Kamis, 12 Januari 2017

Menengok Desa Suku Maasai di Kenya

Tarian selamat datang oleh Suku Maasai
Kawanan ternak berjalan lambat sambil merumput di tepi jalan. Di belakangnya seorang penggembala memakai kain berwarna terang menggiring sambil membawa tongkat. Teman satu perjalanan menjelaskan kalau mereka adalah orang Maasai, suku asli yang mendiami wilayah Afrika Timur. Mobil jeep terus melaju melewati jalan berbatu ke Taman Nasional Maasai Mara di Narok County, bagian selatan Kenya. Selain safari, seperti tujuan kebanyakan turis yang berkunjung ke Afrika, saya mendapat bonus mampir ke desa Maasai, tempat tinggal Sang Pemandu.
Pengertian desa Suku Maasai bukanlah suatu wilayah tempat bermukim beberapa rumah tangga yang membentuk satu organisasi kemasyarakatan seperti pada umumnya di Indonesia. Desa bagi orang Maasai adalah area yang ditempati satu keluarga besar terdiri dari satu pria yang telah menikah dengan beberapa istri bersama anak-anaknya. Mereka juga tidak memberi nama pada desanya. Pria yang juga ayah pemandu safari itu menjabat sebagai kepala desa dan tentunya kepala keluarga dari sebelas istri.
Desa itu sudah didiami selama dua tahun. Mereka akan berpindah ke area lain setiap delapan atau sepuluh tahun sekali. Satu desa terdiri dari lapangan melingkar yang dikelilingi beberapa rumah untuk setiap istri dan anak-anaknya. Dinding rumah dibangun dari tanah liat yang melapisi kerangka kayu. Di sini para perempuan yang mengerjakan proses pembangunan. Rumah terdiri dari dapur dan ruang makan, dua kamar di mana salah satunya bisa dipakai untuk tamu, serta tempat untuk menyimpan anak ternak yang disapih dari induknya. Total luas bangunan saya kira kurang dari tiga meter persegi. Bertamu ke rumah mereka bagai masuk ke goa, gelap dan pengap karena hanya ada satu jendela di dapur. Mereka sengaja menutup rapat dindingnya untuk menghindari serangan binatang buas. Sumber penerangan di desa itu adalah api, listrik tidak tersedia di setiap rumah.
Salah satu istri sedang memasak chai, yaitu teh dengan campuran susu. Mereka minum chai setelah makan sebanyak dua kali sehari pada pagi dan sore. Tidak ada jadwal makan siang bagi suku Maasai. Makanan mewah mereka adalah campuran darah sapi dan susu yang direbus. Hidup berpindah membuat suku Maasai tidak mengenal budaya bertani. Sumber makanan mereka adalah tanaman yang ditemukan di sekitar desa dan ternak yang digembala. Sekali waktu, ternak dijual untuk membeli kebutuhan lainnya.
Bicara tentang ternak, setiap desa suku Maasai memiliki ratusan hewan terdiri dari sapi, kambing, dan domba. Selama siang hari, para pria pergi mencari padang gembala bagi ternaknya. Rombongan itu akan kembali sebelum hari berganti gelap kemudian ternak disimpan di halaman depan rumah desa. Seringkali para pria harus tinggal di sabana yang jauh dari desa untuk menggembala ternak selama beberapa hari. Ternak adalah simbol kebanggaan dan status sosial bagi suku Maasai. Memelihara ternak berarti menjaga kekayaan keluarga. Jumlah ternak ini juga penting untuk ditunjukkan ketika seorang pria ingin menikahi gadis Maasai. Ada sejumlah ternak yang harus dibayar saat proses meminang  sesuai dengan status sosial sang gadis.
Kunjungan sore itu diakhiri dengan melihat kegiatan para istri membuat kerajinan tangan untuk mendukung perekonomian keluarga. Mereka juga aktif dalam aktivitas keagamaan di gereja. Meski hidup nomaden, suku Maasai tidak melupakan aspek pendidikan untuk generasi mudanya. Tentunya setelah menikah mereka akan pindah dari desa dan memulai kehidupan bersama keluarga kecilnya.
Pada kesempatan lain ketika berkunjung ke Tanzania, saya dipandu lagi oleh orang Maasai. Saya diajak ke desa Maasai yang katanya terbesar di wilayah itu. Terang saja, sampai sana lebih banyak rumah berderet untuk 56 istri dan 137 anak. Sang Kepala Desa itu berusia hampir 50 tahun. Beliau belum memutuskan kapan akan pindah ke tempat lain karena sudah membangun gereja dan sekolah di area itu. Kini tidak semua orang Maasai masih hidup secara nomaden. Banyak dari mereka yang mengadopsi kehidupan menetap serta melihat pentingnya pendidikan. Para pemuda Maasai pun juga berpikir ulang untuk melakukan poligami seiring dengan tuntutan ekonomi.

