Jumat, 25 November 2016

CLBK Episode 7: Pulang

Selama tahun kedua masa studi S2, banyak sekali pertanyaan terlintas di kepala yang sulit saya jawab. Di antaranya adalah "mau apa setelah lulus?"
Sebuah buku bersampul merah pucat saya ambil dari rak. Lembaran kosong kertas buram mulai penuh coretan lengkap dengan anak panah berjudul "Plan A", "Plan B", dan seterusnya. Tidak ada prioritas dalam penamaan mind mapping tersebut karena saat itu saya terbuka pada berbagai kemungkinan. Singkatnya, pilihan yang tertulis dalam buku tersebut antara lain keinginan lanjut studi ke jenjang S3 atau bekerja di industri pakan bagian on farm research. Semuanya ditulis dengan keterangan bidang yang ingin ditekuni berkata kunci: ternak perah, ruminansia, susu, hijauan. Opsi pertama sebetulnya ditulis dengan penuh ketidak-percayaan diri hanya modal masih suka riset. Opsi kedua masih terkait dengan bidang riset namun untuk komersialisasi. Keduanya sama-sama kompetitif untuk didapatkan. Selanjutnya, saya masih punya opsi lain yang terlalu panjang jika diceritakan di sini. 
Sampai akhirnya ksempatan itu datang dari arah yang tak terduga yaitu melalui keajaiban silaturahmi. Sore hari waktu bagian Brazil artinya dini hari di Indonesia ketika saya menulis sebuah email, menanyakan kabar dosen pembimbing S1 yang kabarnya masuk rumah sakit beberapa bulan lalu. Email tersebut direspon cepat. Saya sudah hafal kebiasaan beliau yang responsif jika dihubungi pada pagi hari. Siapa sangka balasan pesan singkat tersebut disertai dengan sebuah tawaran untuk bergabung sebagai PhD Candidate dalam sebuah proyek kerja sama antara Indonesia - Belanda di bidang sapi perah. Adrenalin saya meningkat seketika. Selama dua malam saya tidak bisa tidur nyenyak!
Proyek tersebut berkutat dengan aspek keberlanjutan dari peternakan sapi perah di Indonesia. Ada dua posisi doktoral yang dibuka yaitu riset di bidang manajemen kotoran hewan dan pakan. Tujuan utamanya adalah mengurangi emisi per kilogram susu yang dihasilkan serta meningkatkan keuntungan peternakan. Skenario kasarnya adalah menurunkan biaya pakan yang selama ini menyita 70% dari seluruh biaya produksi dan menambah pemasukan bagi peternak dengan memanfaatkan kotoran hewan sebagai pupuk baik bagi lahan mereka sendiri maupun untuk dijual. Gambaran proyek yang berlangsung sampai 2019 itu bagai perwujudan mimpi saya selama ini. Siapa sangka model penelitian lapang seperti ini akan segera ada di Indonesia.
It was smoothly odd! Begitu ada tawaran, semua berawal lancar. Kalau mendengar cerita teman-teman yang ingin lanjut studi ke jenjang S3, saya sangat bersyukur bisa dijodohkan dengan kesempatan itu. Saya bertanya kepada beberapa orang terdekat sebelum mengambil keputusan yang akan mengubah hidup setidaknya empat tahun ke depan. Segala rasa tidak percaya diri, ragu, takut, kalah oleh semangat untuk belajar. (P. S. terima kasih pada orang terdekat yang mendengarkan segala curahan hati serta mendukung niat untuk lanjut studi! Maaf saya tidak bisa menyebutkan namanya satu-persatu).
Tepat sepuluh hari setelah evaluasi tesis dan dinyatakan lulus, saya pulang. Segala urusan harus diselesaikan secepat kilat. Satu tujuan utama dalam perjalanan dari Amsterdam ke Jakarta kali ini yaitu mengikuti kickoff meeting dari proyek yang akan dimulai akhir tahun 2016. Selama dua bulan terakhir sejak kembali ke tanah air, rumah di Ponorogo hanya menjadi tempat singgah. Tim Survei sudah memulai kerja mereka untuk mengumpulkan data mengenai kondisi lapang. Karena ini pengalaman pertama saya studi di lapang, jadi wajib hukumnya untuk tahu medan. Jadilah saya bolak-balik Bandung-Bogor dan terkadang Jakarta lalu Ponorogo untuk belajar. Di Bandung, saya ikut Tim Survei melihat peternakan. Di Bogor, saya bertemu dosen-dosen di kampus almamater untuk berdiskusi banyak. 
Secara umum, isu pakan yang saya catat antara lain:
- Ketersediaan bahan pakan yang dipengaruhi oleh musim
- Kekurangan lahan hijauan di sekitar peternakan
- Formulasi ransum yang tidak sesuai kebutuhan ternak. Penelitian senior dari Fakultas Peternakan IPB tahun lalu menemukan bahwa sapi perah diberi pakan berlebihan demi menjaga produksi susu
- Kualitas konsentrat yang dipakai peternak
- Suplai air minum untuk sapi perah kurang terpenuhi

