itulah yang saya ingat saat berkenalan dengannya. Seperti salah satu tokoh dalam telenovela, dan benar saja ternyata dia berasal dari Mexico.
Berhubung ini Italia maka tidak akan lengkap rasanya tanpa menyicipi kuliner khas negeri pasta tersebut. Atas rekomendasi resepsionis hostel, kami pergi ke sebuah restoran lokal dan memesan satu porsi besar spaghetti seafood. Saya masih ingat betapa khas cita rasa masakan Italia menempel di lidah. Bahkan saya harus bersusah payah untuk menghabiskan seporsi penuh makanan yang telah dipesan. Usai makan, kami berniat untuk pergi ke katedral di pusat kota Milan, namun apa daya karena sedang ada unjuk rasa pasca mundurnya Berlusconi dari kursi perdana menteri Italia maka seluruh layanan transportasi umum tidak dapat dengan mudah ditemukan. Insiden ini memperrtemukan kami dengan Luisa. Perempuan asli Milan dengan wajah tipikal orang India. Luisa berbicara bahasa Inggris dengan baik, sehingga selama 2 jam kami berbincang sambil berjalan pulang menuju hostel, berbagi cerita mengenai negeri masing-masing. Sayang sekali dia memberikan alamat email yang salah sehingga kami benar-benar kehilangan kontak dengan dia.
Hari berganti, saatnya mempersiapkan diri menuju negara berikutnya yaitu Spanyol. waktu yang tersisa beberapa jam di Milan akan kami manfaatkan untuk mengunjungi pusat turis Milan yakni Plaza Duomo. Selain itu kami juga sepakat mengunjungi Meazza Stadium, San Siro. Konyolnya, usai menyantap sarapan bisa-bisanya saya lupa di mana menyimpan passport. Agy sampai memikirkan bagaimana kami harus ke KBRI Italia di Roma untuk mengurus nasib kami selanjutnya. Saya kembali ke kamar, menyisir seluruh bagian, membongkar kembali ransel, dan klimaksnya passport hijau berlogo garuda itu ditemukan di salah satu kantong jaket yang terus melekat di badanku.
Buang jauh pikiran "Berlibur ke KBRI Mengurus Paspor Hilang" dan kami melangkah menuju tujuan wisata kebanyakan turis yang ke Milan. Plaza Duomo, katedral cantik berdiri anggun di dekat pusat perbelanjaan Milan. Kami kembali mendapatkan pelajaran berharga lainnnya. Saat keluar dari stasiun metro ada sepasang orang Mesir yang menarik tangan kami dan memberikan biji jagung untuk pakan burung. Tiba-tiba banyak burung dara mengerubuti, kami begitu girang sambil mengabadikan beberapa gambar melalui lensa kamera sampai akhirnya kami sadar bahwa tentunya ada harga yang harus dibayar. Perkiraan awal mungkin berkisar antara 5-10 Euro namun ternyata mereka meminta 100 Euro. Agy terus mencoba menawar harga, sementara emosi kami terus meninggi saat mereka meminta sejumlah uang dengan embel-embel sesama muslim. Bukan perkara berapa Euro yang harus kami keluarkan, lebih dari itu kami merasa tragis atas citra Islam di mata dunia barat. 
Menit berikutnya kami tak lagi ambil pusing dengan orang Mesir itu, kami memberinya 15 Euro tanpa penawaran lagi. Jumlah itu seharga dengan 3 porsi kebab, sayang sekali rasanya namun kepalang tanggung karena kami tidak ingin berdebat terlalu lama dan mengganggu jadwal jalan-jalan hari ini. Matahari bersinar cerah meski telah memasuki akhir tahun, syukurlah kami bisa berjalan dengan leluasa. Di Praha saya terbiasa berlari mengejar bus, metro, dan trem karena terlambat sepersekian detik berarti menunggu beberapa menit berikutnya. Rasanya lebih santai naik kendaraan umum di Italia, setelah membaca papan petunjuk trem akan datang tiga atau empat menit lagi. 
Saya tidak ingat lagi berapa kilometer kami berjalan, pastinya kami sempat tertipu ketika melihat Meazza Stadium dari kejauhan dan tidak lagi membaca petunjuk bahwa ada bus yang langsung menuju ke sana. Berhubung cuaca begitu cerah, kami begitu bersemangat berjalan menuju bangunan megah markas AC Milan dan Intermilan itu. Tibalah kami di sana, sepi tanpa pertandingan namun kami tetap bersemangat untuk foto dan melanjutkan perjalanan, menuju bandara, mengejar pesawat yang akan membawa kami ke tujuan berikutnya Santiago de Compostela, Spanyol.

Ki-Ka : Titis - Rosalia - Agy


Meazza Stadium, San Siro, Milan

1 komentar:

Terima kasih atas komentarnya