Jalan raya antar kota di Tanzania dengan latar Gunung Meru

Rabu, 04 Januari 2017

Halo 2017


Setahun kemarin adalah petualangan, diawali oleh matahari terbit di puncak tertinggi gunung Kenya dan ditutup dengan turun gunung Argopuro, Indonesia. Dari satu bagian tropis ke lainnya, dan saya masih ingin terus menjelajah. 
Perayaan pergantian tahun selalu berbeda pada setiap kesempatan. Berada di tanah air, saya ingin menikmati liburan di rumah, karena sejak kuliah di Bogor waktu seperti ini sangat jarang dihabiskan dengan keluarga sendiri. Tahun ini di Ponorogo tidak terdengar hingar bingar kembang api dan panggung musik dari jantung kota. Ada yang mengatakan anggaran sudah habis untuk Grebeg Suro beberapa bulan sebelumnya. Beredar juga kabar kalau kota sepi perayaan karena Bapak Bupati sedang dirawat di rumah sakit. Apapun itu, saya pun tidak terlalu kecewa karena memang hanya ingin di rumah. 
Mari mulai tulisan ini dengan ungkapan syukur karena tahun 2016 begitu banyak kesempatan yang diberikan Allah melalui tangan-tangan tak terduga. Salah satunya adalah kesempatan menyeberang Samudera Atlantik (lagi) untuk melakukan penelitian tesis di Brazil. Banyak pelajaran berharga saya peroleh selama 3 bulan di negeri samba. Tentang kultur bekerja, tentang adaptasi dengan orang baru, bahkan secara tidak sengaja resolusi untuk bisa menambah kemampuan bahasa asing terwujud karena dipaksa belajar Bahasa Portugis. Obrigado Brasil, pela experiencia e as pessoas boas quem eu conheci! (Terima kasih Brazil, atas pengalaman dan orang-orang baik yang saya temui!)
Proses penyelesaian studi S2 memang selalu menjadi klimaks bagi setiap mahasiswa. Saya beruntung dibimbing oleh salah satu ilmuwan terkenal dan ahli di bidangnya. Walaupun belum maksimal dalam menulis, namun pembimbing saya dengan terbuka mengoreksi segala kesalahan. Sebuah proses berharga karena selanjutnya saya putuskan untuk melanjutkan studi ke jenjang S3. Ini keputusan penting yang diambil sesudah berdiskusi dengan orang-orang terdekat juga sholat istikharah tentunya. Allah Maha Mendengar, jadi hati-hati akan apa yang kita pikirkan biarpun selintas ternyata bisa langsung diberikan lho!
Pulang ke Indonesia, hiking mate terhandal: Dimas mengajak naik gunung lagi. Tujuan kali ini adalah Gunung Argopuro dengan jalur terpanjang se-pulau Jawa. Ini sebagai obat kangen akan sensasi mendaki di nusantara. Seperti yang Dimas tulis dalam kartu posnya ketika masih di Dubai, akhirnya keinginan untuk naik gunung bersama terwujud sepulang saya studi. Bersama dua pasukan lain: Dodi dan Fara, kami menghabiskan waktu selama 5 hari 4 malam di antara belantara. Bahagia!
Tahun 2017 dibuka oleh silaturahmi menjelang satu dekade setelah lulus masa putih abu-abu. Hari pertama saya berkumpul bersama teman-teman pecinta alam (GEMPITA). Rumah Ucup berhasil kami acak-acak bersama Tulad, Puji, Afa, Bhirawa yang mengajak istri dan anaknya. Sore itu kami napak tilas tempat diklat di Grape, Madiun. Sempat dzalim juga dengan Ucup dan keluarganya yang belum makan karena menanti kehadiran tamu. Rencana untuk makan siang geser menjadi makan malam bersama. Hari kedua, saya ganti bercengkerama dengan Tegar dan Agil, sahabat sekelas. Kalau sudah ngobrol dengan mereka, topik berat seputar isu ekonomi sosial politik berubah menjadi kocak!
Napak Tilas di Grape

