Minggu, 06 November 2011

Idhul Adha Bersama Komunitas Muslim Praha

Bersyukurlah karena kita hidup di Indonesia, negeri yang melindungi hak kebebasan beragama bagi setiap penduduknya karena pengalaman saya kali ini benar-benar membuat saya berulang kali mengucapkan "Alhamdulillah, saya hidup di Indonesia"
Ini memang bukan pertama kalinya saya pergi ke luar negeri dan merasakan betapa kita harus pintar-pintar mengatur waktu ibadah serta mencari tempat suci untuk melaksanakan sholat lima waktu, akan tetapi inilah pertama kalinya saya merayakan hari besar Islam tepatnya Hari Raya Idhul Adha tidak di Tanah Air. Malam tanggal 9 Dzulhijah saya sempat merasa sepi karena tidak ada gema takbir terdengar, lalu saya melihat siaran berita TV dari Indonesia dan ikut merasakan kemegahan suasana lebaran haji di sana. Betapa rindu memaknai semangat hari Raya Kurban di tengah kehangatan keluarga..
Berbeda dengan hari sebelumnya, saat hari berganti menjadi tanggal 10 Dzulhijah saya sangat bersemangat karena akan mengikuti shotal Idul Adha bersama komunitas muslim se-Praha. Sejak subuh saya mempersiapkan diri, memilih baju yang rapi dan sarapan dengan benar supaya khusyuk. Lorong lantai 3 (tempat saya tinggal) masih sepi, belum banyak orang bangun karena matahari pun belum menunjukkan senyumnya. Kemudian saya turun ke lantai 1 sesuai kesepakatan dengan Agy (teman seperjuangan dari Indonesia) bahwa kami akan bertemu di kamarnya pukul 7 tepat. Ternyata lorong lantai 1 telah ramai, semua mahasiswa muslim yang tinggal di asrama CULS (Czech University Life Science) berkumpul di sana. Saya berangkat bersama teman-teman dari Mesir, Yaman, Kosovo, dan Mali menuju Sparta Praha (gelanggang olahraga markas klub sepak bola terkenal di Ceko).
Matahari menampakkan wajahnya di antara kabut yang menyelimuti kota Praha, barangkali suhunya masih berada pada tingkat 5 derajat Celcius. Udara pagi yang dingin tidak lantas menyusutkan semangat saya, karena setiba di tempat sholat Ied saya mendengar ribuan orang datang dan saling menyapa "Assalamualaikum.." dengan logat Arab, Turki, Afgan, Rusia, Melayu juga Ceko. Saya tidak bisa menjelaskan seperti apa perbedaanya, tapi kalimat sapaan berisi doa tersebut terdengar unik saat diucapkan dengan bahasa ibu mereka masing-masing. Subhanallah, betapa indah persaudaraan kaum muslim.
Sholat berlangsung khusyuk, Sang Imam melantunkan ayat pendek begitu fasih dan syahdu. Usai sholat, beliau membacakan doa dalam Bahasa Arab disusul khutbah yang disampaikan dengan Bahasa Ceko. Nada bicaranya menggebu-gebu bak aktivis yang sedang berorasi, sayangnya saya tidak mengerti apa isi khutbah penuh semangat tersebut. Bahkan saat saya bertanya pada Didi (gadis berusia 10 tahun anak Uni Melvi dan Bang Ardian, mahasiswa PhD di Ceko) yang lebih fasih berbicara Bahasa Ceko dibandingkan Bahasa Indonesia tentang apa garis besar dari khutbah tersebut, dia hanya menjawab:
"Didi kurang paham Tante, khotibnya pakai Bahasa Ceko tapi aksen Arab"
-------
Seminggu sebelum Hari Raya Idhul Adha, saya dan teman-teman PPI (Persatuan Pelajar Indonesia) Ceko sempat berbincang-bincang mendiskusikan tempat sholat Ied, lalu kami sepakat tidak mengikuti sholat Ied di KBRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia) dengan alasan ingin merasakan suasana hari raya dengan umat muslim seantero dunia. Total penduduk Republik Ceko sekitar 10 juta jiwa, sedangkan komunitas Muslim di Ceko hanya berjumlah sekitar 15.000 orang (0,1% dari total populasi). Jumlah tersebut tidak sebanyak di Perancis (8%) dan Jerman (5,4%). Hampir di atas 50% penduduk Ceko termasuk dalam golongan atheis. Perayaan hari besar agama tidak masuk dalam libur nasional seperti di Indonesia, kecuali Natal yang bertepatan dengan liburan musin dingin di mana hari raya tersebut sudah menjadi budaya bukan karena mereka benar-benar umat Kristen. Tempat peribadatan pun tidak banyak berdiri karena sulit mendapatkan izin dari penduduk sekitar yang menganggap bahwa kegiatan keagamaan itu bersifat pribadi dan kurang mendukung aktivitas keagamaan di tempat umum.
Makna Idhul Adha yang identik dengan teladan keikhlasan serta ketabahan Nabi Ibrahim serta Nabi Ismail saat Allah menguji keimanannya sungguh terasa bagi saya sekarang. Pengalaman ini sungguh tidak ada apa-apanya dibandingkan ujian yang harus beliau hadapi. Meski tinggal di negara yang mayoritas penduduknya bukan muslim namun saya masih dikaruniai sarana dan kesehatan untuk menjalankan perintah-Nya. Serta persaudaraan antar kaum muslim di manapun kita berada, hendaknya bisa menjadi pemicu untuk dapat senantiasa memperbaiki kualitas ibadah.


3 komentar:

  1. Subhanallah, moga makin menambah rasa syukur kita yaaa :)

    BalasHapus
  2. Meski tak pernah ke ceko, saya turut merasakan perjalanan yang indah ini. (:

    BalasHapus

Terima kasih atas komentarnya