Senin, 17 Oktober 2011

Akhir Pekan di Augsburg

Berawal dari keinginan untuk menghilangkan kepenatan belajar karena belum banyak tugas yang mengejar ditambah rasa rindu masakan kampung halaman serta tentunya memanfaatkan waktu menjelajahi Eropa dengan budget minim maka saya berangkat menuju Augsburg, sebuah kota kecil di sebelah barat Munchen, Jerman untuk mengunjungi Om Agus sekeluarga yang telah menetap di negeri Panser selama 6 tahun. Sebagai mahasiswa harus pandai-pandai memilih rute dan transportasi saat jalan-jalan supaya tetap ramah di kantong. Perjalanan kali ini ditempuh dengan bus (harga tiket 25 Euro) dari Praha menuju Munchen lalu menyambung kereta ke Augsburg Hauptbahnhof seharga 11,7 Euro. Saya tiba di Munchen pukul 5.30 pagi dalam keadaan antara sadar dan tidak berhubung kelopak mata masih lengket. Suhu di luar hampir mencapai titik nol derajat celcius, kota pun masih gelap dan lengang sementara saya harus membaca peta untuk mencari jalur U-Bahn menuju Munchen Hauptbahnhof. Setelah jalur ditemukan saatnya mempelajari mesin penjual tiket, berhubung koin euro terbatas maka saya harus bijak dalam menggunakannya. Satu hal yang membaut saya berani bepergian di Jerman adalah kemudahan tourist information yang tersedia dalam bahasa Inggris. Syukurlah perjalanan pagi itu lancar dan tibalah di Augsburg.




Om Agus berjanji akan menjemput di stasiun utama. Kata Om Agus, kota ini seperti Ponorogo karena hanya butuh waktu 10 menit untuk mengelilingi pusat kota. Tentu tidak bisa dibandingkan seperti apa kota kecil di negara maju dan negara berkembang. Sampai di rumah Tante Asih sudah menyiapkan soto ayam. Acara hari Sabtu pagi itu adalah berkeliling kota Augsburg mencari lokasi foto yang bagus. Om Agus sekeluarga baru saja pindah dari Hamburg (kota pelabuhan di bagian utara Jerman) 2 bulan lalu, jadi belum banyak berkeliling. Kami melihat-lihat beberapa gedung yang menjadi latar postcard kenang-kenangan kota Augsburg seperti kompleks bangunan bernama Rathausplatz dan Althes Rathaus yang kini digunakan sebagai bangunan pemerintah. Di pelataran gedung tersebut terdapat patung Augusbtusbrunnen dan dikelilingi restoran tenda bagi turis yang ingin beristirahat. Ada juga patung Herkulesbrunnen di dekat Augsburg Hbf persis 100 meter di depan gedung teater, sayangnya hari itu tidak ada pertunjukan yang digelar. Beberapa ratus meter setelah berjalan melewati Rathausplatz ada sebuah gereja yang dijadikan sebagai kompleks monumen bernama Augsburger Dom. Gereja yang megah dengan area terbuka hijau di belakangnya merupakan tempat favoritku selama perjalanan sore itu. Kami terus berjalan sampai menemukan Mozarthause, apa dikata bangunan tersebut sekarang lebih mirip seperti hotel dan tempat singgah tidak banyak tanda-tanda pagelaran seni musik.

Agenda keliling-keliling Augsburg belum berhenti sampai di sini, karena Om Agus masih penasaran dengan danau di Bagersee yang katanya dekat dari rumah. Kami tidak mau menyia-nyiakan sore yang cerah ini mengingat musim gugur akan berganti musim dingin dan gelap menyelimuti langit selama 3 bualn ke depan. Di bawah langit senja kami naik trem dan sempat terganjal dengan masalah tiket, meski begitu tidak ada kata mundur karena akmi sudah berjalan sejauh ini. Meskipun sudah hampir gelap, setidaknya kami bisa menikmati pemandangan danau di kala senja tanpa terusik kegaduhan orang. Sore itu, danau serasa milik pribadi.



Hari Minggu suhu semakin rendah dan berangin, sungguh dingin. Untungnya matahari tetap tersenyum hangat dari ufuk timur. Kami tidak pergi jauh-jauh hari itu, berhubung saya harus kembali ke Praha. Setelah wisata alam seharian penuh pada hari sebelumnya, maka kami menghabiskan hari Minggu melihat Museum Textil yang hanya memakan waktu 5 menit dengan jalan kaki dari apartemen tempat Om Agus sekeluarga tinggal. Sayang sekali saya tidak bisa banyak bercerita tentang museum tersebut karena seluruh penjelasan yang tertera di museum auf Deutsch alias dalam bahasa Jerman. Sejauh berkeliling saya hanya tahu kalau pabrik tersebut telah berusia ratusan tahun, berdiri sejak 1800 dengan peralatan yang masih dapat berfungsi hingga saat ini. Etalase di museum menggambarkan perkembangan fashion dari tahun ke tahun, namun karena dilarang mengambil gambar alhasil saya juga tidak bisa mengabadikan museum tersebut.

7 komentar:

  1. Asikk jadi pny gambaran di Ausburg nt.. makasi mbak Titis. Salam kenal

    BalasHapus
    Balasan
    1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
    2. Salam kenal juga, semoga bermanfaat. Selamat menjelajah Augsburg!

      Hapus
  2. mas agus santosa opo agus trijas ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Agus Trijas, beliau Om saya..hehe

      Hapus
    2. oooo gitu to,2003 saya bareng mas agus di hamburg,iya masih ada beberapa orang di ausburg,salam

      Hapus

Terima kasih atas komentarnya