Sesungguhnya, masalah tersebut sudah dibahas sejak dulu. Kompleks dan klise, begitulah kira-kira. Dalam riset kali ini, Tim dari Wageningen University akan melakukan pendekatan sistem untuk mengurai benang kusut tersebut sehingga bisa menentukan intervensi yang tepat untuk mengatasi masalah. Selain di Lembang, proyek yang bertema hampir sama juga sudah pernah dijalankan di Garut dan Kuningan. Saya juga sempat ikut pengenalan bahan pakan ternak di Garut kepada para peternak juga sosialisasi nutrisi sapi perah. Sehari itu menjadi ajang diskusi menarik. Dari perbincangan dengan peternak, saya menampung segala isu yang terjadi di lapang. Semakin hari, saya semakin yakin kalau bergabung dalam proyek ini adalah pilihan tepat. Semoga Tuhan memampukan usaha saya...amiin. 


Selasa, 08 November 2016

Belajar Bahasa

"Dulunya, saya percaya kalau kita bisa menguasai suatu bahasa karena terbiasa. Pengalaman tahun ini menambah kepercayaan saya tentang belajar bahasa yaitu bisa karena terpaksa."
Mari kita terlebih dulu meruntut bagaimana awal mula saya belajar bahasa. Ini adalah tulisan seorang amatir yang suka dengan cabang ilmu linguistik, bukan seorang polyglot ataupun ahli tata bahasa. Terlahir di Ponorogo, Jawa Timur dari seorang Ibu berdarah Jawa maka bahasa pertama saya adalah Jawa. Memasuki usia sekolah, Bahasa Indonesia saya gunakan secara resmi dalam kehidupan sehari-hari. Sejak mendapatkan mata pelajaran Bahasa Inggris, saya bersemangat mempelajarinya. Ini juga didukung oleh faktor guru-guru asyik selama duduk di bangku sekolah. Selain tiga bahasa tersebut, berikut beberapa kelas bahasa yang pernah saya ikuti baik formal maupun informal:
1. Bahasa Mandarin - sebagai pelajaran tambahan di kelas X, SMAN 3 Madiun.
2. Bahasa Korea - bonus selama latihan Tae Kwon Do sejak SMP dan ketika memandu pelajar Korea Selatan yang datang ke kampus.
3. Bahasa Jerman - iseng ikut kursus tambahan untuk tingkat dasar di pusat bahasa kampus Institut Pertanian Bogor.
4. Bahasa Ceko - mata kuliah gratis saat pertukaran pelajar ke Praha, Republik Ceko.
5. Bahasa Spanyol - diajari oleh teman asal negeri matador yang menjadi partner di kelas Bahasa Ceko.
6. Bahasa Denmark - fasilitas gratis dari pemerintah Denmark bagi warga negara asing yang tinggal di sana. 

