Minggu, 31 Juli 2016

CLBK Episode 6: Canggung

Bagi yang belajar tentang nutrisi pasti sudah akrab dengan analisa kandungan energi, protein, serat, lemak, vitamin, dan mineral dari bahan pangan maupun pakan. Karena dengan mengetahui kandungan bahan, dapat dilakukan estimasi untuk memenuhi kebutuhan nutrisi hewan. Lain ladang lain belalang, begitu kata pepatah. Biarpun sudah sering ikut praktikum di laboratorium, rasanya canggung untuk bekerja dengan bahan-bahan kimia. Meskipun prosedur analisa bersifat universal, tetap saja harus dipandu berhubung selalu ada metode yang disesuaikan degan kondisi laboratorium. Sejak masih awal kuliah dahulu, sudah tidak terhitung berapa banyak kesalahan yang saya lakukan. Tulisan ini sengaja dibuat untuk mengabadikan proses belajar dari kesalahan selama bekerja di laboratorium untuk tesis di Brasil.

Salah hitung
Teliti adalah kata sifat yang sejak kecil jauh dari karakter saya. Urusan angka, saya memang tidak pintar untuk bergelut lama-lama dengan hitungan. Langkah awal analisa kandungan kimia bahan biasanya diawali dengan menentukan berapa berat sampel, senyawa kimia, juga lama waktu yang diperlukan dalam setiap prosedur. Masalah salah hitung atau konversi satuan adalah hal klasik yang sering saya lakukan. Biasanya, kalau saya bisa melakukan hitungan dengan cepat pasti ada salah satu prosedur yang terlewatkan. Lucunya, karena merasa kurang percaya diri untuk urusan hitung-menghitung, hal yang begitu sederhana seringkali jadi saya buat kompleks. Misalnya, saat analisa kandungan protein dan jumlah sampel dikurangi, saya sampai heboh bertanya pada teknisi lab tentang perubahan senyawa kimia yang diperlukan. Padahal tinggal mengubah berat sampel pada hitungan akhir setelah segala prosedur analisa selesai.

Tumpah ruah
Namanya timbang menimbang memang kritis kalau sudah di laboratorium. Semakin kecil berat suatu bahan, semakin tinggi pula tingkat fokus yang diperlukan contohnya menimbang 1 gram atau 0.2 gram sampel. Apalagi kalau harus mencampur reagan dari beberapa senyawa kimia dengan berat harus tepat sesuai desimal sampai empat angka di belakang koma dalam protokol. Entah karena terlalu fokus atau emmang dasar saya yang ceroboh, dalam tahap ini selalu ada yang tumpah atau berantakan. Saat paling menegangkan adalah ketika saya menimbang bahan yang hanya tinggal sedikit. Artinya kalau sedikit saja tumpah, tidak ada lagi bahan untuk dianalisa. Belum lagi kalau sudah berurusan dengan bahan kimia berbahaya seperti asam kuat. Sedikit saja tumpah di meja kerja, saya langsung panik. 

Kebakaran oh kebakaran...!
Suatu hari seisi laboratorium sempat heboh karena saya salah memasukkan sampel ke dalam oven dengan suhu di atas 100 derajat celcius. Konyolnya lagi, saya tinggal sampel tersebut di oven semalaman. Hasilnya bahan tersebut hangus terbakar dan tidak lagi bisa dianalisa. Salah seorang mahasiswa yang juga bekerja di laboratorium itu sempat memarahi saya. Untungnya saat itu masih banyak sampel tersisa. Rekan saya itupun jadi tenang. Esok harinya, saya mengulang sendiri segala prosedur sesuai manual yang tersedia. Sengaja saya datang lebih pagi agar bisa lebih tenang di laboratorium. Tiba-tiba salah satu mesin yang saya pakai mengeluarkan asap sampai menyebar ke seluruh ruangan. Heboh saya langsung menghubungi mahasiswa lain melalui telepon. Malah dia santai menjawab kalau itu normal, hanya perlu buka jendela untuk mengurangi asap. Lha kalau ini terjadi di Belanda, sudah pasti fire alarms berbunyi nyaring dan saya akan diinterogasi seluruh penghuni gedung.

