Jumat, 21 Desember 2012

Bratislava, 15 Desember 2011


Perjalanan panjang menghabiskan liburan musim dingin dimulai. Sudah sejak bulan lalu saya merencanakannya bersama rekan sesama penerima beasiswa dari program yang sama, Agy. Rute yang kami tempuh panjang, sengaja karena alasan harga tiket lebih murah dan ingin berkeliling Eropa. Kota pertama yang kami tuju dari Praha adalah Bratislava, ibukota Slovakia sejak negara ini memisahkan diri dari Ceko sejak 1993. Meski telah berkemas semalam sebelumnya, tetap saja ransel berukuran 75 liter warna merah-hitam harus kembali saya periksa sehingga tanpa disadari waktu berjalan begitu cepat usai kelas terakhir. Aktivitas packing ulang inilah yang menyebabkan saya dan Agy ketinggalan bus yang telah kami pesan. Apa daya, walau telah berlari-lari, hangus juga tiket bus kami sehingga terpaksa harus membeli yang baru.
Kami berangkat satu jam dari waktu yang dijadwalkan dengan tiket dari perusahaan bus lainnya. Setiba di Bratislava rencananya kami akan jalan-jalan sebentar lalu menuju ke bandara dan beristirahat di sana sambil menunggu pesawat yang akan membawa kami ke Milan. Tengah malam di Bratislava, suhu mulai turun, sedangkan saya sama sekali tidak bisa membaca peta berbahasa Slavic tanpa tanda “You Are Here”. Sampai ada seorang gadis mungil berambut pirang yang dengan ramah bertanya “Can I help you?” Petunjuk itu Tuhan berikan melalui seorang Tana Takacova, mahasiswi kedokteran yang pernah mengikuti exchange program di Goettingen University, Jerman dan mengenal beberapa pelajar Indonesia di sana. Dia terlihat begitu girang saat menemukan dua orang Indonesia yang singgah di kotanya.

Malam itu, Tana rela pulang larut untuk menemani kami. Dia mengesampingkan rencana awalnya untuk belajar dan menemani kami ngobrol sambil berkeliling kota, dimulai dari city center, shopping area, presidential palace, Bratislava Castle, melewati bar favorit para pelajar, melihat Novy Most dan restoran berbentuk UFO, sampai menunjukkan dari halte mana kami harus naik bus menuju bandara. Tana adalah tour guide yang jujur, dengan santai dia mengutuk pembangunan pusat perbeelanjaan dan tata kota yang tidak berpihak pada bangunan bersejarah sebagai landmark kota Bratislava. Sesekali dia bercerita tentang sejarah dan peristiwa penting saat kami melewati suatu tempat. Sayangnya kami tidak sempat melihat kampusnya University of Bratislava.
Pelajaran di awal liburan kami ke Bratislava adalah "kita tidak akan tahu untung dan rugi, mari menikmati!". Di balik kesialan saat tertinggal bus, ternyata Tuhan memberikan keberuntungan melalui pertemuan singkat bersama teman baru kami, Tana. Kalau ada yang pernah menonton film Eurotrip, barangkali kalian tidak akan pernah berencana pergi ke Bratislava. Namun kali ini, saya bisa merekomendasikan ibu kota Slovakia ini jika dipandu oleh guide seperti Tana. Semoga beruntung ^_^

1 komentar:

Terima kasih atas komentarnya