Sabtu, 01 Oktober 2011

Terinspirasi dari Bandung


Ibu kota provinsi Jawa Barat ini menyimpan banyak warna. Satu hal yang menarik dari kota kembang adalah besarnya komunitas dalam berbagai bidang yang menunjukkan keanekaragaman penduduknya. Komunitas adalah sekelompok individu yang memiliki minat sama dalam suatu bidang. Komunitas yang kian menjamur di kota Bandung tumbuh dalam berbagai bidang seperti seni, lingkungan, olahraga, dan sebagainya.

Saat mengunjungi Bandung akhir Juli lalu, ada satu hal baru yang selama ini belum pernah saya coba yaitu mengunjungi komunitas di kota Bandung. Pada hari Sabtu kami mengunjungi komunitas yang aktif dalam bidang lingkungan yaitu komunitas My Darling. Sebuah komunitas pecinta lingkungan yang beranggotakan Ibu-ibu dengan inisiatif dan sebuat pemikiran sederhana yaitu mengatasi masalah sampah di lingkungan mereka. Kemudian lahirlah Masyarakat Sadar Lingkungan - My Darling yang bergerak dalam daur ulang plastik menjadi kerajinan cantik beruka tas dan dompet.

Pada hari berikutnya, saya bersama dengan komunitas Aleut! menelusuri sejarah Kota Tua Bandung mulai dari Museum Konferensi Asia Afrika, Gedung Merdeka, Titik 0 Km Bandung, Savoy Homan, Masjid Raya, serta pendopo Wali Kota Bandug. Komunitas Aleut! Dibentuk atas dasar kecintaan anggotanya akan Kota Bandung. Awalnya komunitas ini didirikan oleh mahasiswa Jurusan Sejarah Universitas Padjadjaran Bandung yang bertujuan untuk mempelajari asal usul kota Bandung karena melalui pembelajaran sejarah kita akan belajar lebih banyak lagi. Teringat akan ucapan Bung Karno yaitu "Jas Merah : Jangan sekali-kali melupakan sejarah!" Benar saja, melalui sejarah banyak hal yang bisa kita pelajari dan kita syukuri.

Kominitas Aleut! Kini berkembang tidak hanya menelusuri sejarah kota Bandung namun juga memiliki berbagai macam tema dalam perjalanannya seperti tema minggu lalu yaitu perjalanan menyusuri Sungai Cikapundung. Satu kata yang patut diucapkan dari komunitas ini yaitu : “Inspiring”. Komunitas hanyalah sekumpulan individu dengan minat sama dan berdiri secara independen, tanpa naungan lembaga yang resmi, tanpa sokongan dana dari pemerintah maupun donasi namun tetap berbuat sesuatu bagi lingkungan sekitar.

Sebuah pemikiran baru muncul, yaitu tentang kontribusi dari organisasi yang selama ini saya ikuti dengan aktif. International Association of Student in Agricultural and Related Science (IAAS) sebuah asosiasi mahasiswa pertanian terbesar di dunia. Jumlah anggota yang begitu banyak seharusnya menjadi kekuatan lebih untuk berkontribusi bagi masyarakat sekitar akan tetapi, bukanlah perkara mudah untuk menyatukan pendapat dan berkoordinasi dengan anggota organisasi yang telah tersebar di enam universitas di seluruh Indonesia ini. Saya belajar bagaimana berpikir sederhana dan fokus ala komunitas.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas komentarnya