Perkara bahasa  
Salah satu tantangan terbesar selama mengerjakan tesis di Brasil adalah bahasa. Jumlah orang yang bisa berbahasa Inggris sangat terbatas, bahkan di salah satu pusat tempat saya mengerjakan analisa kimia. Sempat senang juga kalau bekerja sendiri di laboratorium jadi semua instrumen serasa milik pribadi dan tidak perlu bernegosiasi untuk saling berganti menggunakannya. Suatu hari nan tenang, datanglah salah satu peneliti dengan serombongan anak SMA yang sedang melakukan praktek kerja di laboratorium. Peneliti itu mengatakan kalau saya harus memandu mereka serta menjelaskan segala tahapan analisa. Akhirnya, dengan terbata-bata saya menjelaskan langkah analisa nutris dalam Bahasa Portugis. Tanpa bantuan translator ataupun kamus, berhubung tidak memungkinkan untuk memegang smartphone selama di laboratorium. Pada kesempatan lain, saya menemui salah satu professor untuk memandu analisa yang jarang dilakukan. Menurut rekan di laboratorium, beliau fasih berbahasa Inggris. Eh, pertama kali bertemu saya langsung disambut dengan Bahasa Portugis. Menurut beliau, dia melihat saya sudah mulai fasih berbahasa Portugis jadi akan lebih baik untuk melanjutkan praktek bahasa asing. Memang benar, setelah hampir tiga minggu bekerja di sana saya tidak hanya belajar hard skill tentang ilmu nutrisi ternak namun juga soft skill yaitu Bahasa Portugis.

Kalau dipikir-pikir lagi, segala kecerobohan ini seringkali membuat saya merasa tidak pantas mendapat nama “Titis” yang berarti tepat dan cermat. Barangkali saya keberatan nama yang menurut mitos orang Jawa salah satu tandanya adalah bertindak kebalikan dari arti nama yang diharapkan. Pastinya, segala kesalahan yang rasanya mungkin terjadi kemudian membuat saya lebih berantisipasi.


Minggu, 17 Juli 2016

To The Land of Diamond

Centro do Lencois
 Almost forget about Chapada Diamantina until I remember a conversation with Jo, at The Spot, a cozy place where students in Wageningen University can take a sip of coffee, full their tummy during lunch, or even only sit and talk. The hall was almost empty that afternoon when we agreed to meet after lunch break. He excited to know where I would go exactly to do thesis. I gave a hint for him that might be away from The Netherlands for some months. Finally, I told him that I found interesting project in Brazil. He was excited to know the city where I would stay. Brazil is big country with diverse landscape. Jo also did his master thesis there. 

“Petrolina, the State of Pernambuco, it is located in northeast part of Brazil. I would spend next three months there Jo..”
He immediately grabbed a smartphone and searched the city on the map. It is near to Rio Sao Fransisco which is categorized as semi-arid region. 
“Titis, it is close to Bahia. If you could arrange then visit this national park….it’s a must!”
He pressed ‘zoom’ button and showed me the map.
“The name is Chapada Diamantina, literally Diamantina is diamond. It is very huge with old rocky mountain, very beautiful! Look, I also got the picture like these guy, exactly in the edge”