Dari keenam bahasa asing di atas, barangkali hanya 1% yang masih menempel di otak, sebatas kata sapaan dan angka. Saya menyimpulkan bahwa kemampuan bahasa asing tidak bertambah adalah karena tidak dipraktekkan. Jujur waktu kecil dulu saat masih terbesit cita-cita menjadi polisi, saya ingin menjadi agen rahasia seperti Agent Bourne yang bisa berbagai macam bahasa. Saya semakin kagum kalau bertemu teman-teman polyglot, seolah di lidahnya ada tombol subtitle yang siap berganti kata. 
Sebuah artikel membahas berapa banyak bahasa yang mampu seseorang pelajari. Berdasarkan catatan sejarah, beberapa orang tercatat mampu lancar berbicara sebanyak 11 sampai 16 bahasa. Luar biasaaa! Ini juga yang pernah diungkapkan oleh Trinity seorang travel writer yang mengaku ingin menguasai seluruh bahasa di dunia apabila diberi kesempatan untuk memilih kekuatan tertentu bak superhero.
Kesempatan untuk mengunjungi dan tinggal di beberapa negara asing tidak lantas membuat saya bisa belajar bahasa. Diri ini sempat berdalih kalau saja saya tinggal di suatu negara lebih lama, mungkin bisa belajar bahasa lebih baik. Namun opini pribadi tersebut dipatahkan tahun ini, ketika saya berangkat ke Brazil untuk melakukan penelitian tesis. Sejak awal, para pembimbing sudah menyarankan agar belajar Bahasa Portugis. Saya pun mengunduh aplikasi belajar bahasa yaitu Duolingo sebulan sebelumnya. Setiap hari, si aplikasi selalu memberi notifikasi untuk praktek Bahasa Portugis. Perlahan saya mulai familiar dengan kata-kata dalam Bahasa Portugis. 
Hari pertama mendarat di Brazil, saya masih ingat ketika transit di bandara Salvador dan bingung karena tidak ada seorangpun yang bisa ditanya dalam Bahasa Inggris. Kemudian saya mendatangi kantor agen perjalanan untuk bertanya namun malah ditanya balik apakah saya bisa Bahasa Spanyol. Frustasi adalah kata yang menggambarkan seminggu pertama tinggal di Brazil. Siapa sangka, seiring berjalannya waktu situasi yang memaksa itu membuat saya bisa berkomunikasi lancar dengan teman-teman berbahasa ibu Portugis dalam waktu 2.5 bulan. Ternyata, pengalaman belajar bahasa Spanyol mempermudah pemahaman saya terhadap Bahasa Portugis karena tata bahasanya yang mirip. Tiap hari, saya berusaha mengajak bicara teman-teman di rumah maupun kampus dalam bahasa mereka. Niat awal pembimbing saya agar mahasiswa di sana juga mempraktekkan Bahasa Inggris malah belum terlaksana. 
Usai meninggalkan negeri samba, saya masih bertukar kabar dengan teman-teman di Brazil melalui media sosial. Saya juga sempat membeli buku dan majalah ketika mampir di Sao Paulo. Hingga kini saya kembali ke Indonesia, saya masih berlatih dengan Duolingo setiap hari. Kalau semua lancar, saya ingin belajar Bahasa Spanyol lagi. Bahasa Arab, Mandarin, Russia, termasuk bahasa isyarat saya masukkan ke dalam daftar resolusi untuk dipelajari beberapa tahun ke depan. Semoga ada lagi kesempatan untuk dipaksa sampai bisa.


Minggu, 31 Juli 2016

CLBK Episode 6: Canggung

Bagi yang belajar tentang nutrisi pasti sudah akrab dengan analisa kandungan energi, protein, serat, lemak, vitamin, dan mineral dari bahan pangan maupun pakan. Karena dengan mengetahui kandungan bahan, dapat dilakukan estimasi untuk memenuhi kebutuhan nutrisi hewan. Lain ladang lain belalang, begitu kata pepatah. Biarpun sudah sering ikut praktikum di laboratorium, rasanya canggung untuk bekerja dengan bahan-bahan kimia. Meskipun prosedur analisa bersifat universal, tetap saja harus dipandu berhubung selalu ada metode yang disesuaikan degan kondisi laboratorium. Sejak masih awal kuliah dahulu, sudah tidak terhitung berapa banyak kesalahan yang saya lakukan. Tulisan ini sengaja dibuat untuk mengabadikan proses belajar dari kesalahan selama bekerja di laboratorium untuk tesis di Brasil.

