Rabu, 26 Oktober 2011

Zoopark di Chomutov, Republik Ceko

Wisata alam memang menyenangkan. kalau di Indonesia, kapan pun itu tanpa peduli musim kita bisa tetap berpetualang. Berbeda dengan di negara empat musim, karena memasuki musim gugur di mana suhu mulai menurun, matahari jarang menampakkan diri, dan langit selalu dihiasi dengan awan gelap, maka agenda jalan-jalan harus benar-benar direncanakan. Minggu ini saya mengunjungi kebun binatang di Chomutov, Ceko bersama dosen dan teman sekelas mata kuliah Domestic Animal Nutrition and Feeding. Suhu pagi hari menembus di bawah 0 derajat Celcius ditambah rintik hujan, beranjak siang suhu meningkat sekitar 8 derajat Celcius dan agenda ekskursi ke kebun binatang menjadi pengalaman berbeda kali ini.
Di Republik Ceko sebenarnya banyak terdapat kebun binatang seperti di Praha, Decin, Liberec, Ostrava, Brno, dan di kota-kota lain. Zoopark di Chomutov yang terletak di sebelah barat daya Praha berjarak 1,5 jam perjalanan dengan bus ini fokus pada konservasi satwa yang berasal dari Eropa Utara atau dikenal dengan sebutan dataran Scandinavia. Banyak satwa yang belum pernah saya jumpai sebelumnya. Di kebun binatang ini terdapat Safari Park untuk yak, bison, beberapa spesies burung air, monyet, juga karnivora seperti serigala, kucing hutan (lynx), rubah, dan sebagainya. Zoopark Chomutov juga memiliki Ekocentrum, semacam museum yang berisi gambaran koleksi satwa Eropa Utara dan beberapa taman pendidikan untuk pelajar dan anak-anak. Masih di kompleks kebun binatang, terdapat Skanzen yaitu miniatur pedesaan di Ceko berisi rumah tempo dulu dan miniatur peternakan rakyat di sana seperti kandang kuda, domba, ayam, keledai, kelinci, dan burung.

Kunjungan kali ini menjadi semakin menarik saat kami memiliki kesempatan untuk berbincang langsung dengan Zoologist dan Nutritionist di kebun binatang tersebut. Inilah kesempatan yang saya tunggu selama mendalami ilmu mengenai nutrisi hewan, yaitu mengetahui prinsip pemberian pakan satwa. Beberapa bulan lalu, saya sempat berdiskusi dengan teman kuliah dari jurusan Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, IPB. Pada prinsipnya pemberian pakan satwa untuk konservasi harus sesuai dengan pakan alaminya di alam. Hal ini tentu bertolak belakang dengan prinsip pemberian pakan ternak dengan tujuan meningkatkan produksi.
Gambar di bawah ini saya ambil saat mengunjungi feedmill di Zoopark, Chomutov. Pakan yang diberikan untuk karnivora adalah ikan segar, DOC (day old chicken-ayam berumur 1 hari) yang dipotong-potong, guinea pig, dan landak. Sekitar 800 kg ikan segar dibutuhkan kebun binatang ini untuk memenuhi kebutuhan karnivora setiap bulannya. Guinea pig, landak, dan tikus dikembangbiakkan untuk memenuhi kebutuhan pakan kanivora dan diberikan dalam betuk hewan hidup sehingga tidak merubah perilaku berburu yang dilakukan karnivora di habitat aslinya.


Selain itu, ada juga pakan komplit dalam bentuk pelet, crumble, dan puffy crumble untuk memberi pakan satwa lain. Satwa herbivora diberi pakan hijauan dalam bentuk silase atau hay, semua bahan pakan tersebut dipesan dari luar, karena kebun binatang tidak mampu menyediakannya, tepatnya tidak ada lahan untuk memproduksi tanaman serealian maupun hijauan.
Hal yang juga perlu diperhatikan selain bahan pakan itu sendiri adalah tingkah laku satwa tersebut. Misalnya, pada musim-musim gugur seperti ini, hewan merumput seperti yak dan bison akan mengonsumsi chestnut karena biasa dijumpai butiran-butiran chestnut di padang penggembalaan. Oleh karena itu nutritionist pun menyebarkan horse chestnut (sejenis chestnut namun yang tidak dapat dikonsumsi manusia) di padang penggembalaan. Mereka juga sangat memperhatikan waktu makan bagi satwa berdasarkan tingkah laku masing-masing pada keempat musim yang berbeda. Pemberian pakan pastinya juga berkaitan langsung dengan pemenuhan kebutuhan nutrisi. Riset yang dilakukan di Eropa mengenai kebutuhan nutrisi satwa sudah sangat komprehensif sehingga di sini sudah ada standar kebutuhan nutrisi untuk berbagai macam satwa endemik. Hanya saja masih ada kesulitan dalam pemberian pakan untuk burung flamingo sehingga dapat mendukung kesehatan reproduksi satwa tersebut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas komentarnya