Makan malam bersama sedulur GEMPITA
Hari ketiga, saya sudah meluncur ke Bandung untuk bersiap menuntaskan kewajiban. Setiba di sana, sebuah janji Skype Meeting bersama Rahyang telah disepakati. Ini adalah salah satu langkah untuk mewujudkan misi IAAS Indonesia dalam jangka panjang. Ines, National Director aktif menemui saya di sebuah cafe karena kami sama-sama sedang di Bandung. Kembali bernostalgia selama masa bersama di organisasi lima tahun lalu. Seringkali online meeting menjadi ajang yang ditunggu untuk berdiskusi ataupun sekedar bertukar kabar ringan dengan rekan se-organisasi dari berbagai belahan dunia. Maka, misi untuk IAAS Indonesia ini juga akan menjadi salah satu resolusi 2017.
Semoga tahun ini bisa lebih konsisten dan disiplin dalam menjalankan rencana yang telah ditulis. Ya Allah, mampukan hamba!

Bandung, 4 Januari 2017

Sabtu, 31 Desember 2016

40K Trail of Mount Argopuro



To whom it may concern about trekking guideline to reach the top of Mount Argopuro in East Java, Indonesia,
You would rather read another blog because this post contains the story of four hiking mates (Me, Dimas, Dodi, and Fara) who were careless about all the daily target and timetable. Walking through the longest hiking trek in Java, hereby I resumed the moment that we passed daily.
Day 1.
Long road from Surabaya to Probolinggo by public bus with Dangdut music as a back sound, I felt so familiar! We used motor taxi to Baderan village, the gate of trekking to Mount Argopuro. As suggested by staff of base camp, we took another motor taxi to reach Post 1. We were drenched by rain. Highly skilled rider brought us up hill via stony path. Rarely, I saw normal motorbike in this highland. Most of the vehicles are modified for challenging road. At least, the tire is surrounded by chain to avoid slip. An off road sensation appeared before we started to hike.
The mist welcomed us in Post 1
First day plan was building camp in Mata Air 1. We walked on water stream in misty afternoon. Another group of people was overtaken by us. We praised the moment of meeting people because it could be sparse in that area. Another heavy rain caught us up. We decided to camp because Fara did not find headlamp in her backpack. If other asked where exactly our camp was, we would hardly describe it. 
Passing ditch
Day 2.
Storm shall pass. A bright day showed up after wet night. We started trekking enthusiastically. We did not set target to reach. It was ascending through the ditch and sloppy trek. Fortunately, the weather was very supportive. The sun almost set when we were excited to see vast savannah. We stopped by and built the tent. Day was getting dark. While we prepared dinner, a group of people seemed to arrive. Suddenly we had neighbor who joined our camp. As predicted, it was colder night due to the altitude. If only windy night would freeze us. Luckily it did not happen. It was a mistake when we chose to rest our head in lower position than our feet. Four of us got up at 2 a.m. So we moved over the position to sleep better. 
Sunny breakfast in savannah
Day 3.
Sunny morning, we packed our stuff and had fancy breakfast. Fara cooked soup. She was our master chef. Even fancier, we bought army provision in various flavors. There were also instant drink, biscuit, and snack bar in one pack. Dimas ordered it via online shop. By the time we reduced our meal stock, the trash bag became bulky. I was responsible to carry it. Who guess it would cause a drama just to wrap it on my backpack. Of course, the image of my back was not photogenic anymore!
We spent tranquil lunch in Cikasur. Another savannah view which is popular as land of wildlife. Some people are destined to see peacock (even more puma) around there. Cikasur is also famous as a spot of water lettuce. People said that we are not officially in Cikasur without eating its lettuce. Anyway, without picking any, I tasted lettuce salad with peanut sauce from our neighbor in the previous day. We desired to reach Rawa Embik by the dark. That was optimistic target since none of us had experience about the trek. In fact, we gave up until Cisentor a camping ground above water stream before Rawa Embik. Unexpectedly, the path down hill to Cisentor was a deadly one. We were so grateful to make it before dark.