Salah hitung
Teliti adalah kata sifat yang sejak kecil jauh dari karakter saya. Urusan angka, saya memang tidak pintar untuk bergelut lama-lama dengan hitungan. Langkah awal analisa kandungan kimia bahan biasanya diawali dengan menentukan berapa berat sampel, senyawa kimia, juga lama waktu yang diperlukan dalam setiap prosedur. Masalah salah hitung atau konversi satuan adalah hal klasik yang sering saya lakukan. Biasanya, kalau saya bisa melakukan hitungan dengan cepat pasti ada salah satu prosedur yang terlewatkan. Lucunya, karena merasa kurang percaya diri untuk urusan hitung-menghitung, hal yang begitu sederhana seringkali jadi saya buat kompleks. Misalnya, saat analisa kandungan protein dan jumlah sampel dikurangi, saya sampai heboh bertanya pada teknisi lab tentang perubahan senyawa kimia yang diperlukan. Padahal tinggal mengubah berat sampel pada hitungan akhir setelah segala prosedur analisa selesai.

Tumpah ruah
Namanya timbang menimbang memang kritis kalau sudah di laboratorium. Semakin kecil berat suatu bahan, semakin tinggi pula tingkat fokus yang diperlukan contohnya menimbang 1 gram atau 0.2 gram sampel. Apalagi kalau harus mencampur reagan dari beberapa senyawa kimia dengan berat harus tepat sesuai desimal sampai empat angka di belakang koma dalam protokol. Entah karena terlalu fokus atau emmang dasar saya yang ceroboh, dalam tahap ini selalu ada yang tumpah atau berantakan. Saat paling menegangkan adalah ketika saya menimbang bahan yang hanya tinggal sedikit. Artinya kalau sedikit saja tumpah, tidak ada lagi bahan untuk dianalisa. Belum lagi kalau sudah berurusan dengan bahan kimia berbahaya seperti asam kuat. Sedikit saja tumpah di meja kerja, saya langsung panik. 

Kebakaran oh kebakaran...!
Suatu hari seisi laboratorium sempat heboh karena saya salah memasukkan sampel ke dalam oven dengan suhu di atas 100 derajat celcius. Konyolnya lagi, saya tinggal sampel tersebut di oven semalaman. Hasilnya bahan tersebut hangus terbakar dan tidak lagi bisa dianalisa. Salah seorang mahasiswa yang juga bekerja di laboratorium itu sempat memarahi saya. Untungnya saat itu masih banyak sampel tersisa. Rekan saya itupun jadi tenang. Esok harinya, saya mengulang sendiri segala prosedur sesuai manual yang tersedia. Sengaja saya datang lebih pagi agar bisa lebih tenang di laboratorium. Tiba-tiba salah satu mesin yang saya pakai mengeluarkan asap sampai menyebar ke seluruh ruangan. Heboh saya langsung menghubungi mahasiswa lain melalui telepon. Malah dia santai menjawab kalau itu normal, hanya perlu buka jendela untuk mengurangi asap. Lha kalau ini terjadi di Belanda, sudah pasti fire alarms berbunyi nyaring dan saya akan diinterogasi seluruh penghuni gedung.

