Selasa, 11 Oktober 2011

Berlin, Deutschland

Langit mulai mendung, dedaunan yang berwarna hijau cerah berubah menjadi kemerahan kemudian menguning, perlahan matahari enggan menampakkan diri di atas cakrawala ibu kota Jerman ini. Saya tiba di Berlin dengan mengendarai kereta dari Praha menuju Hauptbahnhoff setelah menempuh perjalanan selama 5 jam. Stasiun kereta antar kota dan antar negara yang berada di pusat kota Berlin ini megah berdiri, terdiri dari beberapa lantai bergabung dengan pusat perbelanjaan. Kemegahan stasiun Berlin HBf kabarnya melebihi bandara di kota yang sama. Kesan pertama menginjakkan kaki di Berlin menjadi megah, namun saat berkeliling kota menggunakan trem dan bus, perlahan baru saya ketahui kalau kota ini jauh dari kesan megah seperti apa yang ada di pikiran kebanyakan orang Indonesia saat melihat Jakarta. Sama sekali tidak terlihat gedung pencakar langit. Arsitektur kota Berlin tetap dihiasi dengan gedung tua dan bangunan bersejarah. Berlin memang ibu kota di mana pusat pemerintahan Jerman berada, namun kota ini begitu nyaman untuk ditinggali. Sepanjang mata memandang, gedung yang menjulang di Berlin adalah apartemen dengan tinggi maksimal 15 lantai. Di kota ini masih banyak terdapat kompleks perumahan yang tertata rapi.

Hari kedua di Berlin, matahari tersenyum cerah memberi pertanda baik untuk berkeliling kota. Tidak lengkap rasanya kalau belum mengunjungi tempat bersejarah zaman Perang Dunia II dahulu yaitu Tembok Berlin. Batas yang didirikan untuk memisahkan antara Jerman Barat dan Jerman Timur pada 13 Agustus 1961. Ratusan nyawa melayang termasuk anak-anak dan pemuda yang mencoba menyeberangi tembok ini. Pada tahun 1989 tepatnya tanggal 9 November, Tembok Berlin diruntuhkan dan setahun kemudian Jerman Barat bersatu dengan Jerman Timur.


Setelah berwisata sejarah, saya menyemparkan diri untuk bertemu sahabat di Humbolt University of Berlin sambil melihat suasana belajar di kampus itu. Meskipun tidak begitu lama saya mampir dan sempat berkeliling HUB, waktu 60 menit di perpustakaan pusat HUB sudah cukup memberi gambaran fasilitas mewah yang ditawarkan kampus untuk menunjang kegiatan belajar mengajar. Suasana di perpustakaan begitu tenang, sebuah tempat yang cocok untuk belajar. Arsitektur perpustakaan memadukan unsur klasik dan modern pada bagian interior ruangan. Setiap ruangan menyimpan buku berdasarkan bidangnya.

Pada saat perjalanan pulang, secara tidak sengaja saya mengunjungi sebuah kawasan terbuka hijau di sekitar Kaseidamm. Awalnya kawasan ini terlihat seperti taman bermain biasa dari pinggir jalan raya. setelah menjelajah lebih jauh ternyata ada danau yang dikelilingi apartemen dan kafe. Ramai keluarga menghabiskan waktu bersama, bermain ayunan, jungkat-jungkit, trampolin di arena playground. Ada juga yang hanya berjalan berkeliling bersama anjing kesayangan, atau sekedar duduk di atas rerumputan sambil membaca buku dan menghangatkan diri di bawah sinar matahari. Banyak orang berlalu lalang menikmati hari Minggu sore dengan jogging, bermain skateboard, basket, dan berlatih dengan alat kebugaran yang tersedia di taman. Lengkap sudah kunjungan saya di Berlin ini, mulai dari wisata sejarah, pendidikan, dan alam serta pastinya menghabiskan waktu bersama sahabat. Terima kasih untuk sambutan dari Yesua dan Sharif selama di Berlin, juga Agy sang sahabat seperjuangan.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas komentarnya