Cikasur: water body and lettuce
Lunch under the trunk
Day 4.
Although from the blog that we referred was written that it only takes one hour to Rawa Embik from Cisentor, we turned up after two hours. I was keen to greet Edelweis (the eternal flower). Rawa Embik is a  junction of the trek to the top of Mount Argopuro. We insisted to follow a sign board to the left. Meanwhile, other groups picked a path to the right. We were getting closer to the peaks. Three of those are: Puncak Rengganis, Puncak Argopuro, and Puncak Arca. Every hiker shall pass all of the peaks respectively to come down via Bermi village.
Savannah Lonceng is a point where we could put off our big backpack and climbed to Puncak Rengganis. Firstly, we had lunch to refill our energy. A number of pine trees reserved shady shelter. I unpacked hammock and tied the rope over the big stem. Dimas took over the hanging space quickly with warm meal on his hand. He convinced me to sit with him. I had tried to occupy the hammock for two people so I felt secure to jump in. Then we dropped on the ground after five second. Dodi was busy with his lunch, but Fara did not want to lose the moment so she readily captured with her camera. We roared with laughter. In the meantime, Dimas was laying still and I exerted to stand up. I could feel the pain on my right butt. Thank God it did not seriously injure Dimas and I. 
Hanging in Savannah Lonceng
We resisted the cold breeze in the peaks. Puncak Rengganis is the most popular among others. We walked through limestone plateau. White rock mounted the hill. The day was bright. Real peak of Mount Argopuro was located in 3088 meter above sea level. Pines encircle this spot, never unwind. Twilight has emerged when we left Puncak Arca. Together with the mist, an orange light burst in the sky. We witnessed the moment of sunset above the cloud. The view was miraculous. Only God who could paint it. 
Limestone Plateau
We made it!
3088 a.s.l
In the darkness, we descended through Puncak Arca and headed to Taman Hidup, a lake nearby Bermi village. This trip taught us to be realistic. After three hours trekking, we agreed to camp somewhere in the forest. We were hungry but too lame to cook. The night was closed by a warm beverage. We fell asleep right afterward. 
Mesmerizing twilight
Day 5
We were caught by daylight. There was only less than one liter of fresh water to reach next place: Taman Hidup. Gladly, we found water stream after reach last hill that is called Cemoro Limo. It was supposed to be dormant river. The view after open vegetation became monotonous. Big and old tree welcomed us into moss forest. Anyway, the path was sloping thus we did not complain. In the midday, we arrived in Taman Hidup. Although we missed morning view, the foggy lake with hilly background still attracted our sight. Some local people were fishing in the other side of the lake. We owned the tiny and nearly collapsed shed. Yet, it was good spot to take some pictures. 
Taman Hidup Lake
After recharging ourselves with lunch, the downhill trekking was carried on. We couldn’t imagine if we came by opposite trek. The view from Bermi was tiresome. We met some groups who started trekking all the way uphill. Every time we asked the estimation time to reach Bermi, their answer was demotivating. Until Dodi mentioned that we might be closer to base camp after we got in damar forest. We met two beetle hunters when we enjoyed another sunset before passing by vegetable farm. Under the dim light, we recognized plenty of fireflies. We have talked about this shiny bugs on previous night. God really hears what I wished! The view was a rejoice. We spent one night in base camp. Pak Arifin opened the door and invited us to have a rest there. As a supper, we treated ourselves with bakso (a meatball soup) as reward after accomplished the mission.  
 