Perkara bahasa  
Salah satu tantangan terbesar selama mengerjakan tesis di Brasil adalah bahasa. Jumlah orang yang bisa berbahasa Inggris sangat terbatas, bahkan di salah satu pusat tempat saya mengerjakan analisa kimia. Sempat senang juga kalau bekerja sendiri di laboratorium jadi semua instrumen serasa milik pribadi dan tidak perlu bernegosiasi untuk saling berganti menggunakannya. Suatu hari nan tenang, datanglah salah satu peneliti dengan serombongan anak SMA yang sedang melakukan praktek kerja di laboratorium. Peneliti itu mengatakan kalau saya harus memandu mereka serta menjelaskan segala tahapan analisa. Akhirnya, dengan terbata-bata saya menjelaskan langkah analisa nutris dalam Bahasa Portugis. Tanpa bantuan translator ataupun kamus, berhubung tidak memungkinkan untuk memegang smartphone selama di laboratorium. Pada kesempatan lain, saya menemui salah satu professor untuk memandu analisa yang jarang dilakukan. Menurut rekan di laboratorium, beliau fasih berbahasa Inggris. Eh, pertama kali bertemu saya langsung disambut dengan Bahasa Portugis. Menurut beliau, dia melihat saya sudah mulai fasih berbahasa Portugis jadi akan lebih baik untuk melanjutkan praktek bahasa asing. Memang benar, setelah hampir tiga minggu bekerja di sana saya tidak hanya belajar hard skill tentang ilmu nutrisi ternak namun juga soft skill yaitu Bahasa Portugis.

Kalau dipikir-pikir lagi, segala kecerobohan ini seringkali membuat saya merasa tidak pantas mendapat nama “Titis” yang berarti tepat dan cermat. Barangkali saya keberatan nama yang menurut mitos orang Jawa salah satu tandanya adalah bertindak kebalikan dari arti nama yang diharapkan. Pastinya, segala kesalahan yang rasanya mungkin terjadi kemudian membuat saya lebih berantisipasi.


Minggu, 17 Juli 2016

To The Land of Diamond

Centro do Lencois
 Almost forget about Chapada Diamantina until I remember a conversation with Jo, at The Spot, a cozy place where students in Wageningen University can take a sip of coffee, full their tummy during lunch, or even only sit and talk. The hall was almost empty that afternoon when we agreed to meet after lunch break. He excited to know where I would go exactly to do thesis. I gave a hint for him that might be away from The Netherlands for some months. Finally, I told him that I found interesting project in Brazil. He was excited to know the city where I would stay. Brazil is big country with diverse landscape. Jo also did his master thesis there. 

“Petrolina, the State of Pernambuco, it is located in northeast part of Brazil. I would spend next three months there Jo..”
He immediately grabbed a smartphone and searched the city on the map. It is near to Rio Sao Fransisco which is categorized as semi-arid region. 
“Titis, it is close to Bahia. If you could arrange then visit this national park….it’s a must!”
He pressed ‘zoom’ button and showed me the map.
“The name is Chapada Diamantina, literally Diamantina is diamond. It is very huge with old rocky mountain, very beautiful! Look, I also got the picture like these guy, exactly in the edge”

As I wished, three days off has been managed to travel when the experiment was almost done. I asked Jo for the detail about how his trip was. He connected me to Serena, a friend who lives nearby national park. All the information has been gathered. I spent long weekend to stay in Lençois with my labmate, a Brazilian girl named Artenia. I put two main attractions on the list to visit: Morro de Pai Inácio and Cachoeira da Fumaça. 
We arrived in Lençois on Saturday morning. The multi-color colonial building with mountain as its background welcomed me. I got a feeling that I would like that city. A room to stay has been booked in advance so we could put our backpacks in the hostel then took a walk to the river. We passed by water company and followed small path behind big villa. No sign board was placed along the way. Some of tourists prefer to go with guide. While Artenia and I sneaked behind a group of people to know where to go. 
Short trail to the waterfall crossed the river then hiked up through the rock. The path was sandy. It is formed by debris of the rock. Mixed colors of pink – purple – white – brown dominates the color of the sand. What a dazzle! Less than 30 minutes later, we reached bottom of cascade. Nobody was there, only the man who sells drink. I saw a track to go to upper part then I tried it. It was quiet as well. I met a couple who soaked in the spring. We continued to look into other waterfall with swift shower. Some people were quite dare to drench their body underneath the stream. 
Artenia and I stayed dry under the waterfall
One of my list was checked in the first day. We went to Morro de Pai Inácio! If we browse by search engine about Chapada Diamantina, then the picture of table mountain would appear firstly. This is the icon of national park. The best time to visit the hill is during sunset. The visitors do not need high skill of climbing, only walk around thirty minutes to reach the top. These facts always bring traffic jam on the trail everyday, right before sunset. I expected calm ambience to enjoy twilight. Indeed, people were busy taking pictures. Anyway, not all of the visitor realized that there was rainbow hanging perfectly in parabola as if a bridge between two hills.