As I wished, three days off has been managed to travel when the experiment was almost done. I asked Jo for the detail about how his trip was. He connected me to Serena, a friend who lives nearby national park. All the information has been gathered. I spent long weekend to stay in Lençois with my labmate, a Brazilian girl named Artenia. I put two main attractions on the list to visit: Morro de Pai Inácio and Cachoeira da Fumaça. 
We arrived in Lençois on Saturday morning. The multi-color colonial building with mountain as its background welcomed me. I got a feeling that I would like that city. A room to stay has been booked in advance so we could put our backpacks in the hostel then took a walk to the river. We passed by water company and followed small path behind big villa. No sign board was placed along the way. Some of tourists prefer to go with guide. While Artenia and I sneaked behind a group of people to know where to go. 
Short trail to the waterfall crossed the river then hiked up through the rock. The path was sandy. It is formed by debris of the rock. Mixed colors of pink – purple – white – brown dominates the color of the sand. What a dazzle! Less than 30 minutes later, we reached bottom of cascade. Nobody was there, only the man who sells drink. I saw a track to go to upper part then I tried it. It was quiet as well. I met a couple who soaked in the spring. We continued to look into other waterfall with swift shower. Some people were quite dare to drench their body underneath the stream. 
Artenia and I stayed dry under the waterfall
One of my list was checked in the first day. We went to Morro de Pai Inácio! If we browse by search engine about Chapada Diamantina, then the picture of table mountain would appear firstly. This is the icon of national park. The best time to visit the hill is during sunset. The visitors do not need high skill of climbing, only walk around thirty minutes to reach the top. These facts always bring traffic jam on the trail everyday, right before sunset. I expected calm ambience to enjoy twilight. Indeed, people were busy taking pictures. Anyway, not all of the visitor realized that there was rainbow hanging perfectly in parabola as if a bridge between two hills.

Tried to capture panorama of rainbow
A drizzle poured when we arrived in city center. The hostel staff offered us if we need something. We had thought to cancel a tour to Fumaça Waterfall in the following day. In the end, we changed our mind because Eline, the lady of our hostel emphasized us to go even it was exhausting after first day.
“Maybe this is the only chance for you to come here, Titis! Well, Artenia could come back easily. It will be worth it when you reach there, trust me!”

Looked down!
She was right! Fortunately, the weary trail for two hours has been replaced by amazing view until we arrived in the top of the hill. It was hard during first half hour. The path ascended around 30 degrees. We stepped on pinkish rocks as natural stairs. In the distance, Morro de Tartaruga or Turtle Hills stood bold. The next trail was more relaxing. However, we trod on stones to jump over the puddle. Finally, we attempted the spot to see waterfall from above in the midday. Meal time came first before creeped to the edge of cliff. Slowly but sure, I witnessed the highest waterfall in Chapada Diamantina. I felt the wind swept my face. My adrenaline was in a rush. 
“Como posso chegar ao baixo?” - How to reach the bottom? I asked to our guide-
“Você pode fazer a trilha, durante tres dias” - You can do a trail during 3 days he answered-

The cloud was getting thicker so we decided to walk back. It was almost close to the gate when I heard a unique sound from one of the village below. Our guide said that it is an instrument for Capoeira. I automatically proposed to drop by there. He agreed, so we visited Vila do Capao, a small village but very touristic one. Sadly, the performance was over. We walked around two main streets there. I tried to contact Serena (Jo’s friend) but there is no networking there. People in Capao do not use cell phone. 
Last night of our stay in  Lençois, Artenia and I looked for a home of a craftsman who makes a bottle filled with colorful sands to paint the view of Chapada Diamantina. We were curious if he put colorant into the sand. Until we saw ourselves that all material is naturally taken from nearby. The difficulty of crafting increases for smaller bottle. I appreciated his talent in this way. 
A view of city in a bottle

A night in the city center

The weather was better that first day. To chill up our after-trekking-day, we ate acaraje, a traditional food from Bahia. It is cooked from beans and shrimps, served with spicy sauce. We had a lively evening in  Lençois, from hunting souvenirs in cultural market until enjoying performance of street musicians in Rua da Baderna where café and restaurants are concentrates. To find something original, we visited traditional market in the last morning before the departure to Petrolina. I bought a bucket of caja and umbu, an exotic fruits from Brazil which were difficult to find because it grows wildly.

Wrapping up this story, I would say that the view of city is amazing, the people are kind and helpful, the food is tasty and authentic (I tasted comida de brasileira: açai, tapioca, pao de queijo, carne de sol, etc.).