Damar Forest
Day 6
Surprisingly, we started the day earlier. Our backpack was lighter. Other people who would start to hike arrived in base camp. We were about to leave for breakfast when Dodi reminded me to pack my shoes. Thought that I already put it inside my backpack until I realized that I took the wrong shoes! Oops..
Bermi is village packed by dairy farmer. They collect fresh milk to Argopuro coop and deliver it for PT. Nestle Indonesia. I had short talk with Pak Arifin about dairy farm there. We dropped by the shop as business unit of coop that sells fresh milk. I said farewell to Pak Arifin, he warmly said that he would be happy to wait me come again and work on something for dairy farmer. I would love to do that!     
Fresh milk from Argopuro Coop

Jumat, 25 November 2016

CLBK Episode 7: Pulang

Selama tahun kedua masa studi S2, banyak sekali pertanyaan terlintas di kepala yang sulit saya jawab. Di antaranya adalah "mau apa setelah lulus?"
Sebuah buku bersampul merah pucat saya ambil dari rak. Lembaran kosong kertas buram mulai penuh coretan lengkap dengan anak panah berjudul "Plan A", "Plan B", dan seterusnya. Tidak ada prioritas dalam penamaan mind mapping tersebut karena saat itu saya terbuka pada berbagai kemungkinan. Singkatnya, pilihan yang tertulis dalam buku tersebut antara lain keinginan lanjut studi ke jenjang S3 atau bekerja di industri pakan bagian on farm research. Semuanya ditulis dengan keterangan bidang yang ingin ditekuni berkata kunci: ternak perah, ruminansia, susu, hijauan. Opsi pertama sebetulnya ditulis dengan penuh ketidak-percayaan diri hanya modal masih suka riset. Opsi kedua masih terkait dengan bidang riset namun untuk komersialisasi. Keduanya sama-sama kompetitif untuk didapatkan. Selanjutnya, saya masih punya opsi lain yang terlalu panjang jika diceritakan di sini. 
Sampai akhirnya ksempatan itu datang dari arah yang tak terduga yaitu melalui keajaiban silaturahmi. Sore hari waktu bagian Brazil artinya dini hari di Indonesia ketika saya menulis sebuah email, menanyakan kabar dosen pembimbing S1 yang kabarnya masuk rumah sakit beberapa bulan lalu. Email tersebut direspon cepat. Saya sudah hafal kebiasaan beliau yang responsif jika dihubungi pada pagi hari. Siapa sangka balasan pesan singkat tersebut disertai dengan sebuah tawaran untuk bergabung sebagai PhD Candidate dalam sebuah proyek kerja sama antara Indonesia - Belanda di bidang sapi perah. Adrenalin saya meningkat seketika. Selama dua malam saya tidak bisa tidur nyenyak!
Proyek tersebut berkutat dengan aspek keberlanjutan dari peternakan sapi perah di Indonesia. Ada dua posisi doktoral yang dibuka yaitu riset di bidang manajemen kotoran hewan dan pakan. Tujuan utamanya adalah mengurangi emisi per kilogram susu yang dihasilkan serta meningkatkan keuntungan peternakan. Skenario kasarnya adalah menurunkan biaya pakan yang selama ini menyita 70% dari seluruh biaya produksi dan menambah pemasukan bagi peternak dengan memanfaatkan kotoran hewan sebagai pupuk baik bagi lahan mereka sendiri maupun untuk dijual. Gambaran proyek yang berlangsung sampai 2019 itu bagai perwujudan mimpi saya selama ini. Siapa sangka model penelitian lapang seperti ini akan segera ada di Indonesia.
It was smoothly odd! Begitu ada tawaran, semua berawal lancar. Kalau mendengar cerita teman-teman yang ingin lanjut studi ke jenjang S3, saya sangat bersyukur bisa dijodohkan dengan kesempatan itu. Saya bertanya kepada beberapa orang terdekat sebelum mengambil keputusan yang akan mengubah hidup setidaknya empat tahun ke depan. Segala rasa tidak percaya diri, ragu, takut, kalah oleh semangat untuk belajar. (P. S. terima kasih pada orang terdekat yang mendengarkan segala curahan hati serta mendukung niat untuk lanjut studi! Maaf saya tidak bisa menyebutkan namanya satu-persatu).
Tepat sepuluh hari setelah evaluasi tesis dan dinyatakan lulus, saya pulang. Segala urusan harus diselesaikan secepat kilat. Satu tujuan utama dalam perjalanan dari Amsterdam ke Jakarta kali ini yaitu mengikuti kickoff meeting dari proyek yang akan dimulai akhir tahun 2016. Selama dua bulan terakhir sejak kembali ke tanah air, rumah di Ponorogo hanya menjadi tempat singgah. Tim Survei sudah memulai kerja mereka untuk mengumpulkan data mengenai kondisi lapang. Karena ini pengalaman pertama saya studi di lapang, jadi wajib hukumnya untuk tahu medan. Jadilah saya bolak-balik Bandung-Bogor dan terkadang Jakarta lalu Ponorogo untuk belajar. Di Bandung, saya ikut Tim Survei melihat peternakan. Di Bogor, saya bertemu dosen-dosen di kampus almamater untuk berdiskusi banyak. 
Secara umum, isu pakan yang saya catat antara lain:
- Ketersediaan bahan pakan yang dipengaruhi oleh musim
- Kekurangan lahan hijauan di sekitar peternakan
- Formulasi ransum yang tidak sesuai kebutuhan ternak. Penelitian senior dari Fakultas Peternakan IPB tahun lalu menemukan bahwa sapi perah diberi pakan berlebihan demi menjaga produksi susu
- Kualitas konsentrat yang dipakai peternak
- Suplai air minum untuk sapi perah kurang terpenuhi