Tried to capture panorama of rainbow
A drizzle poured when we arrived in city center. The hostel staff offered us if we need something. We had thought to cancel a tour to Fumaça Waterfall in the following day. In the end, we changed our mind because Eline, the lady of our hostel emphasized us to go even it was exhausting after first day.
“Maybe this is the only chance for you to come here, Titis! Well, Artenia could come back easily. It will be worth it when you reach there, trust me!”

Looked down!
She was right! Fortunately, the weary trail for two hours has been replaced by amazing view until we arrived in the top of the hill. It was hard during first half hour. The path ascended around 30 degrees. We stepped on pinkish rocks as natural stairs. In the distance, Morro de Tartaruga or Turtle Hills stood bold. The next trail was more relaxing. However, we trod on stones to jump over the puddle. Finally, we attempted the spot to see waterfall from above in the midday. Meal time came first before creeped to the edge of cliff. Slowly but sure, I witnessed the highest waterfall in Chapada Diamantina. I felt the wind swept my face. My adrenaline was in a rush. 
“Como posso chegar ao baixo?” - How to reach the bottom? I asked to our guide-
“Você pode fazer a trilha, durante tres dias” - You can do a trail during 3 days he answered-

The cloud was getting thicker so we decided to walk back. It was almost close to the gate when I heard a unique sound from one of the village below. Our guide said that it is an instrument for Capoeira. I automatically proposed to drop by there. He agreed, so we visited Vila do Capao, a small village but very touristic one. Sadly, the performance was over. We walked around two main streets there. I tried to contact Serena (Jo’s friend) but there is no networking there. People in Capao do not use cell phone. 
Last night of our stay in  Lençois, Artenia and I looked for a home of a craftsman who makes a bottle filled with colorful sands to paint the view of Chapada Diamantina. We were curious if he put colorant into the sand. Until we saw ourselves that all material is naturally taken from nearby. The difficulty of crafting increases for smaller bottle. I appreciated his talent in this way. 
A view of city in a bottle

A night in the city center

The weather was better that first day. To chill up our after-trekking-day, we ate acaraje, a traditional food from Bahia. It is cooked from beans and shrimps, served with spicy sauce. We had a lively evening in  Lençois, from hunting souvenirs in cultural market until enjoying performance of street musicians in Rua da Baderna where café and restaurants are concentrates. To find something original, we visited traditional market in the last morning before the departure to Petrolina. I bought a bucket of caja and umbu, an exotic fruits from Brazil which were difficult to find because it grows wildly.

Wrapping up this story, I would say that the view of city is amazing, the people are kind and helpful, the food is tasty and authentic (I tasted comida de brasileira: açai, tapioca, pao de queijo, carne de sol, etc.).