Valeu Lençois! Quero voltar no futuro

Rabu, 01 Juni 2016

CLBK Episode 5: Cari Ganti


Obat paling mujarab dari patah hati adalah ´´Cari Ganti´´. Ternyata saya masih penasaran dengan topik seputar modifikasi pakan untuk mitigasi emisi ternak. Di tahun kedua Master, ada satu kesempatan lagi untuk melakukan penelitian setelah internship yaitu tesis. Inilah yang lebih mendebarkan karena akan menentukan proses kelulusan. Setelah melalui pemikiran panjang, sampailah pada penentuan bahwa saya masih ingin berkecimpung di topik yang sama.
Berawal dari percakapan santai dengan kandidat PhD dari Jerman yang bekerja dengan saya di ILRI, dia menceritakan tentang risetnya di Brazil untuk tesisnya setahun lalu. Niat iseng bertanya apakah ada kesempatan untuk ikut riset di Brazil ternyata bersambut. Tanpa menunggu lama, saya pun dihubungkan dengan salah satu Professor di Brazil untuk mendiskusikan topik yang ingin diteliti lebih lanjut. Perkenalan demi perkenalan telah dijalani dengan mengalir. Akhirnya saya diterima oleh seorang Professor yang sedang menjalankan penelitian untuk evaluasi pengaruh tannin terhadap emisi metana pada domba.
Sejak email pertama dikirim bulan November tahun lalu, sampai dengan penandatanganan kontrak dan akhirnya saya di sini, bagian timur laut Brazil untuk memulai riset. Segala proses memakan waktu sekitar lima bulan. Persiapannya saja panjang, tidak mudah memahami segala rancangan eksperimen ketika hanya bisa membaca informasi di atas kertas. Ditambah drama tentang aplikasi visa Brazil yang terkenal rumit. Termasuk kepanikan saat segala kartu dari bank yang saya punya tidak bisa dipakai untuk membeli tiket penerbangan domestik dari Sao Paulo ke Petrolina. Syukurlah, semuanya berhasil dilewati.
Hari pertama setelah tiba adalah masa orientasi kampus, laboratorium, juga dosen dan mahasiswa yang akan berurusan langsung dengan eksperimen. Hari itu juga saya mulai mempraktekkan hasil belajar Bahasa Portugis melalui aplikasi. Kota tempat saya tinggal sekarang bernama Petrolina, negara bagian Pernambuco. Universitas yang tergolong masih muda baru berusia 10 tahun bernama Federal University of São Fransisco. Kota ini terletak di pinggir sungai São Fransisco dan berbatasan langsung dengan negara bagian Bahia. Sekilas melihat lanskap kota, bagian Brazil ini mirip seperti Afrika yang kering dan juga beriklim semi-arid atau dalam bahasa lokal disebut catinga. Tumbuhan perdu dan berduri menjadi teduhan utama bagi rumput liar yang kekuningan karena rindu hujan.
Daerah ini menjadi pusat peternakan kambing dan domba yang menjadi sumber protein hewani. Sistem pemeliharaannya pun semi intensif, ternak dibiarkan menggembala di padang catinga untuk memakan tumbuhan kaya akan bahan aktif seperti tannin. Inilah yang mendasari penelitian saya selama tiga bulan ke depan. Tujuan spesifiknya yaitu evaluasi tannin, senyawa aktif dari tanaman yang berpotensi mengurangi emisi metana dari domba. Dalam skala lebih besar, proyek yang didanai pemerintah Brazil ini juga bertujuan untuk mengeksplorasi potensi tanaman catinga sebagai bahan pakan ternak.
Di samping itu, Professor yang membimbing mahasiswa dalam laboratorium metabolisme tempat saya bekerja itu juga memiliki proyek untuk menguji limbah buah sebagai pakan ternak. Kenapa buah? Karena Petrolina adalah pusat perkebunan buah mulai dari mangga, pisang, anggur, jambu, markisa, papaya, juga kelapa diproduksi dalam skala besar. Kalau sedang di bus menuju kampus dari pusat kota, kanan-kiri jalan terlihat hamparan perkebunan buah yang menggiurkan berkualitas ekspor. Sayangnya, buah segar berkualitas premium justru tidak mudah ditemukan di pasar lokal.
Kembali saya merasakan sensasi jatuh cinta pada topik penelitian yang dikerjakan. Kota kecil ini juga begitu nyaman ditempati. Sebagai kota pelajar, saya malah merasa seperti sedang di Madiun, banyak jalan satu arah di pusat kotanya dengan pemandagan gedung tinggi sesekali. Pastinya saya semakin jatuh cinta ketika melihat buah-buahan tropis yang selama ini dirindukan. Selama seminggu awal perkenalan, banyak mahasiswa yang langsung akrab menyapa. Penduduk asli Petrolina pun ramah, meski Bahasa Portugis saya sangat parah namun ketika diminta untuk bicara pelan-pelan mereka dengan sabar menjelaskan. Tidak sulit beradaptasi di sana, hanya satu yang disayangkan yaitu sistem transportasi umum yang terbatas. Namun rasanya tidak menjadi masalah besar karena teman-teman satu laboratorium begitu tulus membantu.


