Senin, 03 Oktober 2011

Men Sana in Corpore Sano


"Di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat"
Ungkapan tersebut bukan hanya sekedar motto namun sudah menjadi paham dalam kehidupan sehari-hari. Lahir dan tumbuh di tengah keluarga militer, Ayah saya yang seorang polisi selalu mengajari kedisiplinan dalam setiap hal termasuk menjaga kesehatan. Berdasarkan cerita dari Ibu, dulu saya lahir dengan berat mencapai 3,5 kg. Berat tersebut tergolong besar untuk bayi yang baru lahir pada tahun 1990. Sejak kecil saya tidak memiliki masalah dengan makanan, tidak juga dengan alergi. Pola makan saya cenderung teratur dan mudah menerima berbagai macam menu. Sampai memasuki usia sekolah badan saya tumbuh dengan baik, dengan pipi chubby sehingga orang yang melihat saya begitu gemes ingin cubit sana sini. Sampai suatu ketika Ayah mengajari saya berenang, mengajak bersepeda, jalan-jalan pagi, bulu tangkis, juga voli. Saat itu saya masih duduk di bangku SD saat mendengar Ayah berpesan pada Ibu supaya terus mengatur jadwal olahraga saya karena Ayah khawatir dengan berat badan saya yang apabila terus dibiarkan tidak akan seimbang dengan tinggi badan.
Ayah sangat tahu bagaimana mengajak saya bersenang-senang sambil terus berolahraga. Kami berenang bersama pada hari Rabu atau Sabtu sore, lalu bersepeda pada Minggu pagi. Olahraga merupakan agenda wajib keluarga. Perlahan saya beranjak dewasa, Ayah semakin menambah porsi olahragaku dengan jogging setiap pagi. Beliau juga pernah mengajak saya dan adik menelusuri persawahan di desa tempat kami tinggal untuk mencari jamur merang. Saat saya duduk di bangku kelas 3 SMA beliau meminta saya mendaftar ke Akademi Kepolisian, maka dengan penuh semangat kami ke stadion setiap hari menambah porsi latihan fisik (marathon, push up, sit up, pull up, sprint). Ayah justru beliau lebih bersemangat saat saya untuk mengikuti latihan voli, Tae Kwon Do, bersiap-siap untuk camping bersama teman-teman pecinta alam maupun Pramuka. Meski begitu Ayah tidak menyarankan untuk mengikuti pertandingan dan menjadi atlet profesional. Ayah berpesan kalau olahraga itu untuk bersenang-senang agar sehat secara fisik maupun pikiran. Meski kini Ayah telah tiada, pesan beliau untuk berolahraga rutin selalu saya pegang. Olahraga bagi saya adalah obat rindu akan sosok Ayah.
Olahraga merupakan suatu ajang menjalin keakraban. Seringkali kita mendengar istilah pertandingan persahabatan, karena di balik kompetisi olahraga kita mengenal sportivitas dan kerja sama tim. Kini olahraga juga berkembang menjadi bisnis dan alat dalam percaturan dunia politik. Misalnya, untuk mencairkan suasana dalam proses negosiasi biasanya para pemangku keputusan mengakrabkan diri terlebih dahulu dengan bermain golf atau tenis bersama.
Porsi olahraga masing-masing orang berbeda-beda tergantung umur, jenis kelamin, dan fisiologis tubuhnya. Olahraga teratur sebanyak 3-5 kali dalam seminggu dapat meningkatkan kebugaran tubuh. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah intensitas dan tempo olahraga. Intensitas olahraga berkaitan dengan kecepatan optimum latihan seseorang, indikatornya adalah denyut nadi tubuh kita telah mencapai 60-80% dari maksimum (denyut nadi maksimum = 220 dikurangi umur manusia dalam tahun) maka kita telah mencapai porsi latihan maksimal. Tempo olahraga yang baik adalah 30-60 menit per sesi olahraga. Bagi seorang atlet barangkali tempo latihan akan memakan waktu lebih lama. Apabila kita telah melakukan olahraga rutin, sebaiknya pola tersebut selalu dijaga demi kesegaran jasmani.
Sudah banyak pusat kebugaran berkembang di manapun kita berada saat ini. Bagi mereka yang belum tahu porsi olahraga masing-masing dengan tepat sebaiknya berkonsultasi dengan instruktur supaya tidak mengalami cedera saat berolahraga. Namun sekiranya bergabung dengan pusat kebugaran dirasakan cukup mahal atau bagi mereka yang sangat sibuk maka beberapa langkah stretching yang murah dan mudah juga dapat dilakukan seperti: lebih memilih anak tangga dibandingkan elevator; memarkir kendaraan lebih jauh dari pintu masuk sehingga kita akan berjalan lebih banyak; melakukan pelemasan otot leher, tangan, pinggang, dan kaki dalam interval beberapa menit setelah berlama-lama duduk; bersepeda ke kantor, kampus, atau sekeliling rumah; dan sebagainya.
Walt Disney berkata "You are what you eat"
Maka selain berolahraga kita juga harus memperhatikan asupan makanan. Itu sedikit tips untuk menjaga kesehatan fisik, sedangkan kesehatan pikiran bisa selalu kita jaga dengan berpikir positif dan mensyukuri nikmat Tuhan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas komentarnya