Valeu Lençois! Quero voltar no futuro

Rabu, 01 Juni 2016

CLBK Episode 5: Cari Ganti


Obat paling mujarab dari patah hati adalah ´´Cari Ganti´´. Ternyata saya masih penasaran dengan topik seputar modifikasi pakan untuk mitigasi emisi ternak. Di tahun kedua Master, ada satu kesempatan lagi untuk melakukan penelitian setelah internship yaitu tesis. Inilah yang lebih mendebarkan karena akan menentukan proses kelulusan. Setelah melalui pemikiran panjang, sampailah pada penentuan bahwa saya masih ingin berkecimpung di topik yang sama.
Berawal dari percakapan santai dengan kandidat PhD dari Jerman yang bekerja dengan saya di ILRI, dia menceritakan tentang risetnya di Brazil untuk tesisnya setahun lalu. Niat iseng bertanya apakah ada kesempatan untuk ikut riset di Brazil ternyata bersambut. Tanpa menunggu lama, saya pun dihubungkan dengan salah satu Professor di Brazil untuk mendiskusikan topik yang ingin diteliti lebih lanjut. Perkenalan demi perkenalan telah dijalani dengan mengalir. Akhirnya saya diterima oleh seorang Professor yang sedang menjalankan penelitian untuk evaluasi pengaruh tannin terhadap emisi metana pada domba.
Sejak email pertama dikirim bulan November tahun lalu, sampai dengan penandatanganan kontrak dan akhirnya saya di sini, bagian timur laut Brazil untuk memulai riset. Segala proses memakan waktu sekitar lima bulan. Persiapannya saja panjang, tidak mudah memahami segala rancangan eksperimen ketika hanya bisa membaca informasi di atas kertas. Ditambah drama tentang aplikasi visa Brazil yang terkenal rumit. Termasuk kepanikan saat segala kartu dari bank yang saya punya tidak bisa dipakai untuk membeli tiket penerbangan domestik dari Sao Paulo ke Petrolina. Syukurlah, semuanya berhasil dilewati.
Hari pertama setelah tiba adalah masa orientasi kampus, laboratorium, juga dosen dan mahasiswa yang akan berurusan langsung dengan eksperimen. Hari itu juga saya mulai mempraktekkan hasil belajar Bahasa Portugis melalui aplikasi. Kota tempat saya tinggal sekarang bernama Petrolina, negara bagian Pernambuco. Universitas yang tergolong masih muda baru berusia 10 tahun bernama Federal University of São Fransisco. Kota ini terletak di pinggir sungai São Fransisco dan berbatasan langsung dengan negara bagian Bahia. Sekilas melihat lanskap kota, bagian Brazil ini mirip seperti Afrika yang kering dan juga beriklim semi-arid atau dalam bahasa lokal disebut catinga. Tumbuhan perdu dan berduri menjadi teduhan utama bagi rumput liar yang kekuningan karena rindu hujan.
Daerah ini menjadi pusat peternakan kambing dan domba yang menjadi sumber protein hewani. Sistem pemeliharaannya pun semi intensif, ternak dibiarkan menggembala di padang catinga untuk memakan tumbuhan kaya akan bahan aktif seperti tannin. Inilah yang mendasari penelitian saya selama tiga bulan ke depan. Tujuan spesifiknya yaitu evaluasi tannin, senyawa aktif dari tanaman yang berpotensi mengurangi emisi metana dari domba. Dalam skala lebih besar, proyek yang didanai pemerintah Brazil ini juga bertujuan untuk mengeksplorasi potensi tanaman catinga sebagai bahan pakan ternak.
Di samping itu, Professor yang membimbing mahasiswa dalam laboratorium metabolisme tempat saya bekerja itu juga memiliki proyek untuk menguji limbah buah sebagai pakan ternak. Kenapa buah? Karena Petrolina adalah pusat perkebunan buah mulai dari mangga, pisang, anggur, jambu, markisa, papaya, juga kelapa diproduksi dalam skala besar. Kalau sedang di bus menuju kampus dari pusat kota, kanan-kiri jalan terlihat hamparan perkebunan buah yang menggiurkan berkualitas ekspor. Sayangnya, buah segar berkualitas premium justru tidak mudah ditemukan di pasar lokal.
Kembali saya merasakan sensasi jatuh cinta pada topik penelitian yang dikerjakan. Kota kecil ini juga begitu nyaman ditempati. Sebagai kota pelajar, saya malah merasa seperti sedang di Madiun, banyak jalan satu arah di pusat kotanya dengan pemandagan gedung tinggi sesekali. Pastinya saya semakin jatuh cinta ketika melihat buah-buahan tropis yang selama ini dirindukan. Selama seminggu awal perkenalan, banyak mahasiswa yang langsung akrab menyapa. Penduduk asli Petrolina pun ramah, meski Bahasa Portugis saya sangat parah namun ketika diminta untuk bicara pelan-pelan mereka dengan sabar menjelaskan. Tidak sulit beradaptasi di sana, hanya satu yang disayangkan yaitu sistem transportasi umum yang terbatas. Namun rasanya tidak menjadi masalah besar karena teman-teman satu laboratorium begitu tulus membantu.