Kamis, 31 Maret 2016

CLBK Episode 4: Patah Hati

Seri drama cerita penelitian di Kenya memasuki bagian akhir. Jeda antara episode sebelumnya dengan tulisan ini hampir dua bulan. Berhubung bukan sinetron kejar tanyang seperti di televisi, saya pun menunggu saat yang tepat untuk mampu menulis ceritanya lagi. Sebetulnya alasan utamanya adalah karena saya patah hati. Perlu waktu untuk menerima segala hal yang terjadi. Mungkin rasa optimis yang berlebihan membuat lupa realita, bahwa resiko terbesar dari sebuah penelitian dengan makhluk hidup sebagai objeknya adalah kematian. Itu yang harus tim kami hadapi saat memasuki periode ketiga.
Kilas balik usai konferensi di Praha, saya terbang kembali ke Nairobi. Cuaca hangat kembali menyentuh kulit. Esok paginya, saya bersemangat ke laboratorium, ada rasa kangen pada sapi-sapi itu. Setiba di sana, kandang sepi, hanya tersisa beberapa ekor. Marko, salah satu asisten peneliti keluar dari kantor setengah kaget melihat saya kembali. 
"Hi Titis, I thought that you went to Europe for good" kata Marko
"Nope, it was short visit for conference. I am coming to continue the internship." 
"It was stopped, don't you know?"
Langsung saya masuk kantor mencari tim penelitian lainnya. Pembimbing saya pun tidak muncul hari itu, juga hari berikutnya selama seminggu. Tersisa 5 ekor dari 12 sapi yang kami punya dari awal. Setelah dua ekor yang tadinya dinyatakan positif terserang Penyakit Mulut dan Kuku masuk kandang karantina, ILRI memutuskan untuk menyuntik mati sejumlah 7 ekor yang diindikasi terjangkit. Otomatis penelitian kami dihentikan. Kegiatan di laboratorium lumpuh. Para peneliti termasuk dua kandidat doktor yang bekerja untuk proyek ini terpukul berat. Mereka menganggap kalau saya sedikit lebih beruntung berhubung hanya magang di sana. Tetap saja, rasa kecewa itu tidak bisa dihibur dengan kondisi apapun. Terpaksa rasa penasaran yang saya bawa sejauh ini kembali harus dipendam.
Kronologis kejadian saya laporkan langsung pada pembimbing di Wageningen University. Beliau langsung cepat merespon tidak kalah panjangnya dari email yang saya tulis. Intinya adalah "Titis, bear on your mind that this is internship. The idea is learning the process. Things could happen, you know how to handle it in the future."
Ah, menenangkan sekali nasehatnya. Proses selanjutnya adalah proses penulisan laporan, ketika saya banyak mendapat masukan dari para pembimbing. Inilah juga proses di mana saya kembali belajar statistika, melihat data, mengakali agar dari apa yang ada bisa ditelisik lebih dalam. Banyak referensi yang perlu dibaca. Lalu saya putuskan untuk kembali ke Belanda pertengahan Januari untuk mencari suasana yang lebih kondusif selama menulis.
Saya tidak bisa mengatakan secara gamblang bahwa ada perbedaan pengaruh akibat perlakuan, Data yang terbatas, tidak banyak yang bisa saya ulas. Segala kalimat dalam bagian hasil selalu saya tulis lengkap bahwa itu adalah angka rata-rata. Perbedaan nilai rata-rata menunjukkan adanya potensi untuk terus diteliti. Berdasarkan hasil diskusi terakhir dengan peneliti ILRI, mereka berupaya agar eksperimen serupa bisa diulang tahun ini. Semoga jadi, saya dengan senang akan membaca publikasinya suatu saat nanti.
Sebulan kembali ke Wageningen, saya bertemu dengan salah satu kandidat PhD yang juga mengerjakan proyeknya di ILRI. Setelah mendengar semua cerita penelitian saya, diapun menanggapi jujur: "Sadly, it was not well performed. I actually am curious too about the result, since there is no data about livestock emission from cattle in Kenya.
Sepakat dengan pernyataan tersebut, saya semakin jadi penasaran. Laporan sudah diselesaikan. Usai presentasi dan evaluasi saya bersiap untuk eksperimen lainnya. Ini akan menjadi ganti dari rasa penasaran yang masih mengganjal hati. Saya merasa cerita di Kenya harus ditutup di sini dulu. 