Sesungguhnya, masalah tersebut sudah dibahas sejak dulu. Kompleks dan klise, begitulah kira-kira. Dalam riset kali ini, Tim dari Wageningen University akan melakukan pendekatan sistem untuk mengurai benang kusut tersebut sehingga bisa menentukan intervensi yang tepat untuk mengatasi masalah. Selain di Lembang, proyek yang bertema hampir sama juga sudah pernah dijalankan di Garut dan Kuningan. Saya juga sempat ikut pengenalan bahan pakan ternak di Garut kepada para peternak juga sosialisasi nutrisi sapi perah. Sehari itu menjadi ajang diskusi menarik. Dari perbincangan dengan peternak, saya menampung segala isu yang terjadi di lapang. Semakin hari, saya semakin yakin kalau bergabung dalam proyek ini adalah pilihan tepat. Semoga Tuhan memampukan usaha saya...amiin. 


Selasa, 08 November 2016

Belajar Bahasa

"Dulunya, saya percaya kalau kita bisa menguasai suatu bahasa karena terbiasa. Pengalaman tahun ini menambah kepercayaan saya tentang belajar bahasa yaitu bisa karena terpaksa."
Mari kita terlebih dulu meruntut bagaimana awal mula saya belajar bahasa. Ini adalah tulisan seorang amatir yang suka dengan cabang ilmu linguistik, bukan seorang polyglot ataupun ahli tata bahasa. Terlahir di Ponorogo, Jawa Timur dari seorang Ibu berdarah Jawa maka bahasa pertama saya adalah Jawa. Memasuki usia sekolah, Bahasa Indonesia saya gunakan secara resmi dalam kehidupan sehari-hari. Sejak mendapatkan mata pelajaran Bahasa Inggris, saya bersemangat mempelajarinya. Ini juga didukung oleh faktor guru-guru asyik selama duduk di bangku sekolah. Selain tiga bahasa tersebut, berikut beberapa kelas bahasa yang pernah saya ikuti baik formal maupun informal:
1. Bahasa Mandarin - sebagai pelajaran tambahan di kelas X, SMAN 3 Madiun.
2. Bahasa Korea - bonus selama latihan Tae Kwon Do sejak SMP dan ketika memandu pelajar Korea Selatan yang datang ke kampus.
3. Bahasa Jerman - iseng ikut kursus tambahan untuk tingkat dasar di pusat bahasa kampus Institut Pertanian Bogor.
4. Bahasa Ceko - mata kuliah gratis saat pertukaran pelajar ke Praha, Republik Ceko.
5. Bahasa Spanyol - diajari oleh teman asal negeri matador yang menjadi partner di kelas Bahasa Ceko.
6. Bahasa Denmark - fasilitas gratis dari pemerintah Denmark bagi warga negara asing yang tinggal di sana. 

