Senin, 14 Mei 2012

Nongkrong di Angkringan

Kawula muda yang senang dengan kebiasaan nongkrong di cafe atau mall, barangkali hanya berlaku bagi mereka yang tinggal di Ibu Kota. Berbeda dengan kami yang tumbuh di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur pasti lebih akrab dengan istilah "nangkring" bukan "nongkrong". Tempat untuk nangkring namanya angkringan.

Angkringan adalah warung kopi lesehan yang tersebar di sepanjang jalanan kota. Kopi adalah minuman yang dekat dengan nilai budaya setiap bangsa, dan bagi kami orang Jawa minum kopi sambil duduk lesehan di pinggir lalu lalang kendaraan adalah kebiasaan turun menurun. Angkringan adalah tempat kami untuk saling berbagi informasi, isu-isu politik, kabar terbaru tentang dunia remaja, dunia olahraga khususnya sepak bola, dan berbagai macam masalah hidup lainnya. Tempat ini bukan hanya milik kaum lelaki saja, yang pasti tempat yang murah untuk cangkrukan (ngobrol, red) bersama teman sebaya. Bahkan, saya sudah diajak nangkring oleh saya dulu usai berenang jadi angkringan juga bisa menjadi alternatif untuk menghabiskan waktu bersama keluarga. 
Selain murah dan penuh keramahan, bagi saya pribadi angkringan selalu memiliki kenangan tersendiri. Dulu, pada saat zaman putih abu-abu biasanya pada malam-malam libur sekolah saya pergi bersama teman-teman OSIS dan ekskul untuk nangkring. Pilihan tempatnya beragam, mulai dari aloon-aloon kota, pelataran stadion, kawasan GOR, sekitar jalan baru, dan sebagainya. Kini, saat kami sudah hidup tersebar di kota-kota besar reuni dan angkringan adalah agenda wajib saat pulang kampung. Tidak hanya di kota kelahiran, bahkan saat saya mengunjungi kota lain seperti Jogja, Solo, Surabaya, dan Malang, selalu mampir ke angkringan.



N.B: Meski namanya "Angkringan Mercon Jogja" namun foto tersebut saya ambil di Surabaya, terbukti kalau warung kopi model seperti ini mampu membuka cabang di kota lain. Bisa saja di masa yang akan datang akan merambah bisnis franchise ^_^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas komentarnya