Jumat, 15 Januari 2016

CLBK Episode 3 : Kembali Meneliti

Seumur hidup saya baru sekali terlibat dalam penelitian yang benar-benar merancang sampai menulis hasilnya sendiri yaitu ketika menyusun skripsi. Bagaimana kesannya? Seru! Banyak tantangan yang menyadarkan saya bahwa kesulitan selalu diiringi dengan kemudahan. Beruntungnya pembimbing skripsi waktu itu memberi kebebasan untuk berkreasi. Apalagi saya cukup ngotot dalam memilih objek penelitian yaitu kambing perah. Pengalaman itu juga meyakinkan diri kalau ternyata saya lebih tertarik pada eksperimen in vivo alias dengan memakai hewan uji, bukan alat super canggih di laboratorium. 
Setelah empat tahun berlalu dari masa skripsi, untuk topik internship pada tahun kedua studi S2 saya pun dibiarkan bebas memilih. Bedanya, sebagai anak magang sifatnya adalah mengikuti rencana proyek yang dirancang oleh institusi atau perusahaan sebagai ajang pembelajaran. Memilih proyek yang diikuti selama satu semester itu ibarat memilih masalah. Syukurlah, ketertarikan akan isu emisi dari ternak dan rasa rindu ingin lebih dekat dengan hewan terjawab oleh respon positif dari salah satu peneliti di International Livestock Research Institute (ILRI). Singkat cerita, ketertarikan topik sesuai dengan rancangan eksperimen yang dilakukan mulai tengah tahun 2015 lalu. Memang Tuhan itu Maha Tahu segala keinginan hamba-Nya. Ini barangkali yang namanya semesta mendukung, ketika keinginan dan kesempatan bertemu. Keberuntungan lainnya ketika mendaftar internship adalah saat itu saya hanya sekali mendaftar dan langsung diterima. Memang rasanya terlalu mulus jika dibandingkan dengan teman-temas satu jurusan lainnya. 
Desain eksperimen dan rincian protokol sudah saya terima menjelang keberangkatan menuju Nairobi. Semangat saya bertambah saat mengetahui hewan ujinya adalah sapi perah campuran Boran (jenis asli Kenya) dan Friesland (dari Belanda). Ternyata modal tinggal dekat peternakan serta praktikum beberapa mata kuliah bersama sapi-sapi Belanda tidak cukup untuk mengatasi hewan uji tersebut. Sebulan pertama, bersama tiga rekan tim penelitian lainnya disibukkan oleh pelajaran menangani ternak berdarah campuran itu. Temperamen mereka yang berasal dari padang gembala begitu agresif. Ditendang, diinjak, diseruduk, bahkan terkadang digigit sudah menjadi makanan sehari-hari. Perlahan dan pasti, setelah hewan itu mulai tahu bahwa kami mengurusnya dengan baik lalu mereka pun lebih menurut.
Ada tiga perlakuan yang diuji dalam eksperimen dengan tujuan mengukur manfaat pakan tambahan atau suplemen terhadap emisi ternak. Ketika saya melihat komposisi bahan pakan yang akan diuji, pertanyaan besar yang ada di kepala adalah kandungan nutrisi yang menurut kitab suci nutrisi ternak di bawah standar kecukupan. Pembimbing kemudian menjelaskan kalau penelitian kali ini memang dirancang sesuai kondisi di lapang. Beliau memberi nasehat kalau saya terbiasa dengan rancangan percobaan di Eropa memang segalanya sudah sesuai standar yang baik, lain halnya dengan Afrika. Benar juga, apalagi proyek ini merupakan yang pertama jadi harus ada unsur evaluasi untuk mewakili kondisi di peternakan umumnya.