Dari keenam bahasa asing di atas, barangkali hanya 1% yang masih menempel di otak, sebatas kata sapaan dan angka. Saya menyimpulkan bahwa kemampuan bahasa asing tidak bertambah adalah karena tidak dipraktekkan. Jujur waktu kecil dulu saat masih terbesit cita-cita menjadi polisi, saya ingin menjadi agen rahasia seperti Agent Bourne yang bisa berbagai macam bahasa. Saya semakin kagum kalau bertemu teman-teman polyglot, seolah di lidahnya ada tombol subtitle yang siap berganti kata. 
Sebuah artikel membahas berapa banyak bahasa yang mampu seseorang pelajari. Berdasarkan catatan sejarah, beberapa orang tercatat mampu lancar berbicara sebanyak 11 sampai 16 bahasa. Luar biasaaa! Ini juga yang pernah diungkapkan oleh Trinity seorang travel writer yang mengaku ingin menguasai seluruh bahasa di dunia apabila diberi kesempatan untuk memilih kekuatan tertentu bak superhero.
Kesempatan untuk mengunjungi dan tinggal di beberapa negara asing tidak lantas membuat saya bisa belajar bahasa. Diri ini sempat berdalih kalau saja saya tinggal di suatu negara lebih lama, mungkin bisa belajar bahasa lebih baik. Namun opini pribadi tersebut dipatahkan tahun ini, ketika saya berangkat ke Brazil untuk melakukan penelitian tesis. Sejak awal, para pembimbing sudah menyarankan agar belajar Bahasa Portugis. Saya pun mengunduh aplikasi belajar bahasa yaitu Duolingo sebulan sebelumnya. Setiap hari, si aplikasi selalu memberi notifikasi untuk praktek Bahasa Portugis. Perlahan saya mulai familiar dengan kata-kata dalam Bahasa Portugis. 
Hari pertama mendarat di Brazil, saya masih ingat ketika transit di bandara Salvador dan bingung karena tidak ada seorangpun yang bisa ditanya dalam Bahasa Inggris. Kemudian saya mendatangi kantor agen perjalanan untuk bertanya namun malah ditanya balik apakah saya bisa Bahasa Spanyol. Frustasi adalah kata yang menggambarkan seminggu pertama tinggal di Brazil. Siapa sangka, seiring berjalannya waktu situasi yang memaksa itu membuat saya bisa berkomunikasi lancar dengan teman-teman berbahasa ibu Portugis dalam waktu 2.5 bulan. Ternyata, pengalaman belajar bahasa Spanyol mempermudah pemahaman saya terhadap Bahasa Portugis karena tata bahasanya yang mirip. Tiap hari, saya berusaha mengajak bicara teman-teman di rumah maupun kampus dalam bahasa mereka. Niat awal pembimbing saya agar mahasiswa di sana juga mempraktekkan Bahasa Inggris malah belum terlaksana. 
Usai meninggalkan negeri samba, saya masih bertukar kabar dengan teman-teman di Brazil melalui media sosial. Saya juga sempat membeli buku dan majalah ketika mampir di Sao Paulo. Hingga kini saya kembali ke Indonesia, saya masih berlatih dengan Duolingo setiap hari. Kalau semua lancar, saya ingin belajar Bahasa Spanyol lagi. Bahasa Arab, Mandarin, Russia, termasuk bahasa isyarat saya masukkan ke dalam daftar resolusi untuk dipelajari beberapa tahun ke depan. Semoga ada lagi kesempatan untuk dipaksa sampai bisa.