Eksperimen sendiri dilakukan selama tiga periode dengan rancangan bujur sangkar latin. Saya tiba di Nairobi tepat ketika segala persiapan sudah matang. Hanya perlu seminggu bagi seluruh anggota tim untuk memahami segala isi laboratorium lalu kami siap bergerak. Alat uji emisi pun tergolong baru. Umurnya masih setahun sejak instalasi pertama dan belum pernah digunakan. Saya jadi ingat ketika presentasi rencana internship di depan koordinator dan mahasiswa se-program sebelum berangkat, mereka semua bertanya apa benar ada alat secanggih itu di Afrika? Nah, setelah melihat langsung saya bisa menjawab kalau alatnya baru diinstal dan menjadi yang pertama di benua ini!
Periode pertama selain masih sibuk berkenalan dengan hewan uji, tantangan lainnya adalah mengatur jadwal bersama tim sehingga protokol bisa dijalankan dengan lancar. Selama koleksi data dari hari ke hari selalu ada pembelajaran. Di sinilah saya merasa bahwa tidak ada yang sempurna. Selalu ada toleransi dan pengecualian meskipun segala antisipasi sudah dilakukan.
Memasuki periode kedua, kami merasa lebih kompak dalam tim karena pembagian tugas sudah jelas. Lebih senangnya lagi, data pun terlihat lenih menjanjikan dibandingkan periode pertama. Seluruh tim optimis segalanya akan berjalan lancar sampai akhir periode. Kami pun setuju bahwa sapi-sapi betina yang belum dikawinkan itu semakin mudah diajak bekerja sama. Proses adaptasi perlakuan, pengumpulan data, sampai perhitungan emisi di ruang gas berjalan lebih lancar. 
Selama itu pula saya juga belajar alasan di setiap perlakuan dan protokol yang dilakukan. Banyak jurnal mulai dibaca untuk menjawab segala temuan selama eksperimen. Biasanya hal-hal yang saya cari bersifat dasar dari ilmu nutrisi yang dipelajari hampir tujuh tahun lalu seperti:
1. Apa indikator ternak diberi makan ad libitum (tidak dibatasi)? Yaitu ketika sisa pakan berjumlah kurang lebih 5% dari ransum yang ditawarkan.
2. Kenapa memakai hay dari rumput boma dan jerami gandum sebagai pakan utama ternak? Apakah mewakili kondisi peternakan di Kenya? Jerami gandum umumnya diberikan oleh peternak, sedangkan hay digunakan dalam skala intensif untuk meningkatkan kandungan prtotein jerami.
3. Kenapa memakai suplemen molasses dan silase daun ubi? Tujuan utamanya kalau eksperimen berhasil menunjukkan pengaruh positif untuk menurunkan emisi, maka ini akan dikenalkan pada peternak untuk mitigasi emisi ternak
4, Bagaimana kalibrasi gas chamber dan seperti apa data emisi yang dihasilkan? Gas rumah kaca dihitung dari selisih konsentrasi gas di inlet dan outlet yang dicatat setiap sebelas menit. Data ini akan dikumpulkan untuk dinyatakan dalam satuan kg/hari

Eksperimen terus berlanjut sampai tidak terasa periode kedua telah berlalu. Jeda antara akhir periode dua dan periode tiga saya manfaatkan untuk mengikuti konferensi di Praha. Peneliti senior ILRI yang menjadi pembimbing penelitian saya memberi izin untuk liburan seminggu. Tinggal satu periode lagi, bagaimana hasilnya nanti?

Bersambung